Facebook hapus miliaran akun palsu dan konten terkait terorisme
Elshinta
Senin, 09 Desember 2019 - 19:16 WIB |
Facebook hapus miliaran akun palsu dan konten terkait terorisme
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2P2s9r4

Elshinta.com - Facebook telah menghapus sebanyak 2,2 miliar akun palsu pada kuartal pertama tahun ini, serta 26 juta konten yang berkaitan dengan terorisme dalam dua tahun terakhir.

Demikian diungkapkan Dan Neary selaku Wakil Presiden Facebook wilayah Asia Pasifik dalam acara Facebook APAC Press Day di Singapura, Senin (9/12).

"Kami memiliki tim yang terdiri dari 35.000 orang yang bekerja pada isu-isu tersebut," ujarnya, seperti dikutip Antara.

Selain itu, Facebook juga mengembangkan kecerdasan buatan atau artificial intelegent (AI) dan mesin pembelajaran yang mampu melakukan tinjauan terhadap akun-akun palsu dan konten terkait terorisme dengan akurasi 98 persen.

Dan Neary juga mengatakan bahwa ke depannya Facebook akan terus memperluas jangkauan pengawasan, terutama untuk menyasar konten-konten yang mengandung ujaran kebencian.

Facebook juga bekerja sama dengan pihak ketiga independen di lebih dari 60 negara dengan mencakup lebih dari 40 bahasa untuk menjangkau konten yang berpotensi mengandung informasi kurang tepat. "Kami juga bekerja sama dengan lembaga pengecekan fakta pihak ketiga di kawasan Asia-Pasifik, berharap konten pada platform tersebut dapat tetap otentik dan kredibel," imbuhnya.

Dia menambahkan bahwa Facebook juga telah berusaha untuk membantu menjaga integritas dalam setiap pemilahan umum di beberapa negara agar dapat berlangsung secara demokratis.

"Tahun ini, tujuh pemilihan umum diadakan di wilayah Asia-Pasifik. Kami sebelumnya telah memblokir dan menghapus sejumlah besar akun palsu dan menjadikan sumber iklan politik pada platform lebih transparan," pungkas Dan Neary. (Anj)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pejabat PBB dilarang pakai WhatsApp sejak tahun lalu
Jumat, 24 Januari 2020 - 11:38 WIB
Para pejabat PBB dilarang menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi karena `tidak didukung sebagai me...
Google kembangkan aplikasi penangkal kecanduan smartphone  
Kamis, 23 Januari 2020 - 14:27 WIB
Google dikabarkan baru saja meluncurkan tiga aplikasi eksperimen sebagai bagian dari Digital Wellbei...
Facebook rilis tema gelap di Android ke lebih banyak pengguna
Kamis, 23 Januari 2020 - 11:50 WIB
Setelah meluncurkan tema gelap untuk aplikasi Messenger dan laman Facebook kini mulai merilis uji co...
WhatsApp mode gelap baru tersedia untuk pengguna beta
Rabu, 22 Januari 2020 - 11:45 WIB
WhatsApp akhirnya menambahkan mode gelap pada aplikasinya pada platform Android. Namun, fitur terseb...
Instagram hapus tombol IGTV di beranda 
Senin, 20 Januari 2020 - 17:25 WIB
Setelah Instagram meluncurkan IGTV pada tahun 2018 lalu, kini Instagram menghapus tombol IGTV yang m...
WhatsApp akan punya fitur stiker animasi
Senin, 20 Januari 2020 - 10:37 WIB
Aplikasi berkirim pesan WhatsApp akan memiliki fitur baru berupa stike animasi, dilihat dari aplikas...
Yahoo luncurkan mesin pencari yang fokus pada privasi
Minggu, 19 Januari 2020 - 12:17 WIB
Verizon baru-baru ini merilis mesin pencari Yahoo OneSearch baru yang ditenagai oleh Microsoft Bing,...
Instagram resmi akan buat DM lewat web
Sabtu, 18 Januari 2020 - 13:59 WIB
Instagram mengumumkan sedang mengembangkan fitur baru agar pengguna bisa mengirim pesan pribadi alia...
Facebook batal pasang iklan di WhatsApp
Jumat, 17 Januari 2020 - 14:36 WIB
Facebook Inc membatalkan rencana untuk memasang iklan di aplikasi berbagi pesan secara cuma-cuma Wha...
Instagram tambah efek Boomerang mirip TikTok
Minggu, 12 Januari 2020 - 21:32 WIB
Media sosial milik Facebook, Instagram, menambah efek Boomerang mirip filter yang disediakan TikTok ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV