Kata pakar, ini cara sederhana cegah ular masuki lingkungan rumah 
Elshinta
Selasa, 17 Desember 2019 - 06:59 WIB |
Kata pakar, ini cara sederhana cegah ular masuki lingkungan rumah 
Ular kobra diamankan di dalam botol, temuan pihak keamanan apartemen di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (14/12/2019). Sumber foto: https://bit.ly/34nfL9q

Elshinta.com - Warga di beberapa daerah saat ini tengah diresahkan dengan kemunculan belasan hingga puluhan kobra di sekitar permukiman. Sebagai langkah antisipasi, pakar reptil, Dr Amir Hamidy mengungkapkan beberapa cara untuk mencegah agar ular kobra tidak memasuki lingkungan rumah. 

Disebutkan, pencegahan itu termasuk dengan cara sederhana, yaitu dengan rajin membersihkan rumah dan mengepel lantai.

"Pencegahannya adalah buat rumah setidak nyaman mungkin untuk ular. Yang harus dilakukan pertama yaitu rajin dipel, setiap pagi harus dipel, karena pembersih lantai itu ada wangi menyengat yang sangat tidak disukai oleh ular. Kapur barus juga tidak disukai oleh ular," kata peneliti herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu ketika dihubungi di Jakarta, beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Antara.

Tindakan pencegahan kedua, lanjut Amir, adalah harus menyingkirkan barang-barang tidak digunakan lagi yang membentuk tumpukan-tumpukan, seperti tumpukan kardus, kertas, batu dan genting, yang berada di sekitar rumah. Hal ini karena tumpukan-tumpukan tersebut merupakan habitat yang disukai oleh ular untuk meletakkan telur-telurnya.

Langkah ketiga yang bisa diambil untuk mencegah ular menjadikan rumah sebagai habitatnya adalah menyingkirkan sisa makanan yang ada di dapur setiap harinya. Hal itu perlu dilakukan karena sampah organik yang menumpuk akan mengundang tikus yang merupakan mangsa alami bagi ular kobra.

Menurut Amir, tindakan pencegahan tersebut perlu dilakukan karena kobra, yang bisa tinggal di habitat yang dekat dengan aktivitas manusia, adalah jenis ular berbisa yang dapat membahayakan bagi manusia.

Selain itu, kata doktor dari Universitas Kyoto di Jepang tersebut, ular kobra adalah jenis ular yang bisa menelurkan 10 sampai 20 telur dengan siklus penetasan 2-4 bulan.

Amir mengatakan, kemunculan ular kobra di beberapa tempat di Indonesia yang menghebohkan masyarakat, bukanlah hal mengejutkan karena musim hujan merupakan waktu anakan ular menetas dan merupakan siklus tahunan.

Jadi wajar, kata Amir, jika populasi ular kobra meningkat saat musim hujan karena telur ular memerlukan suhu yang lembab untuk menetas dan jika suhu panas, telur akan mengering.

Hal itu diperparah karena di daerah dekat kemunculan kobra di dekat permukiman sudah tidak terdapat predator alami ular yang bisa membantu mengurangi populasinya.

"Dulu predator alaminya itu seperti elang yang merupakan predator alami ular. Kobra itu dimakan sama dia. Tapi kan hewan-hewan itu sudah kita tembak, buru," kata Amir Hamidy.

Sebelumnya, beberapa daerah dikejutkan dengan kemunculan belasan hingga puluhan kobra yang berada di sekitar permukiman warga. Kejadian itu terjadi di Jember, Jawa Timur, Cakung di DKI Jakarta dan Citayam di Jawa Barat. (Der) 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Prajurit Yonif 8 Marinir gotong royong di Alur Dua Baru
Jumat, 14 Februari 2020 - 18:45 WIB
Batalyon Infanteri (Yonif) 8 Marinir/Tangkahan Lagan, melaksanakan Pembinaan Desa Pesisir (Bindesir)...
BNPB minta Polri tak ragu tindak tegas para perusak lingkungan
Kamis, 13 Februari 2020 - 10:49 WIB
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo meminta pihak Kepolisian agar tida...
Dansektor 21 Citarum Harum, dukung kegiatan penghijauan PWI Kota Bandung
Senin, 10 Februari 2020 - 17:15 WIB
Dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2020, PWI Kota Bandung berencana menggelar kegiatan penghijaua...
Cuaca panas picu karhutla di Pulau Ambon
Sabtu, 08 Februari 2020 - 14:59 WIB
Cuaca panas dengan suhu yang mencapai lebih dari 32 derajat celsius telah mengakibatkan hutan mudah ...
Kader PDI Perjuangan Sumut diajak tanam pohon cintai bumi
Jumat, 07 Februari 2020 - 19:25 WIB
Seluruh kader PDI Perjuangan Sumatera Utara diminta dan diajak untuk terlibat aktif dalam kegiatan m...
Curah hujan tinggi, Yonif 8 Marinir/Tangkahan Lagan gelar aksi bersih lingkungan
Jumat, 07 Februari 2020 - 14:57 WIB
Curah hujan tinggi Batalyin Infanteri 8 Marinir/ Tangkahan Lagan menggelar kegiatan bersih-bersih li...
Petugas BPBD cek lokasi kemunculan buaya di Sungai Brantas
Rabu, 05 Februari 2020 - 12:19 WIB
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, Jawa Timur, mengecek lokasi kemuncul...
Lestarikan alam, ribuan warga ikuti `Merbabu Nandur 2020`
Senin, 03 Februari 2020 - 17:16 WIB
Ribuan masyarakat terdiri dari relawan, pelajar, TNI, Polri dan unsur lainnya, penuh antusias mengik...
DPD prioritaskan UU pengelolaan sampah
Selasa, 28 Januari 2020 - 18:36 WIB
Sampah adalah hal yang tidak pernah jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Hal ini juga terjadi di ko...
Pohon kayu Tengsek dicoba dikembangkan di lereng gunung Merapi
Minggu, 26 Januari 2020 - 14:19 WIB
Pohon kayu Tengsek yang diyakini bertuah, kini dicoba dikembangkan di lereng gunung Merapi Kabupaten...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)