Profil Albertina Ho, Srikandi Hukum yang menjadi Dewan Pengawas KPK
Elshinta
Senin, 23 Desember 2019 - 12:18 WIB | Penulis : Ervina Rias Palupi | Editor : Administrator
Profil Albertina Ho, Srikandi Hukum yang menjadi Dewan Pengawas KPK
Ilustrasi. Sumber foto:https://bit.ly/2Zg03fn

Elshinta.com Dewan pengawas yang terdiri dari lima orang merupakan struktur baru di KPK. Keberadaan dewan pengawas diatur dalam UU KPK hasil revisi, yakni UU 19 Tahun 2019. Ketua dan anggota dewan pengawas dipilih oleh Presiden melalui panitia seleksi. Salah satu nama yang terpilih adalah Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Kupang, Albertina Ho. 

Sebelumnya Presiden Joko Widodo menyebut calon dewan pengawas akan berasal dari beragam latar belakang profesi mulai dari hakim, jaksa, ekonom, ahli pidana hingga akademisi. Nama Albertina masuk bersama mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar dan mantan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki. Presiden menekankan bahwa sosok yang akan menempati posisi Dewan Pengawas KPK adalah sosok yang baik.

Sumber foto:https://bit.ly/34QpsNI

Pembentukannya didasari pada UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau UU KPK. Untuk periode pertama, para anggota Dewas KPK itu dipilih langsung oleh Presiden Jokowi. Selanjutnya, para pengisi dewan tersebut akan diseleksi tim khusus lalu diserahkan kepada presiden guna mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di DPR. Dewan Pengawas KPK bertugas mengawasi pelaksanaan tugas dan wewenang KPK, memberi izin atau tidak memberi izin penyadapan, penggeledahan, penyitaan, menetapkan kode etik pimpinan dan pegawai KPK, serta menerima laporan dari masyarakat dan menyelenggarakan sidang mengenai dugaan pelanggaran etik oleh pimpinan dan pegawai KPK. 

Bekerja di toko kelontong dan warung kopi

Albertina Ho kelahiran Maluku Tenggara, 1 Januari 1960 dan merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Dari lahir hingga kelas empat SD ia tinggal di Dobo, Maluku Tenggara bersama orang tuanya. Ketika kelas lima SD, ia pindah ke Ambon untuk melanjutkan pendidikannya. Saat di Ambon, Albertina kecil mengalami kesulitan dalam memakai kaus kaki dan sepatu karena telah terbiasa bertelanjang kaki ketika di Dobo.
 
Ia tinggal di rumah saudaranya dan mulai SMP ikut bekerja membantu menjaga toko kelontong milik saudaranya tersebut. Ketika masuk SMA, ia tinggal di tempat saudara yang lain yang memiliki warung kopi. Setelah pulang sekolah, Albertina ikut membantu di warung kopi hingga pukul tujuh malam. 

Meski banyak kesibukan di rumah, Albertina termasuk siswa yang berprestasi. Nilai-nilai mata pelajaran eksaktanya lebih bagus dari mata pelajaran sosial. Namun, ia memilih masuk ke jurusan sosial. Keputusannya tersebut sempat membuat kecewa gurunya kala itu.

Albertina diterima di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada 1985. Gelar Magister Hukum diraihnya setelah menjadi hakim pada tahun 2004 dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto.

Sumber foto:https://bit.ly/36YDoH2

Karir sebagai hakim
Lulus dari UGM, Albertina mendaftar sebagai calon hakim. Setelah mengikuti pendidikan calon hakim, ia ditugaskan di Pengadilan Negeri Yogyakarta pada 1986-1990. Kemudian, ia beberapa kali pindah tugas di lingkungan Pengadilan Negeri di Jawa Tengah seperti di PN Slawi, Kabupaten Tegal, PN Temanggung dan PN Cilacap.

Pada 2005, karirnya melesat hingga ke kursi sekretaris Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial. Setelah tiga tahun bertugas di Mahkamah Agung, ia ditugaskan menjadi hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kasus yang membuat namanya dikenal masyarakat adalah saat menangani kasus penggelapan pajak PT SAT senilai Rp570 juta yang melibatkan pegawai Ditjen Pajak Gayus Tambunan. 

Albertina mendapat gelar sebagai Srikandi Hukum setelah menjatuhkan vonis hukuman penjara tujuh tahun untuk Gayus dan denda Rp300 juta. Ia kemudian dipromosikan menjadi wakil ketua Pengadilan Negeri Sungai Liat pada 2011. Tak lama kemudian, ia naik pangkat menjadi Ketua Pengadilan Negeri Sungai Liat dan pada 2014, ia ditugaskan menjadi wakil ketua Pengadilan Negeri Palembang. Sebelum dipromosikan menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Medan pada 2016, Albertina sempat menjabat sebagai ketua Pengadilan Negeri Bekasi.

Ia juga pernah diminta mendaftar jadi Pimpinan KPK Panitia Seleksi (Pansel) calon Pimpinan KPK 2015 pernah memintanya mendaftar untuk mengikuti seleksi. Menurut anggota Pansel KPK Yenti Garnasih, Albertina sudah terbukti ketegasan dan keberaniannya dalam menangani kasus tindak pidana korupsi. 

Albertina juga pernah dicalonkan menjadi penerima Yap Thiam Hien Award 2011 namun ia menolak nominasinya dalam penghargaan itu karena masih terikat kode etik. Penghargaan yang bisa diterimanya adalah penghargaan yang berasal dari institusinya sendiri, yakni Mahkamah Agung. 

Sumber foto:https://bit.ly/2rpno1O

Albertina dikenal sebagai orang yang sederhana. Walau mendapat tunjangan besar, rumah, dan mobil dinas, kemana-mana ia masih menggunakan transportasi umum, seperti kereta api. Ia juga merupakan sosok yang teguh, tidak akan kompromi dan tidak terpengaruh dalam mengambil keputusan dalam menjalankan tugasnya sebagai hakim supaya koruptor menjadi jera.

Sejumlah perkara yang pernah ditanganinya dan menjadi perhatian publik, antara lain pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Sigid Haryo Wibisono, pelecehan terdakwa Anand Khrisna, dan perkara mafia hukum Jaksa Cirus Sinaga.
Keputusannya untuk menerima tawaran menjadi anggota Dewas KPK karena menganggap permintaan tersebut adalah sebagai perintah. “Jadi, kalau diperintahkan, sebagai warga negara kita siap,” ujarnya tegas. (dari berbagai sumber)


 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Era Soekamto, aktif kampanyekan budaya lewat kebaya
Rabu, 29 April 2020 - 06:00 WIB
Dalam pandangan Era Soekamto, sosok Kartini adalah seorang figur wanita yang sangat kritis dan mindf...
 Sosok Niki Zefanya, penyanyi asal Indonesia yang masuk daftar 30 Under 30 Asia dari Forbes
Selasa, 07 April 2020 - 10:53 WIB
Isyana Sarasvati dan Niki Zefanya, masuk dalam daftar bergengsi 30 Under 30 Asia 2020 oleh Forbes. ...
Sosok Pricilia Carla Yules, Miss Indonesia 2020
Jumat, 21 Februari 2020 - 13:54 WIB
Pricilia Carla Yules asal Sulawesi Selatan resmi dinobatkan menjadi Miss Indonesia 2020 pada malam p...
Zahra Amalina, duta pariwisata spa pertama di Indonesia
Kamis, 20 Februari 2020 - 21:00 WIB
Indonesia memiliki potensi yang luar biasa di sektor pariwisata, salah satunya adalah di industri sp...
Sosok Apriyani Rahayu, anak desa yang mengharumkan nama bangsa
Senin, 20 Januari 2020 - 12:53 WIB
Pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu sukses meraih gelar juara di Indon...
Naila Novaranti, wanita pertama Indonesia yang menaklukan tujuh benua dengan terjun payung
Senin, 30 Desember 2019 - 11:55 WIB
Penerjun payung dunia dari Indonesia, Naila Novaranti berhasil menaklukan benua Antartika pada 5 Des...
Profil Albertina Ho, Srikandi Hukum yang menjadi Dewan Pengawas KPK
Senin, 23 Desember 2019 - 12:18 WIB
Dewan pengawas yang terdiri dari lima orang merupakan struktur baru di KPK. Ketua dan anggota dewan ...
Sosok Lili Pintauli Siregar, Pimpinan KPK yang baru
Jumat, 20 Desember 2019 - 17:57 WIB
Presiden Joko Widodo telah melantik lima orang Pimpinan KPK baru untuk periode 2019-2023 pada Jumat,...
Hasniah, perempuan difabel rungu yang mahir merias
Jumat, 06 Desember 2019 - 10:37 WIB
Perempuan memang tidak bisa dipisahkan dari dunia kecantikan. Demikian pula dengan Hasniah. Saat mel...
Profil Emma Sri Martini, Direktur Keuangan Pertamina yang baru
Rabu, 27 November 2019 - 11:14 WIB
Emma Sri Martini resmi ditunjuk menjadi Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) oleh Menteri BUMN, ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV