Naila Novaranti, wanita pertama Indonesia yang menaklukan tujuh benua dengan terjun payung
Elshinta
Senin, 30 Desember 2019 - 11:55 WIB | Penulis : Ervina Rias Palupi | Editor : Administrator
Naila Novaranti, wanita pertama Indonesia yang menaklukan tujuh benua dengan terjun payung
Ilustrasi. Sumber foto:https://bit.ly/2F6TFOq

Elshinta.com - Penerjun payung dunia dari Indonesia, Naila Novaranti berhasil menaklukan benua Antartika pada 5 Desember 2019 lalu. Aksinya tersebut merupakan bagian dari misi menaklukan tujuh benua di dunia dengan penerjunan payung.


Naila berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di lokasi penerjunan yang berbahaya, yakni tepat di atas Kutub Selatan bumi dengan ketinggian 13.500 kaki (4.114 meter). Naila mengaku sangat bersyukur menjadi wanita Indonesia pertama dan tercepat di dunia dengan terjun payung ke-7 benua.

Naila memang pantas berbangga diri, sebab perjuangannya tidaklah mudah. Ia harus menghadapi banyak kendala mulai dari cuaca yang sangat dingin, hingga tempat pendaratan yang tidak terlihat karena tertutup es sehingga membuatnya kesulitan untuk mengetahui ketebalan lapisan es yang akan didarati.

Ilustrasi. Sumber foto:https://bit.ly/359VhBi

Jika salah membuat keputusan menghitung angin dan ketepatan mendarat, tak diragukan lagi nyawanya bisa melayang. “Salah sedikit, bisa membuat saya terperosok ke dalam longsoran lapisan tipis es yang sangat tajam berjurang terjal,” jelas Naila.
Di Antartika, Naila menggunakan parasut yang berbeda dari biasanya, parasut dengan ukuran yang diperbesar untuk menghadapi udara yang sangat tipis. Pesawat yang digunakan untuk penerjunan adalah pesawat De Haviland DHC-6 Twin Otter bermesin ganda bernama ILYUSHIN 1992 yang dilengkapi skid pendarat untuk pendaratan di wilayah beriklim salju.

Antartika yang menjadi lokasi penerjunan bagi Naila Novaranti adalah wilayah yang sangat jarang dikunjungi oleh manusia karena suhunya yang sangat dingin dan akses yang sangat sulit dijangkau. Biasanya hanya dikunjungi bagi mereka yang berkepentingan seperti para peneliti, penjelajah, dan wisatawan.
Namun Naila akhirnya bisa menyelesaikan misinya disana dengan memakan waktu beberapa hari saja untuk bisa sampai ke lokasi Antartika.

Ilustrasi. Sumber foto:https://bit.ly/2tY38Fe

Terjun payung di lokasi-lokasi tersulit 
Naila sudah ribuan kali melakukan aksi terjun payung di belahan dunia selama 8 tahun. Naila melakukan hal tersebut karena niat dan tekadnya sebagai penerjun yang ingin menaklukan medan-medan berat dan jarang dilakukan orang lain.
Sebelum menaklukan Antartika, pada 16 November 2018, Naila melakukan terjun payung di atas Mount Everest di Nepal dengan menggunakan helikopter khusus modern di atas 25.000 kaki.

Naila mendapat tantangan sebelum ulang tahunnya pada tanggal 19 November untuk terjun payung di lokasi-lokasi tersulit dan salah satunya adalah Mount Everest. Naila pun menyanggupi dan berangkat ditemani suami dan dua kameramen penerjun. Walau lokasinya berat dan suhu di bawah min 45 derajat, penerjunan berjalan sukses. “Meski saat itu dinginnya luar biasa dan udara sangat tipis tapi saya bisa menyelesaikan misi tersebut dengan baik tanpa cidera apapun,” tutur Naila. Perempuan yang berasal dari Jakarta ini mengatakan di penerjunan tersebut untuk memecahkan rekor menjadi satu-satunya penerjun payung dari Indonesia yang menaklukan langit di atas Mount Everest.

Women of The Year 2019 dan Ikon Pancasila
Tahun 2019 sepertinya menjadi tahun pemecahan rekor, kebanggaan dan penghargaan bagi Naila. Pelatih dan penerjun payung wanita ekstrem dunia satu-satunya dari Indonesia ini meraih predikat "Women of The Year 2019" versi Her WorlD Indonesia.
Naila namanya masuk dalam 10 wanita yang masing-masing berasal dari berbagai bidang, diantaranya teknologi, bisnis, budaya, digital, content creator, pemerhati kesetaraan gender, hingga industri kreatif. Beberapa di antaranya termasuk Naila menunjukkan kepedulian yang besar terhadap kemajuan kaum perempuan lainnya.“Menjadi salah satu Women of The Year bagi saya menjadi suatu kehormatan, dan saya merasa di hargai dengan menjalani profesi sebagai pelatih dan penerjun payung dunia yang dianggap konsisten.” 

Ibu tiga anak ini mengaku bangga dan menjadi motivasi untuk terus maju dan lebih berprestasi karir juga menambah portofolio prestasinya selama ini. Naila juga pernah mendapat penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia dinilai pantas menjadi ikon Pancasila karena telah berkontribusi penuh dalam mengamalkan dan menyelaraskan kehidupan dengan ideologi Pancasila, terutama di bidang olah raga. Penghargaan Apresiasi Prestasi Pancasila 2019 menetapkan 74 ikon yang dibagi menjadi empat kategori, yakni sains dan inovasi, olahraga, seni budaya dan kreatif, dan sosial entrepreneur.

Ilustrasi. Sumber foto:https://bit.ly/2F3wt3l

Patah tulang tangan dan kaki
Naila adalah seorang atlet dan instruktur terjun payung  atau skydiving internasional . Perempuan kelahiran tahun 1981 ini telah melatih terjun payung di 46 negara di dunia, baik pada kalangan sipil mau pun militer. Naila juga melatih terjun payung pada pasukan khusus Indonesia, Kopassus. Pengalamannya sebagai atlet skydiving internasional membuat ia dipercaya sebagai Duta Wisata Udara oleh World Tourism Park Forum (WTP Forum). 

Sebelum dikenal sebagai atlet dan instruktur olahraga ekstrem skydiving, Naila pernah bekerja sebagai sekretaris pada sebuah perusahaan minyak di Jakarta pada 2001. Ia kemudian pindah ke perusahaan Amerika Serikat lainnya pada 2006, dan bekerja sebagai staf pemasaran pada perusahaan pemasaran peralatan terjun payung kelas atas di dunia yang bernama "Aerodyne" yang berbasis di Florida. 

Ia telah dipercaya sebagai manajer pemasaran untuk produk militer pada perusahaan tersebut dan diminta untuk juga melatih kesatuan-kesatuan militer yang jadi pelanggan mereka. Karena sering melihat pendaratan para penerjun payung pada lapangan di sebelah kantornya, Naila kemudian tertarik untuk ikut aktif sebagai penerjun payung. 


Tahun 2009 Naila melakukan terjun payung pertamanya. Ia terus meningkatkan kemampuannya dengan menimba ilmu di USPA (United States Parasut Association) di Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi atlet skydiving profesional dan bergabung dengan tim skydiving internasional "Simba." Ia disebut sebagai wanita Indonesia pertama yang bergabung dengan tim yang berpartisipasi dalam kompetisi skydiving internasional itu. 

Walau pernah mengalami patah tulang di bagian tangan dan kaki yang membuatnya harus vakum selama enam bulan untuk memulihkan kondisi, Naila tidak pernah merasa kapok. Itu lah mengapa ketika ditanya sampai kapan akan terus menjalani karir penerjun, Naila dengan tegas mengatakan selama masih sehat ia akan tetap terus jalani. (dari berbagai sumber)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Sosok Pricilia Carla Yules, Miss Indonesia 2020
Jumat, 21 Februari 2020 - 13:54 WIB
Pricilia Carla Yules asal Sulawesi Selatan resmi dinobatkan menjadi Miss Indonesia 2020 pada malam p...
Zahra Amalina, duta pariwisata spa pertama di Indonesia
Kamis, 20 Februari 2020 - 21:00 WIB
Indonesia memiliki potensi yang luar biasa di sektor pariwisata, salah satunya adalah di industri sp...
Sosok Apriyani Rahayu, anak desa yang mengharumkan nama bangsa
Senin, 20 Januari 2020 - 12:53 WIB
Pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu sukses meraih gelar juara di Indon...
Naila Novaranti, wanita pertama Indonesia yang menaklukan tujuh benua dengan terjun payung
Senin, 30 Desember 2019 - 11:55 WIB
Penerjun payung dunia dari Indonesia, Naila Novaranti berhasil menaklukan benua Antartika pada 5 Des...
Profil Albertina Ho, Srikandi Hukum yang menjadi Dewan Pengawas KPK
Senin, 23 Desember 2019 - 12:18 WIB
Dewan pengawas yang terdiri dari lima orang merupakan struktur baru di KPK. Ketua dan anggota dewan ...
Sosok Lili Pintauli Siregar, Pimpinan KPK yang baru
Jumat, 20 Desember 2019 - 17:57 WIB
Presiden Joko Widodo telah melantik lima orang Pimpinan KPK baru untuk periode 2019-2023 pada Jumat,...
Hasniah, perempuan difabel rungu yang mahir merias
Jumat, 06 Desember 2019 - 10:37 WIB
Perempuan memang tidak bisa dipisahkan dari dunia kecantikan. Demikian pula dengan Hasniah. Saat mel...
Profil Emma Sri Martini, Direktur Keuangan Pertamina yang baru
Rabu, 27 November 2019 - 11:14 WIB
Emma Sri Martini resmi ditunjuk menjadi Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) oleh Menteri BUMN, ...
Sosok Ayu Kartika Dewi, Stafsus Milineal pejuang toleransi
Jumat, 22 November 2019 - 12:41 WIB
Tujuh staf khusus (stafsus) dari kalangan milenial telah dipilih Presiden Joko Widodo di Istana Merd...
Karisma Evi Tiarani, gadis asal Boyolali pemecah rekor dunia Para Atletik
Selasa, 19 November 2019 - 09:47 WIB
Indonesia dibuat bangga dengan keberhasilan Karisma Evi Tiarani yang menyabet medali emas serta meme...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV