Konflik Iran-AS disebut akan berlarut ke wilayah siber, hindari pakai `VPN`
Elshinta
Jumat, 10 Januari 2020 - 08:10 WIB |
Konflik Iran-AS disebut akan berlarut ke wilayah siber, hindari pakai `VPN`
Ilustrasi. (Ant/Shutterstock) - https://img.antaranews.com/cache/800x533/2020/01/09/shutterstock_761940757.jpg.webp

Elshinta.com - Pakar keamanan siber, Pratama Persadha mengatakan, bahwa serangan Iran - Amerika Serikat berpotensi meluas ke wilayah siber yang kemungkinan diikuti negara-negara lain maupun kelompok-kelompok tertentu.

Ia mengatakan agar Indonesia tidak terseret dalam serangan siber, masyarakat perlu menghindari pemakaian VPN (virtual private network) dari negara-negara yang sedang berkonflik beserta sekutunya.

"Pernyataan Trump memperkuat perkiraan, saat ini sedang terjadi cyberwarfare antara kedua negara, yang kemungkinan besar diikuti oleh negara-negara lain maupun kelompok-kelompok tertentu," kata Pratama di Jakarta, Kamis (9/1).

Dalam sejarah pertikaian Iran, AS dan Israel, Pratama mengatakan, selalu melibatkan saling retas, saling serang sistem -- yang paling terkenal adalah serangan stuxnet dari Israel yang menargetkan sistem nuklir Iran.

Texas dilaporkan telah menerima serangan siber lebih dari 10 ribu kali sejak 6 Januari 2020.

Website Program Penyimpan Federal (The Federal Depository Library Program) juga diserang dengan mengubah tampilan situs menjadi tampilan bendera Iran, foto pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dan gambar wajah Donald Trump dengan mulut berdarah karena ditinju oleh Pengawal Revolusi Iran.

Menurut Pratama, secara umum agar masyarakat dunia melihat, serangan dilakukan dengan cara melakukan deface ke website yang dimiliki pemerintah, maupun perusahaan yang mereprestasikan negara tersebut.

"Artinya, ancaman serangan siber tidak hanya harus diwaspadai oleh instansi negara, namun juga perusahaan besar," kata Pratama, dikutip Antara. 

Menurut dia, Iran, punya afiliasi peretas dengan jaringan Palestina, terutama Hamas. Sementara, AS bekerja sama dengan jaringan Israel dan Saudi untuk membendung Iran.

Disaat yang sama, Pratama mengungkapkan, perang juga dipastikan terjadi di media sosial. Dalam hal ini, menurutnya, AS diuntungkan, sebab Facebook, Instagram, Twitter dan Youtube semuanya di bawah AS.

Misalnya, Foreign Surveillance Act mewajibkan raksasa teknologi di AS untuk memberikan “backdoor” dan privillage untuk lembaga pemerintah seperti FBI, NSA, CIA, DEA, kepolisian dan militer.

"Artinya, konten yang membantu propaganda Iran akan sangat mudah di hapus dan akun-akun mudah disuspend," ujar Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSRec itu.

Lebih lanjut, Pratama mengatakan, tidak menutup kemungkinan bagi AS untuk menjalankan hybridwarfare. Diawali dengan serangan lewat wilayah siber, bila berhasil akan menggerakkan kekuatan militer sendiri atau meminjam kekuatan militer sekutunya di Timur Tengah, seperti Saudi, dan sisa paramiliter pro AS.

"Yang saat ini diwaspadai oleh kedua negara adalah para pejabat menjadi sasaran peretas kedua pihak," ujar Pratama.

Hindari VPN

Agar Indonesia tidak terseret dalam serangan siber, Pratama mengatakan, masyarakat Indonesia perlu menghindari pemakaian VPN (virtual private network) menggunakan negara-negara yang sedang berkonflik beserta sekutunya.

"Kenapa tidak disarankan menggunakan IP negara berkonflik, hal ini untuk menghindari adanya serangan malware ke IP negara tertentu. Serangan malware massif bisa saja terjadi seperti saat wannacry dan nopetya hadir di pertengahan 2017," kata Pratama.

Dampak yang mungkin akan terasa di Tanah Air, menurut Pratama, lebih kepada perang opini di media sosial.

"Namun mengingat syiah bukan mayoritas muslim di Tanah Air, isu oleh buzzer belum massif sejauh ini. Isu di media sosial banyak bersumber dari media massa mainstream," lanjut dia.

Meski begitu, Pratama meningatkan untuk selalu mengecek dan waspada pada pemakaian teknologi asal AS di instansi pemerintah.

"Ditakutkan serangan kepada raksasa teknologi AS bisa berimbas juga ke para pemakai di tanah air. Dalam hal ini seharusnya BIN dan BSSN sudah mengantisipasi lebih jauh," ujar Pratama.

Serangan kepada Jendral Qassam Solemani, menurut Pratama, bisa terjadi salah satunya karena pengintaian lewat jalur komunikasi, internet dan juga informasi lapangan yang akurat.

"Peristiwa ini juga menjadi pelajaran bahwa dalam situasi seamanan apapun, para pejabat tinggi dan pengawalnya harus melaksankan protap keamanan. Seperti misalnya tidak menyalakan GPS di smartphone dan juga wajib berkomunikasi lewat jalur yang aman," tambah dia. (Der) 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Zuckerberg: Konten online mesti diatur di antara telko dan media
Senin, 17 Februari 2020 - 12:47 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan konten online harusnya diatur dalam sistem yang berada di an...
Hadapi era digital, Menaker ingatkan pentingnya responsif terhadap perubahan
Kamis, 13 Februari 2020 - 17:37 WIB
Era revolusi industri 4.0 menuntut dunia usaha dan industri untuk responsif terhadap perubahan guna ...
Tingkatkan hasil petani, Bupati Muba perkenalkan tes DNA bibit sawit 
Kamis, 13 Februari 2020 - 17:28 WIB
Bupati Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ mendorong upaya tes D...
Teknologi cerdas ini akan pacu nilai tambah kakao dan kopi
Kamis, 13 Februari 2020 - 15:49 WIB
Kementerian Perindustrian semakin aktif mendorong pengembangan teknologi hilirisasi untuk lebih meni...
Presiden Jokowi harapkan BUMN-swasta bantu danai riset
Kamis, 06 Februari 2020 - 20:35 WIB
Presiden Joko Widodo mengharapkan peran BUMN dan swasta untuk membantu pendanaan riset, agar tidak h...
Duh, Malware berkedok Grammy 2020 menyebar di internet
Jumat, 31 Januari 2020 - 14:15 WIB
Tim riset di Kaspersky menemukan peretas menggunakan topik yang sedang populer di internet untuk men...
Ilmuwan ciptakan anggota tubuh robot untuk ubur-ubur
Jumat, 31 Januari 2020 - 09:46 WIB
Para ilmuwan di Caltech dan Stanford University ingin mengubah ubur-ubur menjadi penjelajah laut dal...
Kementerian ESDM tepis gangguan mesin akibat B30, dipastikan aman
Rabu, 29 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahan bakar campuran nabati atau B30 am...
Pakar sebut HP BM terancam terblokir per 18 April 2020
Sabtu, 25 Januari 2020 - 16:49 WIB
Pakar keamanan siber dari CISSReC Doktor Pratama Persadha menyebut handphone black market (BM) atau ...
Ilmuwan ciptakan drone mirip burung
Jumat, 24 Januari 2020 - 12:07 WIB
Para peneliti dari Stanford University berhasil mengembangkan drone eksperimental yang dapat terbang...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)