Inggris akhirnya tinggalkan Uni Eropa menuju masa depan tak menentu
Elshinta
Sabtu, 01 Februari 2020 - 09:59 WIB |
Inggris akhirnya tinggalkan Uni Eropa menuju masa depan tak menentu
Anggota pro-brexit Inggris dari Parlemen Eropa (European Parliament) meninggalkan Parlemen UE untuk terakhir kalinya di Brussels, Belgia, Jumat (31/1/2020). Sumber Foto: https://bit.ly/2u82TId

Elshinta.com - Inggris Raya akhirnya angkat kaki dari Uni Eropa pada Jumat menuju masa depan Brexit yang tak menentu, menjadi titik balik setelah 47 tahun dalam kerja bersama pasca-Perang Dunia II, yang berupaya membangun negara-negara Eropa yang hancur untuk menjadi kekuatan global.

Dalam pergeseran geopolitik terbesarnya sejak kehilangan kekuasaan global, Inggris meninggalkan Uni Eropa pada pukul 23.00 GMT dalam langkah yang ditempuh oleh Perdana Menteri Boris Johnson sebagai awal dari era baru.

Ribuan pendukung Brexit berkumpul di depan gedung parlemen Inggris, dengan mengibarkan bendera, bersorak-sorak dan merayakan dalam suasana yang campur aduk antara nostalgia, patriotisme dan pembangkangan.

"Ini hari yang fantastis," kata Tony Williams (53), dari London tenggara. "Kami bebas, sejak pukul 11 malam, kami telah melakukannya ... Kami telah melakukannya."

Brexit, yang pernah dianggap sebagai mimpi yang tak mungkin dari kaum eurosceptics, juga melemahkan Uni Eropa, yang dipahami sebagai cara untuk mengikat kekuatan utama Eropa dalam perdamaian setelah ratusan tahun konflik.

Ketika hari Brexit tiba, setelah tiga setengah tahun terombang-ambing sejak referendum 2016, seperti antiklimaks: sementara pendukung Brexit mengibarkan bendera merayakan kebebasan di tengah hujan, banyak warga Inggris yang terlihat bersikap acuh tak acuh atau lega.

"Bagi banyak orang, ini adalah momen harapan yang mencengangkan, sebuah momen yang mereka pikir tidak akan pernah terjadi," kata Johnson, pemimpin aksi "Leave" kelahiran New York.

"Tugas kami sebagai pemerintah - tugas saya - adalah menyatukan negara ini sekarang dan membawa kami maju," kata Johnson.

Para pemimpin paling berpengaruh Uni Eropa, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, melihat Brexit sebagai momen yang menyedihkan yang merupakan titik balik bagi Eropa. Uni Eropa memperingatkan bahwa kepergian akan menjadi lebih buruk daripada tetap bertahan.

Presiden AS Donald Trump telah lama mendukung Brexit. Sementara itu, menterinya Mike Pompeo menyebutkan warga Inggris ingin terbebas dari "tirani Brussels".

Bendera Inggris di Kantor Pusat Uni Eropa di Brussels diturunkan. Namun, sedikit yang akan segera berubah, sebab masa transisi membuat Inggris Raya tetap menjadi anggota namun tak lebih dari sekadar nama hingga akhir 2020, demikian Antara. (Anj)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Inggris sebut UU keamanan nasional langgar Deklarasi Hong Kong
Rabu, 01 Juli 2020 - 20:55 WIB
Pemerintah Inggris menyebut bahwa pemberlakuan undang-undang keamanan nasional oleh China adalah pel...
Media: Penikaman di Kota Reading Inggris tewaskan tiga orang
Minggu, 21 Juni 2020 - 12:38 WIB
Tiga orang tewas dalam aksi penikaman di sebuah taman di Kota Reading, Inggris selatan pada Sabtu da...
NU Inggris dukung penerjemahan Al Quran ke Bahasa Rumania
Selasa, 02 Juni 2020 - 12:03 WIB
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom (PCINU UK) mendukung penerjemahan Al Quran k...
Infeksi corona di Prancis alami kenaikan terendah sejak `lockdown`
Senin, 25 Mei 2020 - 09:39 WIB
Jumlah infeksi virus corona terkonfirmasi di Prancis bertambah 115 atau setara 0,1 persen, menjadi 1...
Penasihat PM Inggris diminta mundur setelah langgar aturan `lockdown`
Minggu, 24 Mei 2020 - 20:41 WIB
Seorang anggota parlemen dari Partai Konservatif yang berkuasa di Inggris pada Minggu menyerukan pen...
Kematian COVID-19 di Prancis hampir 21.000
Rabu, 22 April 2020 - 12:35 WIB
Kematian akibat COVID-19 di Prancis meningkat tajam menjadi hampir 21.000 kematian pada Selasa, namu...
Di Prancis total kematian akibat corona hampir 14.000
Minggu, 12 April 2020 - 13:55 WIB
Jumlah total kematian akibat wabah virus corona di Prancis naik menjadi hampir 14.000 pada Sabtu (11...
Kasus corona di Jerman terus bertambah jadi 57.298
Senin, 30 Maret 2020 - 14:15 WIB
Jumlah kasus virus corona di Jerman terus bertambah menjadi 57.298  dengan 455 kematian, berdasarka...
Macron minta Italia waspada soal bantuan corona dari Tiongkok, Rusia
Sabtu, 28 Maret 2020 - 13:15 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Sabtu (28/3) berusaha untuk mengambil hati Italia dan mengatak...
Penimbunan cairan pencuci tangan akibatkan lonjakan permintaan etanol
Selasa, 10 Maret 2020 - 10:52 WIB
Sejumlah produsen etanol di seluruh dunia mengatakan permintaan atas produk mereka melonjak lantaran...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV