Bentuk kecemasan seperti apa yang sering terjadi pada pria?
Elshinta
Jumat, 01 Mei 2020 - 23:15 WIB | Penulis : Ervina Rias Palupi | Editor : Sigit Kurniawan
Bentuk kecemasan seperti apa yang sering terjadi pada pria?
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2KLqMtX

Elshinta.com - Pria sering kali digambarkan sebagai makhluk yang lebih kuat ketimbang wanita, baik secara fisik maupun mental. Hal itu karena secara kultur sosial, pria diharapkan menjadi pelindung, tulang punggung maupun pihak yang paling bertanggung jawab dalam keluarga.

Tapi bukan berarti para pria terhindar dari rasa takut maupun kecemasan. Pria juga punya banyak kekhawatiran dalam hidupnya dan lebih memilih menyembunyikannya. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut kecemasan yang kerap dialami pria:

Rambut menipis
Bagi pria, ketakutan yang mereka rasakan saat menyadari rambutnya mulai rontok dan menipis atau habis. Rambut adalah salah satu bagian tubuh kebanggaan mereka. Biasanya, seiring menipisnya helaian rambut, begitupun rasa pede mereka. 
 
Namun pria tidak terlalu tertarik mencoba bermacam terapi rambut rontok. Tapi lebih senang memperbaiki kepribadian mereka untuk menutupi kekurangannya itu.

Pendek 
Karena pria dituntut memiliki citra maskulin dan melindungi, sehingga ukuran tubuh yang pendek membuatnya tidak nyaman. Selain itu, tubuh yang kurus juga membuat pria menjadi minder. 
 
Beberapa pria berusaha membesarkan badan dengan olahraga dan minum susu. Tetapi ada juga pria yang memilih memacu mereka untuk lebih hebat dalam hal lain dibandingkan para pria berbadan atletis. 

Ilustrasi. Sumber foto:  https://bit.ly/3d3D3pv
 

Penis
Pria boleh mengaku kalau mereka tabu membahas ukuran Mr. P apalagi membandingkannya. Ukuran penis memang jadi salah satu kebanggaan pria. Sayangnya, mereka tak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah. 

Kesehatan
Pria khawatir tentang kesehatan dirinya sendiri. Pria cemas jika terkena kanker atau penyakit mematikan lain. Padahal daripada cemas, akan lebih baik jika mereka berusaha menjalani gaya hidup yang lebih sehat.

Umur
Pria sering cemas tentang bertambahnya usia mereka setelah menyadari rambut yang sudah beruban, penglihatan semakin kabur, dan mudah Lelah. Hal tersebut membuat pria cemas karena lebih dekat dengan kematian.

Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/35mqbbF

Pekerjaan
Pikiran tentang apakah akan dipecat, juga sering menghampiri pria dan membuat cemas. Sebab jika pria tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak akan ada penghasilan untuk mencukupi kehidupan mereka.

Prestasi
Kebanyakan pria akan melihat masa lalunya dan mempertanyakan apa yang sudah dicapainya selama ini. Evaluasi diri seperti ini akhirnya membuat pria cemas akan kehidupan yang telah dijalani.

Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2KLH463

Keuangan
Uang memang urusan krusial, bahkan membuat pria cemas akan hal itu. Pria tepatnya khawatir apakah mereka bisa menghasilkan cukup uang untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya. 

Keluarga
Pria cemas apakah mereka nanti bisa menjadi seorang ayah yang baik bagi anaknya. Memang tidak ada buku panduan menjadi orang tua yang baik. Maka dari itu, dukungan dari istri sangat diperlukan demi menghilangkan kecemasan pria dan membesarkan anak sebaik mungkin.

GAD 
Penderita GAD (Generalized Anxiety Disorder) merasa cemas hampir setiap hari atau khawatir tentang banyak hal yang berbeda. Kondisi ini biasanya berlangsung untuk jangka waktu enam bulan atau lebih. 

Kecemasan sosial 
Kecemasan ditandai dengan gejala sangat takut dikritik, dipermalukan, atau dihina. Rasa takut itu bahkan terjadi dalam situasi sehari-hari, seperti berbicara di depan umum, makan di depan umum, bersikap tegas di tempat kerja, atau sekadar berbincang ringan. 

Fobia
Seseorang yang sangat takut pada objek atau situasi tertentu dan mungkin berusaha keras untuk menghindarinya. Fobia ini ada bermacam-mcam jenisnya.

Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2Wg59aj

Gangguan panik 
Gangguan ini ditandai dengan serangan panik yang sangat kuat, perasaan cemas yang tak terkendali yang dikombinasikan dengan berbagai gejala fisik. Serangan panik dapat menyebabkan sesak nafas, nyeri dada, pusing, dan keringat berlebih. 

Peristiwa ini bisa begitu kuat sehingga penderita berpikir mereka mengalami serangan jantung atau akan segera mati. Serangan panik berulang atau ketakutan yang berlangsung lebih dari sebulan menandakan adanya gangguan panik. 

Obsesif Kompulsif Gangguan (OCD) 
Gangguan ini ditandai dengan adanya pikiran atau ketakutan yang tidak diinginkan atau mengganggu yang menyebabkan kecemasan. Meskipun orang tersebut mungkin mengakui pemikiran-pemikiran ini sebagai hal yang tidak rasional, mereka sering mencoba untuk mengurangi kecemasan mereka dengan melakukan perilaku tertentu. 

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) 
Ini bisa terjadi setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis seperti perang, bencana atau kecelakaan keluarga yang tragis. Gejala yang harus diwaspadai termasuk mimpi buruk yang mengganggu atau kilas balik peristiwa itu.

Biasanya penderita PTSD juga akan mencoba untuk menghindari apapun yang terkait dengan periatiwa tersebut. Terjadinya kecemasan jenis ini didiagnosis jika gejala bertahan lebih dari sebulan. 


 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
 Ratusan siswa SMPN 1 Boyolali divaksin
Jumat, 23 Juli 2021 - 18:11 WIB
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mulai melakukan vaksinasi tahap satu jenis Sinovac d...
Studi: Jeda lebih panjang antardosis Pfizer tingkatkan antibodi
Jumat, 23 Juli 2021 - 12:37 WIB
Jeda yang lebih lama antardosis vaksin COVID-19 Pfizer mengarah pada kadar antibodi keseluruhan yang...
Deteksi sejak dini penyakit jantung bawaan penting
Jumat, 23 Juli 2021 - 10:23 WIB
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dr. Rad...
IDI: telemedisin jadi solusi di hulu dan hilir penanganan COVID-19
Kamis, 22 Juli 2021 - 15:35 WIB
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih menilai kehadiran layanan telemedisin unt...
Ahli Gizi: Penderita autoimun harus makan teratur cegah peradangan
Rabu, 21 Juli 2021 - 17:55 WIB
Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga Indonesia Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengatakan b...
Peneliti: Vaksin COVID-19 bermanfaat kurangi angka kesakitan
Selasa, 20 Juli 2021 - 21:24 WIB
Dosen dan peneliti Mikrobiologi Medis, Biologi Molekuler dan Imunologi di Fakultas Kedokteran Univer...
Guru Besar FKUI: Vaksinasi cegah infeksi yang belum ada obatnya
Selasa, 20 Juli 2021 - 18:44 WIB
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. DR. Dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MP...
Cara pintar isoman COVID-19 agar cepat pulih
Selasa, 20 Juli 2021 - 09:52 WIB
Umumnya seseorang akan cepat panik saat mendapati hasil tes usap baik antigen maupun PCR menunjukkan...
KlikDokter dan ATIC sediakan layanan isoman pasien COVID
Senin, 19 Juli 2021 - 11:47 WIB
Platform kesehatan digital KlikDokter bersama PT Anabatic Technologies (ATIC) Tbk meluncurkan layana...
Obat atau dokter dari luar negeri, mana yang dibutuhkan saat ini?
Senin, 19 Juli 2021 - 08:15 WIB
Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh. Adib Khumaidi menilai Indon...
Live Streaming Radio Network