MPR: Muatan RUU HIP harus diperbaiki secara hati-hati
Elshinta
Selasa, 02 Juni 2020 - 10:55 WIB |
MPR: Muatan RUU HIP harus diperbaiki secara hati-hati
Wakil Ketua MPR Syariefuddin Hasan. Sumber Foto: https://bit.ly/2zSZJe7

Elshinta.com - Wakil Ketua MPR Syariefuddin Hasan menilai muatan dalam RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) harus diperbaiki secara hati-hati, teliti, dan cermat agar tidak boleh ada ruang sedikit pun masuknya ideologi terlarang komunis.

Karena itu dia menilai Tap MPRS No. XXV Tahun 1966 harus dimasukkan ke dalam RUU HIP untuk menghadirkan kepastian hukum bahwa tidak ada ruang bagi ideologi terlarang untuk masuk dan menyusup dalam nilai-nilai Pancasila. "Tap MPRS No. XXV Tahun 1966 harus dimasukkan sebagai salah satu landasan hukum pada konsideran ‘mengingat’ dalam RUU HIP. Hal itu agar menghadirkan kepastian hukum bahwa Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara yang tidak boleh disusupi ideologi lain terutama ideologi terlarang," kata Syarief Hasan dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (2/6).

Ketetapan MPRS No. XXV Tahun 1966 adalah tentang "Pembubaran Partai Komunis Indonesia, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah NKRI bagi Partai Komunis Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme".

Syarief menjelaskan dalam pembuatan suatu aturan tata kelola negara harus mengedepankan prinsip kepastian hukum. Menurut dia, secara normatif makna kepastian hukum adalah suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti, jelas, dan logis. "Jelas dalam arti tidak menimbulkan keraguan atau pun multitafsir. Sedangkan logis dalam arti hadir sebagai sistem norma yang tidak berbenturan dengan norma lain dan tidak menimbulkan konflik norma," ujarnya.

Politisi Partai Demokrat itu menilai konflik norma akibat ketidakpastian hukum dapat berbentuk kontestasi norma, reduksi norma, atau distorsi norma. Syarief melihat muatan dalam RUU HIP dipandang secara hukum menimbulkan keraguan, multitafsir, dan tidak jelas sehingga tidak ada kepastian hukum di dalamnya.

Dia mencontohkan istilah Trisila dan Ekasila sebagai ciri Pancasila memunculkan multitafsir tentang ideologi Pancasila. "Sebab, Trisila hanya mencantumkan tiga nilai dan Ekasila hanya mencantumkan satu nilai yakni gotong royong. Sehingga pada akhirnya mengaburkan atau mengabaikan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai lainnya," katanya.

Menurut dia, tidak adanya penyebutan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa juga akan berpotensi memudahkan masuknya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Dia juga melihat dari sudut pandang hukum, RUU HIP juga berpotensi menimbulkan konflik norma dan pertentangan dengan norma yang ada sebelumnya, misalnya dalam Pasal 3 disebutkan bahwa prinsip dasar Pancasila adalah 1) ketuhanan, 2) kemanusiaan, 3) kesatuan, 4) musyawarah/demokrasi, 5) keadilan sosial.

"Prinsip ini jelas berbeda jauh redaksi dan pemaknaannya dengan prinsip dasar Pancasila yang tertuang dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea keempat sehingga dapat menyebabkan ketidakpastian hukum dan menyebabkan reduksi dan distorsi pada nilai Pancasila," ujarnya, dihimpun Antara.

Syarief Hasan mengatakan dalam pembacaan Putusan MK dengan Nomor 59/PUU-XIII/2015 disebutkan bahwa yang tunduk pada ketentuan tentang perubahan UUD adalah hanya pasal-pasal UUD, tidak termasuk Pembukaan UUD NRI Tahun 1945. (Ank)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Ketua MPR dorong Kementan uji klinik antivirus corona
Minggu, 05 Juli 2020 - 14:49 WIB
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bambang Soesatyo mendorong Kementerian Pertanian untuk...
Menteri BUMN serahkan bantuan penanganan COVID-19 di Jatim
Minggu, 05 Juli 2020 - 14:39 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyerahkan bantuan penanganan virus corona ke ...
Tutup tiga bulan, akhirnya Pasar Tiban di Jalan Lingkar Salatiga dibuka lagi
Minggu, 05 Juli 2020 - 13:51 WIB
Pasar Tiban di Jalan Lingkar Salatiga, Jawa Tengah, Minggu (5/7) dibuka kembali setelah tiga bulan d...
Satgas TMMD bina mental ideologi Pancasila warga perbatasan
Minggu, 05 Juli 2020 - 13:17 WIB
Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-108 melakukan pembinaan mental ideologi Pancasila kepa...
Reaktif hasil rapid test, jukir dan pengunjung warkop dikirim ke rumah isolasi pemkot 
Minggu, 05 Juli 2020 - 12:41 WIB
Kesadaran masyarakat Kota Malang akan bahaya penyebaran COVID 19 nampaknya jauh dari harapan. Hal in...
Sleman tetap waspada meski sebagian besar pasien COVID-19 sudah sembuh
Minggu, 05 Juli 2020 - 11:27 WIB
Bupati Sleman Sri Purnomo meminta warganya tetap mewaspadai potensi penularan COVID-19 meski sebagia...
Ketum Yasarini: Pembelajaran jarak jauh merupakan metode pendidikan berbasis teknologi
Minggu, 05 Juli 2020 - 10:28 WIB
Ketua Yasarini Cabang Lanud Silas Papare Ny. Lulu Budhi Achmadi mengikuti kegiatan pelatihan daring ...
Terminal Tidar Kota Magelang diserahkan pengelolaanya ke Ditjen Hubdat
Minggu, 05 Juli 2020 - 10:12 WIB
Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, melaksanakan serah terima Termina...
Meja berbagi untuk warga terdampak COVID-19 dan korban PHK
Minggu, 05 Juli 2020 - 09:46 WIB
Erni, warga Cebongan, Salatiga, Jawa Tengah mendonasikan bantuan setiap hari untuk warga terdampak C...
Satgas Yonif 125 dampingi Puskesmas gelar sidak tempat rumah makan dan kios
Minggu, 05 Juli 2020 - 08:35 WIB
Untuk memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi warga benar-benar sehat dan aman, Satgas Pamta...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV