Eucalyptus diklaim bisa cegah COVID-19, ini penjelasan Kementan
Elshinta
Senin, 06 Juli 2020 - 12:48 WIB | Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Administrator
Eucalyptus diklaim bisa cegah COVID-19, ini penjelasan Kementan
Produk-produk eucalyptus. Sumber foto: https://bit.ly/2BJYgYu

Elshinta.com - Kementerian Pertanian akan memproduksi secara massal kalung dari tanaman eucalyptus yang diklaim bisa mencegah COVID-19. Kalung eucalyptus ini bukanlah obat COVID-19, dengan metode desilasi untuk membunuh virus dan diklaim akan mampu menangkal virus. 

Sudahkah kalung tersebut diuji manfaat dan khasiatnya?

Dihubungi Elshinta, Senin (6/7) pagi, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian, Dokter Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, M.Si menjelaskan, kalung eucalyptus ini adalah salah satu dari lima varian yang merupakan produk dari Kementan, berbasis eucalyptus. "Jadi ini hanya salah satu varian, sehingga konsumen bisa memilih, reverensi mereka dalam memilih produk-produk berbasis eucalyptus kami. Jadi ada balsem, roll on, inheler, minyak aromaterapi, dan satu untuk kalung aromaterapi sebagai aromaterapi aksesoris ini," kata dia. 

Untuk pengujiannya, Dokter Ni Luh mengungkapkan, Kementen telah melakukan pengujian di laboratorium, tentang efektivitasnya terhadap virus. Pengujian dilakukan terhadap beberapa virus, di antaranya virus influenza dan virus corona model. 

"Karena kita belum punya virus COVID-19 jadi yang kita gunakan adalah corona model, karena adanya kesamaan mekanisme dalam pengaktifan dari produk eucalyptus ini terhadap virus corona," terangnya. 

Setelah dilakukan pengujian, Dokter Ni Luh mengatakan, hasilnya adalah cukup baik. Dimana eucalyptus ini mempunyai potensi dapat membunuh virus 80-100 persen tergantung dari bahan eucalyptus yang digunakan, konsentrasinya dan juga konsentrasi virus yang digunakan. 

Setelah didapatkan potensi yang cukup baik dari eucalyptus, yang lebih baik potensinya dibandingkan herbal-herbal yang lain, Kementan melakukan developing produk untuk memudahkan masyarakat bisa menggunakan eucalyptus ini, 

"Ide pada awalnya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan yang ada di sekitar kita untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti itu riset kita sebenarnya, kita ingin mengidentifikasi kemampuan antivirus dari para tanaman-tanaman herbal ini dan ketemulah eucalyptus ini," ujar Dokter Ni Luh.

"Ketika kita lakukan developing produk, kemudian kita uji kembali di laboratorium, apakah setelah developing, potensi anti virusnya seperti apa. Ternyata Alhamdulillah sama dengan yang pure eucalyptus," imbuhnya. 

Dokter Ni Luh melanjutkan menjelaskan, eucalyptus ini bukanlah obat karena untuk klaim suatu obat perlu proses panjang. Karena obat ini adalah herbal jadi eucalyptus adalah jamu. Kemudian secara informal, terangnya, eucalyptus ini telah diujikan kepada sekitar 20 orang yang tengah mengalami musibah virus COVID-19.

" Itu ada 20 orang-an, jadi kita gampang mengidentifikasinya, kemudian kita berikan mereka produk-produk kita. Mereka memilihnya bermacam-macam, ada yang kalung, balsem, roll on, dan sebagainya. Kemudian kita testimoni mereka, Alhamdulillah (hasil) swab mereka tidak begitu lama kemudian negatif semua dan sekarang Alhamdulillah sudah sembuh," katanya. 

"Beberapa di luar klaster itu juga sudah ada beberapa testimoni. Ini memang sangat membantu mereka terutama untuk pernapasan, mengatasi hidung tersumbang, kemudian meringankan gejala-gejala mereka," ujar Dokter Ni Luh. 

Ia menambahkan, secara laboratorium, eucalyptus juga mempunyai efek anti virus. Sehingga, jelas Dokter Ni Luh, penelitiannya hingga saat ini masih terus berlanjut dan sekarang akan dilakukan uji yang formal, uji klinis kepada para penderita COVID-19. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Subang siap jadi `role model` desa digital
Selasa, 11 Agustus 2020 - 16:47 WIB
Kabupaten Subang, Jawa Barat dinilai layak menjadi `role model` Kawasan Desa Digital.
Presiden Jokowi ungkap Indonesia kembangkan sendiri vaksin Merah Putih
Selasa, 11 Agustus 2020 - 13:40 WIB
Presiden Joko Widodo menjelaskan ada dua vaksin yang saat ini sedang dikembangkan dan dikerjakan ole...
Sebarkan praktik baik inovasi penanganan COVID-19 di level internasional
Jumat, 07 Agustus 2020 - 12:26 WIB
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) melalui Kedeputian Bidang ...
Presiden Jokowi perintahkan percepatan akses infrastruktur digital
Senin, 03 Agustus 2020 - 13:38 WIB
Presiden Joko Widodo memerintahkan percepatan akses didukung pembangunan infrastruktur digital untuk...
Presiden Jokowi: Indonesia butuh 9 juta talenta digital
Senin, 03 Agustus 2020 - 13:10 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan Indonesia membutuhkan sembilan juta talenta digital dalam 15 tahu...
Peretas bisa pecahkan sandi Zoom Meeting dalam hitungan menit
Jumat, 31 Juli 2020 - 12:41 WIB
Aplikasi konferensi video populer Zoom baru-baru ini memperbaiki kelemahan keamanan yang memungkinka...
Peretas asal Tiongkok diduga curi informasi dari komputer milik Vatikan
Kamis, 30 Juli 2020 - 09:18 WIB
Peretas yang dicurigai terkait dengan Pemerintah Tiongkok telah memasuki jaringan komputer Vatikan, ...
Menkominfo: Hanya tiga persen data center penuhi standar global
Rabu, 29 Juli 2020 - 07:38 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate mengatakan saat ini data center di Indonesia ...
Kolaborasi Bigi dan Uniview, luncurkan produk dukung penerapan new normal
Selasa, 28 Juli 2020 - 18:20 WIB
PT Bigi Multi Internasional yang merupakan bagian dari PTI Group bersama perusahaan Zhejiang Uniview...
Google izinkan karyawan WFH hingga Juli 2021
Selasa, 28 Juli 2020 - 10:48 WIB
Google berencana mengizinkan 200.000 karyawan tetap dan kontrak bekerja jarak jauh hingga Juli 2021.
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV