MemoRI 03 Agustus
Saat Presiden ke-2 RI resmi jadi tersangka
Elshinta
Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Administrator
Saat Presiden ke-2 RI resmi jadi tersangka
Presiden ke-2 RI, Soeharto. Foto: Wikipedia

Elshinta.com - Pada 3 Agustus 2000, mantan Presiden Soeharto resmi menjadi tersangka penyalahgunaan dana yayasan sosial yang didirikannya dan dinyatakan sebagai terdakwa berbarengan dengan pelimpahan berkas perkara ke Kejaksaan Tinggi Jakarta.

Mengutip Wikipedia, Presiden RI ke-2 Soeharto menjadi tersangka pada kasus dugaan korupsi menyangkut penggunaan uang negara oleh 7 yayasan yang diketuainya, yaitu Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Yayasan Supersemar, Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais), Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab), Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, dan Yayasan Trikora. 

Pada 1995, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 1995, yang mengimbau para pengusaha untuk menyumbang 2 persen dari keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri.

Hasil penyidikan kasus tujuh yayasan Soeharto menghasilkan berkas setebal 2.000-an halaman. Berkas ini berisi hasil pemeriksaan 134 saksi fakta dan 9 saksi ahli, berikut ratusan dokumen otentik hasil penyitaan dua tim yang pernah dibentuk Kejaksaan Agung, sejak tahun 1999.

Uang negara Rp400 miliar mengalir ke Yayasan Dana Mandiri antara tahun 1996 dan 1998. Asalnya dari pos Dana Reboisasi Departemen Kehutanan dan pos bantuan presiden. 

Dalam berkas kasus Soeharto, terungkap bahwa Haryono Suyono, yang saat itu Menteri Negara Kependudukan dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, mengalihkan dana itu untuk yayasan. Ketika itu, dia masih menjadi wakil ketua di Dana Mandiri. Bambang Trihatmodjo, yang menjadi bendahara yayasan ini, bersama Haryono, ternyata mengalirkan lagi dana Rp400 miliar yang telah masuk ke yayasan itu ke dua bank miliknya, Bank Alfa, dan Bank Andromeda, pada 1996-1997, dalam bentuk deposito.

Dari data dalam berkas Soeharto, Bob Hasan paling besar merugikan keuangan negara, diduga mencapai Rp3,3 triliun. Hal ini juga terungkap dari pengakuan Ali Affandi, Sekretaris Yayasan Supersemar, ketika diperiksa sebagai saksi kasus Soeharto. Dia membeberkan, Yayasan Supersemar, Dakab, dan Dharmais memiliki saham di 27 perusahaan Grup Nusamba milik Bob Hasan. Sebagian saham itu masih atas nama Bob Hasan pribadi, bukan yayasan.

Hutomo Mandala Putra, putra bungsu Soeharto bersama bersama Tinton Suprapto, pernah memanfaatkan nama Yayasan Supersemar untuk mendapatkan lahan 144 hektare di Citeureup, Bogor, guna pembangunan Sirkuit Sentul. 

Sebelumnya, Tommy, dan Tinton berusaha menguasai tanah itu lewat Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tetapi gagal. Soeharto juga dikenal sebagai Presiden yang paling korup di dunia. Mengalahkan Ferdinand Marcos, mantan Presiden Filipina dan Mobotu Sese Seko, mantan Presiden Zaire. 

Estimasi jumlah nominal yang dikorupsi oleh Soeharto berkisar di $15 miliar sampai $35 miliar. Namun, hal ini akhirnya digugat oleh Presiden Soeharto dan Majalah Time kalah dan dihukum membayar ganti rugi sebesar Rp1 Triliun. Meskipun akhirnya ganti rugi ini dibatalkan dalam putusan kasasi di Mahkamah Agung. 
 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Wagub DKI minta 82 kelurahan siap hadapi kemungkinan banjir lebih cepat
Rabu, 23 September 2020 - 07:29 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meminta warga di 82 kelurahan segera bersiap menghadapi...
BPBD: Data sementara rumah terdampak banjir 289 unit
Selasa, 22 September 2020 - 20:58 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menyebutkan dari hasil pen...
BNPB: 30 KK di Jakarta masih mengungsi akibat banjir
Selasa, 22 September 2020 - 14:10 WIB
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB...
BNPB: 49 RT terdampak banjir Jakarta
Selasa, 22 September 2020 - 10:50 WIB
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB...
Banjir bandang di Sukabumi karena hujan lebat dipicu gelombang Rossby
Selasa, 22 September 2020 - 09:10 WIB
Banjir bandang di wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi yang terjadi pada Senin (21/9) akibat hujan l...
Luapan Ciliwung mulai merendam rumah penduduk Kebon Pala
Selasa, 22 September 2020 - 08:37 WIB
Sebagian rumah penduduk di kawasan Kebon Pala, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, mulai tere...
30 jalan umum di Jakarta Barat terendam banjir
Selasa, 22 September 2020 - 07:52 WIB
Sebanyak 30 ruas jalan umum di Jakarta Barat terendam banjir dengan ketinggian 30-80 sentimeter (cm)...
Banjir rendam 22 RT di Jakarta Barat
Selasa, 22 September 2020 - 07:36 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan, sebanyak 22 RT di Jakarta Barat ...
BPBD: Banjir hingga longsor terjadi di Bogor akibat curah hujan ekstrem
Selasa, 22 September 2020 - 07:20 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mencatat sejumlah bencana al...
Banjir bandang rusak rumah dan kantor di Cidahu Sukabumi
Selasa, 22 September 2020 - 07:04 WIB
Sejumlah rumah dan kantor pemerintah di Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, rusak akib...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV