Epidemiolog sebut 3 faktor penentu tekan laju penularan COVID-19. Dimiliki Indonesia?
Elshinta
Jumat, 18 September 2020 - 09:10 WIB |
Epidemiolog sebut 3 faktor penentu tekan laju penularan COVID-19. Dimiliki Indonesia?
Dok - Dua orang tenaga kesehatan memeriksa mobil ambulans yang akan masuk ke Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Sumber foto: https://bit.ly/3calm8L

Elshinta.com - Epidemiolog klinis Tifauzia Tyassuma menyebutkan, ada tiga faktor penentu di negara-negara yang berhasil menekan laju penularan COVID-19 hingga grafik kasus positif di negara tersebut menurun, salah satunya soal kebijakan pemerintah yang bersifat menyeluruh.

Dalam keterangannya pada diskusi daring Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM) bertajuk "Laju Pandemi Tak Terkendali, Langkah Apa Yang Harus Diperbaiki?", di Jakarta, Kamis (17/9), Tifauzia menyebutkan tiga faktor tersebut adalah kebijakan yang sifatnya menyeluruh, kepemimpinan kepala negara yang kuat dan memberikan contoh, serta respons tanggung jawab sosial masyarakat.

Tifauzia menerangkan, tiga komponen penting tersebut tidak dimiliki oleh Indonesia sehingga menyebabkan lonjakan kasus positif COVID-19 yang tak berkesudahan. Dia menjabarkan satu per satu tiga faktor penting itu yang tidak terjadi di Indonesia.

"Kita dari sisi kebijakan tidak ada yang menyeluruh. Kebijakan selalu kontradiktif dan kontraproduktif," kata dia, dikutip Antara

Tifauzia menjelaskan, kebijakan yang kontradiktif tersebut seperti kebijakan PSBB yang dilakukan di DKI Jakarta tapi tidak dilakukan oleh daerah penyangga Ibu Kota.

Selain itu, Tifauzia menyoroti banyaknya pemeriksaan tes COVID-19 yang telah dilakukan oleh pemerintah setiap harinya, misalnya DKI Jakarta yang sudah melampaui empat kali standar WHO, namun tidak diikuti oleh penyiapan ruang isolasi bagi pasien positif COVID-19.

Menurutnya, isolasi mandiri di rumah dengan kondisi mayoritas rumah penduduk Indonesia tidak memiliki cukup ruangan hanya akan menimbulkan klaster baru di keluarga.

Selain itu dia juga menjelaskan mengenai kepemimpinan yang kuat dan memberi contoh, baik dari kepala negara hingga kepala daerah tidak menunjukkan sikap tegas dan memberikan contoh yang baik untuk masyarakatnya.

Sedangkan pada komponen respons tanggung jawab sosial, menurut Tifauzia, selama enam bulan masa pandemi di Indonesia tidak ada yang cukup menggerakkan masyarakat Indonesia untuk mengambil tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan masalah krisis kesehatan ini.

Dia menyebut, masyarakat hingga saat ini hanya dijadikan sebagai objek dari sebuah regulasi, yaitu untuk menindak dengan hukuman apabila ada yang melanggar protokol kesehatan. Seharusnya, kata dia, masyarakat diajak dengan diberikan peran sebagai subjek, bukan objek, yang secara bersama-sama bergotong royong dalam menangani krisis kesehatan bersama pemerintah.

"Kami sebagai rakyat, menjalankan apa yang kami bisa dengan menggalang gerakan rakyat semesta dengan menggandeng 500 lebih komunitas yang totalnya sekitar 200 ribu orang yang dibekali dengan pengetahuan. Mereka akan bekerja memberikan pemahaman kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menangani pandemi COVID-19 secara bersama-sama," kata Tifauzia. (Der) 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Indonesia kecam aksi teror di Nice Prancis
Jumat, 30 Oktober 2020 - 11:05 WIB
Indonesia mengecam aksi teror di Kota Nice, Prancis, yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia d...
Pengamat: Vaksin-stimulus ekonomi bakal dongkrak kinerja BUMN karya semester II
Jumat, 30 Oktober 2020 - 10:53 WIB
Pengamat BUMN, Toto Pranoto menilai, kehadiran vaksin COVID-19 dan pemberian stimulus ekonomi pada s...
MUI ajak masyarakat tak terprovokasi isu boikot produk Prancis
Jumat, 30 Oktober 2020 - 10:37 WIB
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyiddin Junaidi meminta masyarakat tidak terprovok...
Korlantas Polri prediksi arus balik libur panjang Sabtu-Minggu
Jumat, 30 Oktober 2020 - 10:04 WIB
Arus balik libur panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diprediksi akan terjadi pada Sabtu, 31 ...
Rapid test massal dilakukan di Puncak Bogor, 50 wisatawan reaktif
Jumat, 30 Oktober 2020 - 09:46 WIB
Sebanyak 50 wisatawan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dinyatakan reaktif dari hasil ...
Pasien sembuh dari COVID-19 bertambah 3.985 jadi 329.778 orang
Kamis, 29 Oktober 2020 - 16:56 WIB
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 menyebutkan pada 29 Oktober 2020, pasien sembuh dari penya...
26 ribu jemaah umrah tertunda, penuhi syarat usia yang ditetapkan Arab Saudi
Kamis, 29 Oktober 2020 - 16:45 WIB
Pemerintah Arab Saudi berencana mulai menerima kedatangan jemaah umrah dari luar negaranya mulai 1 N...
Peringati Hari Sumpah Pemuda, 30 taruna Akpol gelar baksos
Kamis, 29 Oktober 2020 - 15:56 WIB
Dalam mereflesikan  hari Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebanyak 30 orang Taruna Tarun...
Pakar: Pemerintah harus sabar dapatkan hasil dalam memutus pandemi
Kamis, 29 Oktober 2020 - 15:11 WIB
Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19, Hidayatu...
 Peringatan Maulid Nabi jadi momentum memutus mata rantai Covid-19
Kamis, 29 Oktober 2020 - 14:47 WIB
Momen berkumpul dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah momen yang  sangat dinantikan.
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV