MemoRI 30 Oktober
Surabaya bergolak dan misteri tewasnya Mallaby 30 Oktober 1945
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
Surabaya bergolak dan misteri tewasnya Mallaby 30 Oktober 1945
Sumber foto: https://bit.ly/31YfhIC/elshinta.com.

Elshinta.com - Hari ini, 30 Oktober 1945 silam menjadi hari yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia, khususnya rakyat Surabaya. Hari ini, 75 tahun silam, rakyat Surabaya menyatakan menolak penjajahan bangsa asing. Terbukti, perlawanan rakyat Surabaya melawan Sekutu berhasil menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby. Komandan Brigade 49 yang terkenal cemerlang.

30 Oktober 1945 dikenang sebagai hari pertempuran arek-arek Surabaya melawan pasukan Sekutu. Dalam baku tembak yang terjadi pada hari itu, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby tewas.

Kematian komandan pasukan Brigade 49 itu hingga sekarang masih menyisakan misteri. Banyak versi tentang pertempuran kejadian di dekat Jembatan Merah, Surabaya 75 tahun lalu itu.

Wikipedia menceritakan, Mallaby bersama pasukannya memasuki Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tujuan mereka untuk melucuti tentara Jepang sesuai perjanjian Yalta. Namun, kedatangan Mallaby dan pasukannya mendapat perlawanan dari pasukan pihak Indonesia. 

Kontak senjata antara pasukan Sekutu dan pasukan pihak Indonesia pun terjadi sampai berkali-kali. Salah satunya terjadi di dekat Jembatan Merah, Surabaya, pada 30 Oktober 1945. Mobil Buick yang ditumpangi Mallaby berhasil dicegat oleh pasukan pihak Indonesia saat hendak melintasi jembatan.

Baku tembak tak mungkin dihidari, dan baru berhenti setelah Mallaby tewas. Tembakan pistol dari seorang pemuda Indonesia --yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya-- diduga menjadi penyebab tewasnya sang komandan.

Mobil yang ditumpangi Mallaby pun hancur lebur oleh ledakan granat --yang juga tak diketahui siapa pelempar granat tersebut. Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945 pukul 20.30 WIB, jenazahnya sulit dikenali.

Kematian Mallaby membuat Mayor Jenderal EC Mansergh --pengganti Mallaby-- mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Isinya, pasukan Indonesia di Surabaya harus menyerahkan senjata tanpa syarat. 

Namun konsekuensi dari ultimatum itu, bukanlah kata menyerah dan memberikan senjata dari pasukan Indonesia, sebaliknya justru terjadi pertempuran yang selanjutnya dikenang perlawanan 10 November.

Tewasnya Mallaby memang menyisakan misteri. Banyak pendapat yang menyebutkan penyebab tewasnya Mallaby. Sebut saja, Tom Driberg anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris dalam perdebatan di Parlemen Inggris pada 20 Februari 1946, menyangkal tuduhan Inggris bahwa baku tembak dimulai oleh pasukan pihak Indonesia dan Mallaby dibunuh secara licik. 

Sementara sejarawan Surabaya Suparto Brata, menyebut hingga detik ini siapa yang menewaskan Mallaby tetap menjadi misteri. "Tidak ada yang tahu atau saksi mata yang melihat siapa yang membunuh Mallaby," katanya.

Versi lain lagi seperti disampaikan oleh Des Alwi dalam buku berjudul Pertempuran Surabaya November 1945 menyebut kemungkinan Mallaby tewas karena tembakan salah sasaran dari tentara Inggris sendiri.

Terlepas dari penyebab tewasnya Mallaby, jenazah Mallaby yang hangus terbakar dikembalikan kepada pasukan Inggris, tanpa sempat mengecek apakah jenazah tersebut benar Mallaby atau bukan.

Pasukan Inggris segera mengubur jenazah Mallaby di kawasan Tanjung Perak, karena pertempuran segera berkobar.

Setelah pertempuran mereda, jenazah jendral cemerlang kelahiran Britania Raya, 12 Desember 1899 tersebut dipindahkan ke pemakaman Kembang Kuning, Surabaya, Jawa Timur. 

Beberapa waktu kemudian jenazah tersebut dipindahkan lagi di Commonwealth War Cemetary, Menteng Pulo, Jakarta. Hingga sekarang misteri kematian Mallaby belum terungkap jelas.(dari berbagai sumber)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
12 Juni 1819: Perang Menteng dimulai
Sabtu, 12 Juni 2021 - 06:12 WIB
Pada 12 Juni 1819 Perang Menteng pecah antara pihak Belanda dengan Kesultanan Palembang yang dipimpi...
10 Juni 2009: Jembatan Suramadu diresmikan
Kamis, 10 Juni 2021 - 06:11 WIB
Jembatan Nasional Suramadu atau dikenal dengan Jembatan Suramadu adalah jembatan yang melintasi Sela...
8 Juni 1921: Lahirnya Presiden kedua RI Soeharto
Selasa, 08 Juni 2021 - 06:11 WIB
Soeharto lahir di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta 8 Juni 1921. Ia lantas dikenal sebagai presiden kedua ...
27 April 2003: Ledakan bom di Bandara Sukarno Hatta
Selasa, 27 April 2021 - 06:11 WIB
Pada 27 April 2003, sebuah bom meledak dan mengakibatkan ruang tunggu di Terminal E dan F Bandar Uda...
24 April 1996: Tragedi Amarah 96
Sabtu, 24 April 2021 - 06:15 WIB
24 April 1996, tepatnya 25 tahun yang lalu suatu peristiwa tragis menimpa para pahlawan reformasi.. ...
14 April 2011: Wartawan senior Rosihan Anwar meninggal
Rabu, 14 April 2021 - 06:24 WIB
Wartawan senior Rosihan Anwar meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Jakarta dalam usia 89 tahun, pada K...
8 April 2015: Bom rakitan meledak di Tanah Abang, empat orang terluka
Kamis, 08 April 2021 - 06:35 WIB
Sekitar empat orang mengalami cedera akibat sebuah ledakan di permukiman padat penduduk di kawasan T...
28 Februari 2019: Gempa Solok, ratusan rumah rusak
Minggu, 28 Februari 2021 - 06:11 WIB
Gempa bumi mengguncang Solok Selatan dengan magnitudo 5,6. yang terjadi pada Kamis pagi, 28 Februari...
27 Februari 2013: Bus rombongan peziarah hantam tebing di Ciloto
Sabtu, 27 Februari 2021 - 06:12 WIB
Kecelakaan maut kembali terjadi di wilayah Kabupaten Cianjur. Kali ini kecelakaan terjadi pada sebua...
26 Februari 2019: Indonesia juara Piala AFF U-22
Jumat, 26 Februari 2021 - 06:10 WIB
Tim Nasional Indonesia U-22 berhasil menjadi juara Piala AFF U-22 2019. Usai mengalahkan Thailand de...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV