Dari Godzilla ke Pokemon, menyelami budaya karakter Jepang
Elshinta
Minggu, 08 November 2020 - 12:00 WIB |
Dari Godzilla ke Pokemon, menyelami budaya karakter Jepang
Pikachu (Pixabay)

Elshinta.com - Selama beberapa dekade, Jepang telah menciptakan karakter ikonik terkenal di dunia seperti Godzilla, Pikachu, Hello Kitty hingga Mario.

Hubungan erat antara Jepang dan karakter-karakter uniknya menjadi tema perbincangan dalam master class Japanese Animation di Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) pekan ini.

Profesor Studi Manga dan Teori Media Tomoyo Iwashita, kritikus fiksi ilmiah dan pengajar di Japan Academy of Moving Images Naoya Fujita dan Programming Advisor Japanese Animation di TIFF Ryota Fujitsu saling berdiskusi mengenai tema ini.

Perbincangan dimulai dari Pokemon yang hadir dalam bentuk video game, film, hingga pernak-pernik. Iwashita menyebutkan, film "Pokemon: The First Movie" sangat dipengaruhi budaya pop Jepang masa lampau.

"Pengaruh Astro Boy dalam film ini sangat besar," kata dia, dikutip dari siaran resmi TIFF, Minggu.

Fujita mengamini, dia juga melihat ada kesamaan antara Godzilla dan Akira, dua karakter ikonik tentang peneliti yang berkreasi seakan dirinya Tuhan dan hasilnya justru kacau balau.

"Anime mengangkat tema yang rumit dan membuat anak-anak lebih mudah memahaminya. Itulah hebatnya anime," tutur Fujita.

Salah satu alasan mengapa Pokemon begitu digemari adalah deretan monster menggemaskan yang dihadirkan menyentuh "budaya karakter" Jepang, di mana karakter maskot bisa dilihat secara virtual di mana saja.

"Tentu saja karakter kita itu benda mati, bukan makhluk betulan. Tapi pada sat bersamaan, kita tidak menganggap mereka sebagai ciptaan belaka, kita menganggapnya hidup," kata Fujita.

Alasannya mengapa Jepang menyukai karakter-karakter bisa ditelusuri ke masa lampau, mulai dari budaya animisme, bahwa semua benda di dunia memiliki roh.

Kepercayaan itu mungkin salah satu alasan mengapa film "Spirited Away" dari Hayao Miyazaki betul-betul populer.

"Ceritanya tentang masuk ke hutan dan menemukan dewa-dewa Jepang," katanya. "Saya kira di lubuk hatinya banyak orang Jepang mencari cerita seperti itu."

Seiring perkembangan teknologi, karakter Jepang juga berevolusi. Game Pokemon, di mana pemainnya menangkap dan melatih monster, didasari pengalaman sang pembuat game saat menangkap serangga di desa kampung halamannya.

Fujita dan Iwashita sama-sama mencatat bahwa seiring waktu berjalan, karakter Jepang dibuat semakin lucu dan menggemaskan.

Godzilla, misalnya, adalah simbol simbol bahaya perang nuklir yang menakutkan ketika pertama kali muncul pada tahun 1954. Namun selama bertahun-tahun, Godzilla berubah menjadi semacam pahlawan anak-anak yang dicintai. Tren karakter yang menggemaskan tidak selalu positif, kata Fujita.

“Karakter seperti Godzilla bisa menjadi penghubung untuk memahami hal-hal seperti perang dan bencana alam,” katanya. “Jadi mengubah hal-hal negatif itu menjadi menggemaskan dan positif mungkin berbahaya, terutama bagi anak-anak.”

Saat ditanya kemana tren karakter saat ini akan menuju, Iwashita menyebut game augmented reality di smartphone yang membuat pemain bisa berinteraksi dengan karakter favoritnya di dunia nyata.

Fujita menuturkan prognosis di mana budaya karakter mungkin berujung kepada kepunahan manusia.

"Kita sudah melihat ini di Jepang. Daripada menjalin hubungan, menikah dan berkeluarga, bagi sebagian orang terasa lebih menyenangkan menikmati hidup dengan karakter favorit mereka."

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Seniman Sulsel merefleksikan keprihatinan COVID-19
Selasa, 17 November 2020 - 07:15 WIB
Sejumlah seniman berkolaborasi merefleksikan keprihatinan terhadap dampak virus corona (COVID-19) ya...
Menpora buka uji publik Penyusunan Grand Design Keolahragaan di Sumut
Kamis, 12 November 2020 - 18:45 WIB
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia melakukan uji publik Penyusunan Grand...
Dari Godzilla ke Pokemon, menyelami budaya karakter Jepang
Minggu, 08 November 2020 - 12:00 WIB
Jepang dan karakter-karakter uniknya menjadi tema perbincangan dalam master class Japanese Animati...
Relaksasi sektor hiburan namun tetap terapkan protokol kesehatan
Jumat, 23 Oktober 2020 - 10:27 WIB
Sektor hiburan menjadi salah satu tonggak penting dalam menopang perekonomian di Kota Bandung, di te...
Gara-gara pandemi, Lee Joon-gi tak bisa latihan jiujitsu
Jumat, 25 September 2020 - 12:46 WIB
Aktor Korea Selatan Lee Joon-gi juga merasakan ruang gerak yang terbatas akibat pandemi COVID-19. Sa...
Presenter Emmy 2020 akan kenakan APD lengkap
Minggu, 20 September 2020 - 14:29 WIB
Para presenter penghargaan Emmy 2020 akan mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap berupa setela...
Festival Tari Jaipong Kreasi tingkat Nasional dibuka besok
Senin, 31 Agustus 2020 - 20:27 WIB
Festival Jaipong Kreasi Tingkat Nasional mulai besok dibuka. Bagi yang berminat bisa melakukan penda...
Menparekraf pastikan bioskop terapkan protokol kesehatan
Minggu, 12 Juli 2020 - 10:29 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusuba...
SAG Awards ditunda hingga Maret 2021
Minggu, 05 Juli 2020 - 15:28 WIB
Acara penghargaan Screen Actors Guild (SAG) Awards ke-27 akan ditunda, dan dipastikan akan diselengg...
Gitar Kurt Cobain di `MTV Unplugged` laku Rp85 miliar
Senin, 22 Juni 2020 - 09:11 WIB
Gitar Kurt Cobain yang dimainkan dalam acara `MTV Unplugged` pada 1993 terjual dengan harga 6 juta d...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV