MemoRI 23 November
23 November 1947: Peristiwa Gerbong Maut Bondowoso
Elshinta
Penulis : | Editor : Administrator
23 November 1947: Peristiwa Gerbong Maut Bondowoso
Gerbong maut (roodebrugsoerabaia.com)

Elshinta.com - Sejak agresi Belanda yang kembali datang ke Indonesia dengan membonceng Sekutu, gejolak perjuangan terjadi di mana-mana. Tak hanya di wilayah yang diakui kedaulatannya oleh Belanda, tapi juga di daerah lain, seperti di Bali yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai.

Salah satu peristiwa memilukan, yakni peristiwa yang dikenang sebagai Gerbong Maut. Peristiwa pemindahan tahanan pejuang Indonesia oleh Belanda dari Bondowoso ke Wonokromo, Surabaya. Peristiwa itu lebih sesuai disebut pembunuhan.

Para tawanan dimasukkan ke dalam gerbong yang terbuat dari seng. Bisa dibayangkan panasnya seperti apa. Ventilasi udara juga tidak ada, Belanda sudah menutup lubang-lubang pada gerbong supaya para tawanan tidak melihat apapun yang bisa dipakai sebagai jejak. Tak ada air minum, dan tentu saja tidak ada makanan.

Para pejuang banyak yang tertangkap, salah satunya Boengkoes. Anggota pasukan Semut Merah yang kemudian bergabung pada Batalyon Andjing Laut. Pada Jurnal Indonesia No.78 yang berjudul “The World of Sergeant Major Boengkoes” (2004) disebutkan banyak pasukan republik yang terbunuh dan mereka yang selamat mengungsi ke daerah pegunungan.

Seorang Komandan Polisi Maesan, Bondowoso bernama Koeswari juga ditangkap. Menurut keterangan di buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan di Jawa Timur (1991) Koeswari tertangkap dari laporan orang-orang Indonesia yang menjadi mata-mata Belanda

Koeswari diserahkan pada keamanan Brigade Marinir Belanda alias Veiligheids Dienst Mariniers Brigade (VDMB) di Jalan Jember, Bondowoso, 14 November 1947. Di buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 (2016), VDMB adalah “badan intelijen yang terkenal dengan penanganan keras”.

Koeswari juga tak luput dari penyiksaan serdadu Belanda. Bersama tawanan lain ia lalu dipenjarakan di Bondowoso. Tawanan lain pun terus menyusul masuk di antaranya Singgih, yang dikepung dan tertangkap di rumahnya. Singgih kemudian disekap di WC sebelum dibawa.

Sampai Sabtu sore 22 November 1947 para tawanan masih diberi makan. Setelah itu dikembalikan ke dalam sel. Beberapa berkemas tanpa tahu akan dipindahkan ke mana. Tak ada yang paham jatah makan yang selesai mereka santap sore itu, adalah makanan terakhir yang mereka makan.    

Tengah malam lebih kurang pukul 01.00 mereka dibangunkan. Pukul 05.15 para tahanan dikeluarkan dari sel dan berbaris di halaman penjara Bondowoso. Dari surat yang ditulis oleh Letnan Dua van den Dorpe para tawanan akan dikirim ke Surabaya. Pukul 05.30 mereka digiring ke Stasiun Bondowoso. Pukul 07.30 kereta berangkat. Hari masih pagi dan udara segar.

Gerbong pertama dengan kode GR 10152 diisi 38 orang, gerbong kedua dengan kode GR 4416 diisi 29 orang dan gerbong ketiga dengan kode GR5769 diisi 33 orang.

Pukul 08.00 WIB, kereta berhenti di Stasiun Kalisat, Jember, menungggu rangkaian dari Banyuwangi untuk digandengkan dan menuju Surabaya. Gerbong tertutup yang terbuat dari seng, menyebabkan udara pengap dan panas. Perjalanan menuju Jember dimulai, setelah rangkaian kereta dari Banyuwangi datang.

Sepanjang perjalanan Kalisat menuju Jember muncul teriakan dari dalam gerbong. Beberapa tawanan mulai menggedor-gedor gerbong minta diberikan ventilasi udara. Pukul 10.30 suara dari dalam gerbong makin keras terdengar. Bunyi cakaran di dinding dan teriakan semakin keras dan menjadi-jadi.

Perjalanan dari Bondowoso hingga Surabaya lebih kurang 240 kilometer, ditempuh lebih 13 jam, dengan kondisi matahari terik. Para tawanan tidak makan dan minum. Namun Belanda tak hiraukan keadaan itu. Perjalanan tetap dilanjutkan. Suara tawanan hilang saat kereta berada di antara Bangil dan Sidoarjo.

Pukul 19.30 kereta tiba di Wonokromo Surabaya. Saat gerbong dibuka, 90 orang pingsan dan beberapa meninggal dunia. Sepuluh orang lainnya dalam kondisi masih bisa bergerak, kondisinya tidak baik.

Gerbong pertama dengan kode GR 10152 diisi 38 orang, semua tawanan meninggal. Gerbong kedua 29 orang, dua orang meninggal, sedang 33 orang di gerbong ketiga, semua masih hidup. Evakuasi terakhir, korban meninggal sebanyak 46 orang.

Peristiwa itu kemudian dijuluki gerbong maut. Banyak pejuang bangsa yang ditawan Belanda meninggal dalam gerbong tersebut. Sebagai peringatan, di Alun-alun Kota Bondowoso dibangun Monumen Gerbong Maut.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kepala BPKAD Langkat sebut tudingan penyelewengan DAK  tidak mendasar
Rabu, 27 Januari 2021 - 11:57 WIB
Tudingan sekelompok massa kepada Bupati Langkat Terbit Rencana PA beserta jajaran, menyelewengkan da...
Presiden Jokowi dapatkan vaksinasi COVID-19 kedua
Rabu, 27 Januari 2021 - 09:34 WIB
Presiden Joko Widodo mendapatkan vaksinasi COVID-19 kedua kalinya masih dengan vaksin Sinovac yang d...
Pasangan Nasrul Abit-Indra Catri minta KPU anulir suara Mahyeldi-Audy
Rabu, 27 Januari 2021 - 06:45 WIB
Pasangan Calon Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit-Indra Catri meminta KPU Sumbar menganulir peroleh...
MK ingatkan permohonan sengketa pilkada tidak dapat diperbaiki lagi
Selasa, 26 Januari 2021 - 19:29 WIB
Mahkamah Konstitusi mengingatkan pemohon tidak lagi dapat memperbaiki substansi permohonan perselisi...
Polri bantah adanya perwira Polri menganggur
Selasa, 26 Januari 2021 - 19:17 WIB
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menegaskan bahwa tida...
DPRD Sukoharjo resmi usulkan jadwal pelantikan 
Selasa, 26 Januari 2021 - 17:11 WIB
DPRD Sukoharjo, Jawa Tengah menggelar rapat paripurna pengumumam hasil penetapan pasangan calon ter...
Menlu: vaksinasi WNI di luar negeri mengacu kebijakan negara setempat
Selasa, 26 Januari 2021 - 16:56 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan bahwa proses vaksinasi COVID-19 bagi warga negara Indo...
Diduga langgar hukum, Indonesia sita kapal tanker Iran dan Panama
Selasa, 26 Januari 2021 - 15:36 WIB
Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI menyita dua kapal tanker, masing-masing berbendera Iran dan Panama,...
Legislatif minta Polri tindak tegas aksi rasisme
Selasa, 26 Januari 2021 - 12:47 WIB
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta Polri menindak tegas dugaan aksi rasisme yang di...
Presiden kunjungi Sumsel resmikan Jalan Tol Kayu Agung-Palembang
Selasa, 26 Januari 2021 - 12:11 WIB
Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Palembang, Sumatera Selatan untuk meresmikan Jalan...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV