MemoRI 18 Januari
18 Januari 1999: SH Mintardja meninggal, tetapi komiknya belum tamat
Elshinta
Penulis : | Editor : Administrator
18 Januari 1999: SH Mintardja meninggal, tetapi komiknya belum tamat
Salah satu cover komik Api di Bukit Menoreh-ist

Elshinta.com - SH Mintardja penulis komik silat Nusantara yang sangat produktif. Hingga tutup usia, salah satu karyanya yang berjudul Api di bukit Menoreh belum juga tamat.

Lahir di Yogyakarta 26 Januari 1933 dengan nama Singgih Hadi Mintardja. Setelah tamat SMA, SH Mintardja bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan sekitar tahun 1958. Terakhir ia bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Dekdikbud DIY sampai pensiun pada 1989.

Kawan-kawan memanggilnya Pak Singgih. Pengetahuan SH Mintardja yang luas tentang sejarah ditambah mendalami kitab Babat Tanah Jawi --yang tulisannya masih menggunakan huruf Jawa-- melahirkan karya Nagasasra dan Sabuk Inten.

Cerita dengan latar kerajaan Demak ini melahirkan sosok Mahesa Jenar. Kisah sebanyak 28 jilid ini meledak di  pasaran, banyak pembaca yang suka. Namun tak sedikit yang terkecoh, mengira Mahesa Jenar betul-betul ada dalam sejarah Demak. Persatuan sepak bola Semarang menggunakan Mahesa Jenar sebagai nama timnya.

Sebagai sandiwara radio, Nagasasra dan Sabuk Inten tak kalah heboh, sama sama meledak. Pendengar dibikin tegang menunggu aksi ajian andalan Mahesa Jenar, pukulan Sasra Birawa yang menggeledek.

“Padahal saya memperoleh nama itu begitu saja. Rasanya kalau diucapkan sangat indah dan kalau didengar kok enak,” kata Mintardja dalam buku Apa dan Siapa Orang Yogyakarta edisi 1995.

Belum surut meriah buku Nagasasra dan Sabuk Inten di pasaran, Mintardja sudah menulis kisah Pelangi di Langit Singasari --dimuat di harian Berita Nasional 1970-an—yang dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan  Hijaunya Lereng Pegunungan.

SH Mintardja seperti tak lelah menulis, pada 1967 ia menulis lagi cerita, judulnya Api di Bukit Menoreh. Kisah berdirinya kerajaan Mataram ini melahirkan banyak tokoh di dalamnya, ada Agung Sedayu, Swandaru, Kiai Gringsing hingga Glagah Putih dan Rara Wulan.

Salah seorang penggemar SH Mintardja menyebut, Api di Bukit Menoreh jika dijajarkan bisa melebihi jarak Anyer – Panarukan. Api di Bukit Menoreh yang juga dibikin film itu ditulis hingga 400 jilid lebih.

Cerita silat lainnya yang diangkat ke layar lebar adalah Tanah Warisan. Di film, judulnya diganti menjadi Sisa-sisa Laskar Pajang pada 1972.

Selain menulis cerita silat, Mintardja juga menulis cerita ketoprak antara lain, Prahara, Ampak-ampak Kaligawe dan Kembang Kecubung.

Ia juga menulis cerita dengan warna yang lebih pop yang digali dari kehidupan sehari-hari dan tidak keraton sentris di antaranya, Bunga di Atas Batu Karang, Mas Demang dan Mendung di Atas Cakrawala.

SH Mintardja berpulang 18 Januari 1999 tepat 22 tahun yang lalu. Ia meninggal di RS Bethesda Yogyakarta setelah dirawat sebulan karena sakit ginjal dan jantung.

Pemakamannya dihadiri banyak pejabat daerah dan seniman di antaranya, Butet Kertarejasa dan Yati Pesek.

Menurut putranya yang tertua, Andang Suprihadi, Mintardja sudah lama mengidap sakit jantung coroner, sejak 1989 namun tetap berkarya. “Bapak memang penuh semangat kalau sudah menulis. Kalau sudah khusyuk menulis tidak ada yang berani mengganggunya,” kata Andang seperti dilaporkan harian Kompas.

Andang menambahkan, kisah Api di Bukit Menoreh, sejak pertama kali dimuat di surat kabar pada 1968 belum juga selesai hingga Mintardja tutup usia.

“Sudah sampai Api di Bukit Menoreh IV/59. Jadi artinya sudah 459 jilid buku. Ceritanya masih terus jalan,” katanya.

Atas karya-karyanya dalam dunia menulis SH Mintardja dianugerahi penghargaan, di antaranya Sang Hyang Kamahayanikan Award dari panitia Borobudur Writers and Cultural Festival tahun 2012 waktu itu mengusung tema “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”.

(berbagai sumber: kompas, tirto id, xat289.wordpress)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
28 Februari 2019: Gempa Solok, ratusan rumah rusak
Minggu, 28 Februari 2021 - 06:11 WIB
Gempa bumi mengguncang Solok Selatan dengan magnitudo 5,6. yang terjadi pada Kamis pagi, 28 Februari...
27 Februari 2013: Bus rombongan peziarah hantam tebing di Ciloto
Sabtu, 27 Februari 2021 - 06:12 WIB
Kecelakaan maut kembali terjadi di wilayah Kabupaten Cianjur. Kali ini kecelakaan terjadi pada sebua...
26 Februari 2019: Indonesia juara Piala AFF U-22
Jumat, 26 Februari 2021 - 06:10 WIB
Tim Nasional Indonesia U-22 berhasil menjadi juara Piala AFF U-22 2019. Usai mengalahkan Thailand de...
25 Februari 2020: Dampak banjir, motor boleh lewat jalan tol
Kamis, 25 Februari 2021 - 06:11 WIB
Imbas dari hujan intensitas tinggi yang terjadi di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, da...
24 Februari 1966: Aksi mahasiswa berujung tertembaknya Arif Rahman Hakim 
Rabu, 24 Februari 2021 - 06:12 WIB
Pada tanggal 24 Februari 1966, tepat hari ini 55 tahun lalu. Berbagai kelompok mahasiswa memblokir j...
23 Februari 2018: Tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung dilanda banjir
Selasa, 23 Februari 2021 - 06:14 WIB
Hujan deras disertai angin kencang yang melanda kawasan Bandung raya beberapa hari terakhir membuat ...
22 Februari 2013: KPK tetapkan Anas Urbaningrum tersanka Hambalang
Senin, 22 Februari 2021 - 06:15 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebaga...
21 Februari 1949: Akhir hayat Tan Malaka, tewas dieksekusi
Minggu, 21 Februari 2021 - 06:11 WIB
Salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka, mati secara tragis di tangan bangsanya send...
20 Februari 2015: Bus rombongan pengajian terguling, belasan orang tewas
Sabtu, 20 Februari 2021 - 06:11 WIB
Kecelakaan tunggal berujung maut terjadi di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat 20 Februari 2015. Sebu...
19 Februari 2020: Napi terorisme jaringan Santoso bebas
Jumat, 19 Februari 2021 - 06:13 WIB
Seorang narapidana kasus terorisme (Napiter) bernama Setiawan Hadi Putra alias Ijul (36) dinyatakan ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV