Pemkot Bandung lakukan perubahan paradigma pengelolaan sampah
Elshinta
Senin, 22 Februari 2021 - 15:48 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
Pemkot Bandung lakukan perubahan paradigma pengelolaan sampah
Sumber foto: Dudi Supriyadi/elshinta.com.

Elshinta.com - Tepat 16 Tahun yang lalu, 21 Februari 2005 dunia dikejutkan dengan sebuah tragedi bencana yang diakibatkan oleh longsornya sampah di TPA Leuwigajah yang menyebabkan 147 orang tewas. Tragedi ini seakan membangunkan Bandung dan Indonesia dari bom waktu potensi masalah sampah. 

Kejadian ini pun mengilhami lahirnya hari peduli sampah nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup  (KLH) pada tahun 2006 yang diperingati setiap tanggal 21 Februari. Tragedi ini diperingati untuk diambil pelajarannya bukan untuk diulang tentunya. 

Direktur PD Kebersihan Kota Bandung, Gun Gun Saptari Hidayat menilai, ada sebuah shocking statement terkait peristiwa tersebut, yaitu bahwa “membuang sampah pada tempatnya ternyata bukan perilaku yang baik”. 

Tentu saja statement tersebut mengejutkan, karena statement tersebut memang belum lengkap. Sedangkan kalimat lengkapnya adalah “membuang sampah pada tempatnya adalah bukan perilaku yang baik, jika masih dicampur”.  

"Pola kita selama ini membuang sampah pada tempatnya dan mencampuradukkan sampah lalu dibuang ke petugas kebersihan atau dengan istilah campur sampah-kumpul-angkut-buang ternyata bukan solusi terbaik," ujarnya kepada Humas Setda Kota Bandung, Senin 22 Februari 2021.

Menurutnya, pola ini belum sepenuhnya menyelesaikan masalah tapi lebih kepada memindahkan masalah. Masalah sampah hanya berpindah dari rumah ke petugas kebersihan kemudian ke TPS lalu ke mobil truk pengangkut sampah dan berakhir di TPA. Sedangkan kondisi TPA semakin hari semakin penuh sampah dan pada akhirnya akan overload. 

Sebagai bagian dari mengambil refleksi peristiwa Bandung Lautan Sampah 2005 tersebut, saat ini Pemerintah Kota Bandung mencoba melakukan sebuah perubahan paradigma dari campur-kumpul-angkut-buang sampah menjadi kurangi-pisahkan-manfaatkan sampah (Kang Pisman) yang dalam istilah lain konsep ini juga disebut dengan istilah Zero Waste is Lifestyle atau di dunia ekonomi menyebutnya konsep circular economy. Inilah sesungguhnya kunci peradaban baru dalam pengelolaan sampah.

"Dalam konsep Kang Pisman, idealnya sampah dipisahkan menjadi 3 jenis sejak dari sumber dan dimanfaatkan. Untuk sampah jenis pertama, sampah organik (sisa makanan dan tumbuhan) sebisa mungkin dikembalikan ke alam atau disedekahkan ke binatang," jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Dudi Supriyadi, Senin (22/2).

Metodenya bisa dari mulai yang paling sederhana membuat lubang sampah, lubang biopori atau metode pengomposan seperti takakura, komposter, bata terawang ataupun disedekahkan pada binatang untuk menjadi pakan ayam, maggot dan lainnya. Intinya sampah organik tidak lagi dibuang ke petugas.

Untuk sampah jenis kedua, sampah daur ulang bisa disetorkan ke bank sampah atau bisa juga sedekah sampah. Barulah sampah jenis ketiga, sampah sisa atau residu yang masih dibuang ke petugas kebersihan dan berakhir di TPA. 

"Bagi masyarakat yang halaman rumahnya tidak memadai, maka bisa dilakukan secara komunal dengan berkoordinasi dengan RW, Lurah dan Camat setempat. Inilah juga konsep desentralisasi dalam pengelolaan sampah," tutur Gun Gun.

Ia berpendapat, untuk menerapkan konsep ini tidak mudah dan membutuhkan proses, karena menyangkut perubahan budaya dan juga sistem secara bersamaan. Juga dibutuhkan kolaborasi dengan semua pihak unsur dari mulai pemerintahan hingga masyarakat setempat. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pertamina kerahkan sejumlah kapal tangani kebocoran pipa di Karawang
Selasa, 20 April 2021 - 15:44 WIB
PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) mengerahkan sejumlah kapal untuk member...
Pemerintah upayakan flora-fauna Papua tidak hanya jadi cerita legenda
Sabtu, 17 April 2021 - 18:25 WIB
Pemerintah melalui Balai Taman Nasional Lorentz mengupayakan flora dan fauna di hutan Papua tidak ha...
Pohon adat Sialang ditetapkan Kementerian LHK sebagai pohon dilindungi
Kamis, 15 April 2021 - 18:45 WIB
Kementerian LHK menetapkan pohon Adat Sialang sebagai jenis flora yang dilindungi sehingga Lembaga A...
Tunjuk swasta kelola 92 titik sampah, DLHK usulkan perbup
Rabu, 14 April 2021 - 14:55 WIB
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang bakal menyerahkan pengelolaan sampah ke pihak ...
Pemprov Kalsel galakan `Program Satu Juta Pohon`
Kamis, 08 April 2021 - 13:46 WIB
Penjabat Gubernur Kalsel, Safrizal ZA menanam pohon endemik Kalsel, yaitu Kasturi di Kebun Raya Ban...
 Pemerintah Desa Keleng tanam 1.000 pohon produktif
Senin, 05 April 2021 - 11:11 WIB
Komandan Koramil (Danramil) 06 Kesugihan Kapten Inf Sueb turut mendukung program penghijauan yang di...
Menteri LHK minta persemaian dan penghijauan mulai dilakukan di IKN
Minggu, 04 April 2021 - 16:36 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar meminta jajarannya untuk segera memulai pe...
BPPT terjunkan tim TMC untuk tingkatkan TMA Danau Toba
Minggu, 04 April 2021 - 13:55 WIB
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) akan dioperasikan di daerah tangkapan air Danau Toba, Sumatera Utar...
Kolaborasi kunci atasi kompleksitas permasalahan lingkungan hidup
Minggu, 04 April 2021 - 13:35 WIB
Kementerian LHK menyelenggarakan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Direktorat Jenderal Pengendalian Penc...
KLHK: 3,3 juta hektare kebun kelapa sawit terindikasi berada di dalam kawasan hutan
Selasa, 30 Maret 2021 - 17:45 WIB
Areal perkebunan kelapa sawit yang menurut indikasi berada di dalam kawasan hutan luasnya 3,3 juta h...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV