MemoRI 02 Maret
2 Maret 1957: Pemberontakan Permesta, tokoh utama hidup makmur di bawah Orba karena amnesti dan abolisi
Elshinta
Penulis : | Editor : Administrator
2 Maret 1957: Pemberontakan Permesta, tokoh utama hidup makmur di bawah Orba karena amnesti dan abolisi
Sumual berpidato di depan massa di Langowan. FOTO WIKIPEDIA

Elshinta.com - Permesta adalah suatu gerakan militer di Indonesia. Gerakan ini dideklarasikan oleh pemimpin militer dan sipil Indonesia bagian timur pada tanggal 2 Maret 1957.

Pusat gerakan awalnya ada di Makassar yang waktu itu menjadi ibu kota Sulawesi. Namun pelan-pelan dukungan di Sulawesi Selatan hilang dan pada 1957 markas Permesta pindahkan ke Manado di Sulawesi Utara.

Kontak senjata dengan pasukan pemerintah pusat terus berlangsung sampai terjadi gencatan senjata pada tahun 1961.

Banyak hal yang jadi latarbelakang pemberontakan Permesta, di antaranya, kelompok etnis tertentu di Sulawesi dan Sumatera Tengah merasa kebijakan pemerintahan dari Jakarta mandek pada pemenuhan ekonomi lokal mereka saja.

Sementara urusan pengembangan daerah regional terabaikan. Lalu, ada rasa benci terhadap kelompok suku Jawa, yang merupakan suku dengan jumlah terbanyak dan berpengaruh dalam negara kesatuan Indonesia yang baru saja terbentuk.

Ajang politik Indonesia terpusat di pulau Jawa, dinilai menimbulkan ketidakseimbangan, padahal sumber-sumber perekonomian negara lebih banyak berasal dari pulau-pulau lain. Konflik pun condong pada pemisahan diri dari negara Indonesia, meski menitikberatkan pada pembagian kekuatan politik dan ekonomi yang lebih adil di Indonesia.

Pada awal tahun 1957, pimpinan daerah di Makassar dari pemerintah dan dari militer datang ke Jakarta. Mereka bertemu KASAD Jenderal Abdul Haris Nasution. Begitu pun Gubernur Sulawesi Andi Pangerang Pettarani bertemu dengan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan Menteri Dalam Negeri R. Sunarjo.

Secara umum, mereka mendesak pemerintah pusat tentang pembagian otonomi daerah yang lebih besar dan pembagian pendapatan pemerintah yang lebih banyak untuk daerah untuk proyek-proyek pembangunan.

Termasuk Panglima TT-VII Letkol Ventje Sumual. Ia datang bersama Andi Burhanuddin dan Henk Rondonuwu meluncur ke Jakarta. Namun pada 1 Maret 1957 mereka kembali ke Makassar kerena upaya mereka tidak berhasil.

Sebelumnya, pada 25 Februari 1957, sudah berlangsung rapat pimpinan pemerintah dan militer di Makassar yang merencanakan proklamasi Permesta bila tidak ada tanggapan konkrit dari pemerintah pusat.

Pada 2 Maret 1957 pukul 03.00 di kediaman gubernur di Makassar dan di hadapan sekitar 50 hadirin, Sumual memproklamasikan keadaan perang untuk seluruh wilayah TT-VII yaitu seluruh wilayah Indonesia timur.

Lahade membacakan Piagam Perjuangan Semesta atau Piagam Permesta. Pada bagian akhir piagam tersebut dibahas mengenai "TJARA-TJARA PERDJOANGAN" dituliskan bahwa "pertama-tama dengan mejakinkan seluruh pimpinan dan lapisan masjarakat, bahwa kita tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia, dan semata-mata diperdjoangkan untuk perbaikan nasib rakjat Indonesia dan penjelesaian bengkalai revolusi Nasional." Piagam tersebut ditanda-tangani para hadirin.

Setelah pembacaan piagam, disusul pidato Gubernur Andi Pangerang yang meminta agar semua tetap tenang dan tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Hari berikutnya, susunan pemerintahan militer diumumkan di mana Sumual menjabat sebagai administrator militer dengan Lahade sebagai kepala staf. Terdapat juga Dewan Pertimbangan Pusat yang beranggotakan 101 orang dan empat gubernur militer di bawah Sumual.

Pada hari yang sama Permesta diproklamirkan, Nasution mengirim radiogram kepada Sumual dan juga kepada Kolonel Sudirman yang pada waktu itu adalah Komandan Ko-DPSST. Ia menginstruksikan kepada mereka agar tidak mengambil tindakan yang dapat membahayakan keamanan tentara dan rakyat di Makassar.

Namun kiprah Permesta terus berlanjut, pemberontakan terjadi di beberapa wilayah hingga AURI melakukan pengeboman di Manado. Suasana makin keruh, pihak asing ikut campur tangan. CIA memberikan support, dari dukungan jaringan misi rahasia, senjata hingga kebutuhan pesawat kepada Permesta. 

Upacara puncak pada tanggal 12 Mei 1961 di dekat Tomohon. Sebagai langkah paling akhir, inspeksi oleh Nasution selaku Menteri Pertahanan/KASAD terhadap pasukan Permesta. Nasution mengambil kesempatan bertemu dengan Kawilarang.

Sumual dan pasukannya masih bersikeras. Baru pada tanggal 20 Oktober 1961 setelah ia mendengar bahwa Presiden Republik Persatuan Indonesia (RPI) mengumumkan berakhirnya permusuhan dengan Republik Indonesia, Samual menyerahkan diri.

RPI adalah negara yang dibentuk untuk menggabungkan pemberontakan-pemberontakan di seluruh wilayah Indonesia. Bergabungnya Permesta dalam RPI didukung oleh Sumual, tapi ditentang oleh Kawilarang dan Warouw.

Sumual menyerah tanpa syarat pada 1961. Ia mendekam di Rumah Tahanan Militer di Jakarta. Sumual langsung dibebaskan begitu Soeharto memegang kendali pemerintahan RI sejak 1966.

Sejak itu, kehidupan Sumual semakin baik, ia memimpin perusahaan dan aktif di beberapa yayasan di bawah naungan Orde Baru. Sumual menikmati masa-masa makmur hingga meninggal pada 28 Maret 2010 di Jakarta dalam usia 86 tahun.

Pemberian amnesti dan abolisi kepada mereka yang terlibat dengan Permesta resmi diberikan dengan keluarnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 322 Tahun 1961. Keppres ini dikeluarkan pada tanggal 22 Juni 1961. Sumual termasuk orang yang memperoleh amnesti.

sumber: wikipedia, tirto.id

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Anggota DPR: Belum ada kepastian pembahasan RUU Ibu Kota Negara
Kamis, 15 April 2021 - 13:10 WIB
Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Guspardi Gaus mengatakan hingga saat ini belum ada kepastian ...
PPP dan PKS teken nota kesepahaman sepakat jaga demokrasi di Indonesia
Rabu, 14 April 2021 - 23:23 WIB
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meneken nota kesepahaman beri...
Kepala RSPAD: Anggota DPR menjadi sampel vaksin Nusantara
Rabu, 14 April 2021 - 22:49 WIB
Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Letnan Jenderal TNI dr. Albertus Bu...
Legislatif nilai larangan mudik tak efektif
Rabu, 14 April 2021 - 14:12 WIB
Mengenai larangan mudik yang diberlakukan oleh pemerintah dalam rangka menekan angka penyebaran dan ...
DPRD Banjarmasin sesalkan 90 persen anggaran sungai dipotong
Rabu, 14 April 2021 - 08:30 WIB
Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) M Isnaini menyesalkan 90 persen ...
Dai milenial: Ramadhan momen perkuat silaturahmi dan kebangsaan
Selasa, 13 April 2021 - 17:59 WIB
Dai milenial Habib Husein Ja`far Hadar mengatakan bulan Ramadhan yang identik dengan menyucikan ji...
Mendorong peran aktif masyarakat tanggulangi terorisme dan radikalisme
Selasa, 13 April 2021 - 10:52 WIB
Masyarakat tidak boleh acuh tak acuh terhadap terorisme dan radikalisme karena ini merupakan paham y...
Ketua DPR: Ramadhan momentum tingkatkan kepedulian pada sesama
Selasa, 13 April 2021 - 10:19 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak masyarakat menjadikan bulan suci Ramadhan menjadi momentum untuk...
Presiden Jokowi dan Kanselir Jerman buka ajang Hannover Messe 2021
Senin, 12 April 2021 - 23:56 WIB
Presiden RI Joko Widodo hadir secara virtual dalam penyelenggaraan Hannover Messe 2021 dan bersama K...
DPR dukung semua kebijakan dapatkan vaksin
Senin, 12 April 2021 - 08:45 WIB
DPR akan mendukung semua kebijakan pemerintah untuk mendapatkan vaksin Covid-19 sebab pasokan vaksin...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV