MemoRI 08 Maret
8 Maret 1942: Belanda menyerah pada Jepang setelah diancam Bandung akan dibom jika diulur-ulur terus
Elshinta
Penulis : | Editor : Administrator
8 Maret 1942: Belanda menyerah pada Jepang setelah diancam Bandung akan dibom jika diulur-ulur terus
Perjanjian Kalijati antara Belanda dan Jepang di Jawa Barat 8 MAret 1942-tribunnews

Elshinta.com - Perjanjian Kalijati adalah perjanjian yang isinya penyerahan Indonesia dari Belanda ke Jepang 8 Maret 1942. Saat Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur pada 11 Januari 1942 disambut gembira, karena mereka memukul mundur tentara Hindia Belanda.

Kekuasaan Jepang akan wilayah atas Belanda terus berlanjut pada daerah-daerah lainnya di antaranya Banjarmasin, Samarinda, Palembang hingga ke Jawa.   

Pada 1 Maret 1942, tentara ke-16 Jepang mendarat di Teluk Banten, Eretan Wetan di Jawa Barat, dan Kragan di Jawa Tengah. Pada 5 Maret 1942, Jepang berhasil merebut Batavia dari Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, komandan dan pasukannya dipukul mundur ke Lembang, Jawa Barat. 

Pengepungan di Kalijati menjadi pintu masuk Jepang. Di sana ada landasan udara. Pada 6 Maret 1942 Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan di Bandung, Mayor Jenderal JJ Pesman untuk tidak melakukan pertempuran di Bandung.

Bandung sudah padat penduduk sipil, wanita dan anak-anak. Jika terjadi pertempuran bisa menelan banyak korban . 

Ter Poorten ingin berunding. Tanggal 7 Maret 1942 Lembang jatuh ke tangan Jepang. Jepang berhasil memaksa pasukan KNIL (Koninklijk Netherlandsch Indische Leger) di bawah komando Letjen Ter Poorten melakukan gencatan senjata.

Mayjen JJ Pesman pun mengirim utusan ke Lembang untuk melakukan perundingan. Kolonel Shoji minta perundingan dilakukan di Gedung Isola (sekarang dipakai sebagai Gedung Rektorat UPI, Bandung). Sementara, Jenderal Imamura yang dihubungi Kolonel Shoji memerintahkan agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkendborgh Strachouwer untuk mengadakan perundingan di Kalijati, Subang pada pagi hari tanggal 8 Maret 1942. 

Namun, Letjen Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal Tjarda untuk menolak usulan itu. Jenderal Imamura terpaksa mengeluarkan ultimatum. Jika pagi itu para petinggi Belanda belum juga ada di Kalijati, maka Bandung akan dibom sampai hancur.

Sebagai bukti ancaman itu bukan gertakan, sejumlah besar pesawat pengebom Jepang disiagakan di Pangkalan Udara Kalijati. 

Perkembangan semakin mencemaskan, Jenderal Ter Poorten pemimpin Angkatan Perang Hindia Belanda pada situasi kritis. Akhirnya Letjen Ter Poorten dan Gubernur Tjarda mengutus Mayjen JJ Pesman, untuk menghubungi Komandan Tentara Jepang dan melakukan perundingan.

Namun utusan ini ditolak mentah-mentah Imamura, ia hanya mau berbicara dengan Panglima Tentara Belanda atau Gubenur Jenderal. 

Perundingan yang pada akhirnya dilakukan di rumah dinas seorang perwira staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di Lanud Kalijati itu berlangsung singkat.

Belanda yang mencoba mengulur dengan menyatakan hanya Ratu Wilhelmina di Belanda yang punya kewenangan memutuskan, tidak digubris oleh Imamura. Ia tak memberi pilihan. Imamura minta agar Belanda mengumumkan lewat radio penyerahan diri Belanda.

Saat itu juga, Ter Poorten dan Tjarda secara resmi menandatangi dokumen kapitulasi atau penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda kepada Jepang. 

Pada 9 Maret 1942, Belanda menyiarkan penyerahan dirinya lewat radio. Ter Poorten dan Tjarda digiring masuk tahanan sebagai tawanan perang. Ia ditahan di sebuah rumah di Bandung, lalu dipindahkan ke penjara Sukamiskin.

Pada 2 Januari 1943, bersama tawanan internasional lainnya, Tjarda dibawa ke Formosa (Taiwan).

sumber: kompas


 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Lewat Halo Dok, warga bisa sampaikan `unek-unek` langsung kepada Wali Kota Magelang
Selasa, 20 April 2021 - 20:11 WIB
Wali Kota Magelang, dr. Muchamad Nur Aziz membuka selebar-lebarnya kesempatan kepada masyarakat untu...
KSP tegaskan hanya Presiden yang tahu soal `reshuffle` kabinet
Selasa, 20 April 2021 - 12:47 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan hanya Presiden yang mengetahui tentang perombakan atau...
DPP PBN ajak masyarakat tak terprovokasi Jozeph Paul Zhang
Selasa, 20 April 2021 - 11:13 WIB
Dewan Pimpinan Pusat Peduli Bangsa Nusantara (DPP PBN) mengajak seluruh kelompok masyarakat, terutam...
Ketua DPD RI percaya Presiden `reshuffle` sesuai kebutuhan
Selasa, 20 April 2021 - 09:15 WIB
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti percaya kepada Presiden Joko Wi...
Pemprov NTT puji gerak cepat TNI bangun kembali jembatan pascabencana
Senin, 19 April 2021 - 17:41 WIB
Provinsi Nusa Tenggara Timur Marius memuji upaya gerak cepat institusi TNI membangun kembali jembata...
Peneliti LIPI nilai langkah tepat Jokowi undang pakar bahas Ibu Kota baru
Senin, 19 April 2021 - 14:11 WIB
Peneliti Ahli Utama Kebijakan Publik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syafuan Rozi Soebhan...
Istri Kasad wujudkan impian kakak adik disabilitas pameran di Mabesad
Senin, 19 April 2021 - 12:21 WIB
Istri Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa, Hetty Andika Perkasa memba...
DPD Demokrat NTT ikhlaskan putusan MK soal Orient
Senin, 19 April 2021 - 11:00 WIB
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) partai Demokrat Nusa Tenggara Timur Jefry Riwu Kore menyatakan ikh...
Presiden Jokowi saksikan vaksinasi COVID-19 untuk para seniman
Senin, 19 April 2021 - 10:45 WIB
Presiden Joko Widodo menyaksikan secara langsung vaksinasi COVID-19 terhadap sekitar 500 orang senim...
KKB aniaya tukang bakso di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya
Senin, 19 April 2021 - 09:01 WIB
Kelompok kriminal bersenjata (KKB) diduga menjadi pelaku penganiayaan terhadap Asep Saputra (50 th) ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV