Ketahui gejala penyakit meningitis pada anak
Elshinta
Kamis, 08 April 2021 - 08:57 WIB |
Ketahui gejala penyakit meningitis pada anak
Ilustrasi meningitis atau infeksi selaput otak (ANTARA/Shutterstock)

Elshinta.com - Penyakit meningitis tak hanya menyerang orang dewasa, meningitis ternyata bisa mengintai anak-anak juga, dan perlu pencegahan.

"Penyakit ini memang jarang ditemukan, namun mematikan. Meningitis merupakan peradangan pada meningen atau selaput otak," kata dr Attila Dewanti, Sp.A(K),dikutip dari keterangan yang diterima ANTARA pada Kamis.

Dokter yang merupakan anggota dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu memaparkan, Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat meningitis. Meningitis sendiri, kata dia dapat diakibatkan oleh virus, kuman, parasit, maupun bakteri.

Dari berbagai macam penyebab meningitis, yang paling berbahaya adalah meningitis yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis.

"Meningitis yang disebabkan oleh bakteri tersebut dinamakan Invasive Meningococcal Disease atau disingkat IMD," kata dr Attila.

Jika ditangani tidak tepat, lanjut dia, 50 persen IMD bisa berakhir dengan kematian dan 5-10 persen kasus berakibat fatal walau sudah dilakukan terapi. Pada masa epidemi, IMD sendiri lebih banyak menyerang anak-anak dan dewasa muda. Sedangkan saat nonepidemi, IMD lebih banyak menyerang anak-anak dari usia 3 bulan hingga 5 tahun.

"Hanya dalam 24 jam saja kondisi anak bisa dapat berubah dari yang hanya panas menjadi berbahaya," jelasnya.

Dokter Attila pun memaparkan gejala anak di atas 1 tahun yang terkena IMD, antara lain demam, sakit pada punggung atau leher, sakit kepala, mual atau muntah-muntah, leher kaku, dan bercak ruam ungu kemerahan.

Kemudian pada bayi, gejala IMD tidak mudah untuk dilihat, namun gejala ini bisa menjadi perhatian para orang tua. Antara lain rewel, lesu, tidur sepanjang waktu, menolak menggunakan botol, menangis saat digendong dan tidak bisa ditenangkan saat menangis.

"Kemudian ubun-ubun yang menonjol (pada bayi), perubahan perilaku serta demam," kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu.

Atilla melanjutkan, terdapat beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya Invasive Meningococcal Disease, yaitu kontak erat dengan orang yang terinfeksi, asap rokok (aktif dan pasif), pemukiman yang padat, perubahan iklim, tingkat sosial ekonomi yang rendah dan riwayat infeksi saluran pernafasan atas.

Dia menegaskan, IMD memang dapat diobati, tapi IMD dapat meninggalkan 'jejak' seperti kelumpuhan, tuli, dan juga kerusakan otak.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, pencegahan terbaik untuk meningitis adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi diutamakan diberikan untuk anak-anak di bawah usia 5 tahun, dan juga anak kelompok usia remaja berusia 11-18 tahun. Saat ini vaksinasi untuk mencegah IMD sudah tersedia di Indonesia.

"Mari kita melindungi orang-orang tersayang kita dengan vaksinasi. Buat kamu yang ingin mendapatkan vaksinasi pencegah IMD, Anda bisa konsul ke dokter," tandas dokter yang kini berpraktek di RSIA Brawijaya tersebut.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pakar gizi : Sebaiknya tak suguhkan minuman bersoda saat Lebaran
Jumat, 14 Mei 2021 - 21:48 WIB
Pakar gizi di Gorontalo Arifasno Napu, Jumat, mengatakan masyarakat sebaiknya tidak menyuguhkan minu...
Pakar: Lepas masker di AS karena beda jenis vaksin dengan Indonesia
Jumat, 14 Mei 2021 - 21:24 WIB
Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengemuk...
Satgas: Sembuh COVID-19 bertambah 3.807 dan positif 2.633 orang
Jumat, 14 Mei 2021 - 20:56 WIB
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mencatat kasus sembuh COVID-19 di Indonesia bertambah seba...
Putus rantai penyebaran Covid-19, Abbott Panbio Antigen Nasal dukung program 3T
Jumat, 14 Mei 2021 - 13:11 WIB
Pandemi Covid 19 di Indonesia belum berakhir meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah sepe...
Dokter RSUI: Jangan lupa sayur dan buah usai santap hidangan Lebaran
Jumat, 14 Mei 2021 - 12:45 WIB
Pakar kesehatan mengingatkan Anda tak melupakan sayuran dan buah usai menyantap hidangan Lebaran yan...
Dokter sarankan atur jadwal camilan demi menjaga kadar gula tubuh
Jumat, 14 Mei 2021 - 11:30 WIB
Spesialis gizi dr. Amalia Primahastuti , M.Gizi, Sp.GK dari Ikatan Dokter Indonesia menyarankan untu...
Dokter sarankan tetap jaga jarak bila terpaksa ada di dalam kerumunan
Jumat, 14 Mei 2021 - 10:23 WIB
Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama memberi...
Berapa batasan jumlah santan yang boleh dikonsumsi setiap hari?
Rabu, 12 Mei 2021 - 15:15 WIB
Makanan penuh santan yang lezat menjadi tradisi hidangan Lebaran di Indonesia, sebut saja rendang, g...
Lindungi diri dari pandemi lewat silaturahmi virtual
Selasa, 11 Mei 2021 - 19:32 WIB
Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menghindari kerumunan saat Idul Fitri dengan cara meniada...
Ahli: Anak muda paling banyak terpapar COVID-19
Selasa, 11 Mei 2021 - 17:54 WIB
Tenaga Ahli Menteri Kesehatan bidang penanganan pandemi COVID-19 Dr Andani Eka Putra mengemukakan ya...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV