Lonjakan kasus COVID-19 India `alarm` untuk Indonesia
Elshinta
Selasa, 20 April 2021 - 23:29 WIB |
Lonjakan kasus COVID-19 India `alarm` untuk Indonesia
Ilustrasi - Penumpang bersiap menaiki kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (18/4/2021). Larangan pemerintah untuk mudik pada 6-17 Mei mendatang, membuat sebagian warga memilih mudik lebih awal. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.)

Elshinta.com - Pemerintah India memutuskan untuk mengunci wilayah Ibu Kota New Delhi selama sepekan ke depan, mulai Senin (19/4), menyusul lonjakan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 yang begitu masif.

Otoritas setempat melaporkan sebanyak 25.000 penduduk tertular SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 hanya dalam putaran waktu 24 jam pada Minggu (18/4).

Melansir laporan dari situs Worldometers pada Selasa (20/4), total kasus infeksi di India sudah mencapai 15.321.089 jiwa dengan laju angka kematian mencapai 180.550 jiwa. Sebanyak 13.108.582 orang di antaranya dinyatakan sembuh.

Berbagai pemberitaan media massa melaporkan situasi itu tidak lepas dari perilaku masyarakat India yang mulai acuh pada kepatuhan protokol kesehatan, khususnya dalam beberapa kegiatan ritual keagamaan.

Lonjakan jumlah pasien COVID-19 di India terpaut sekitar delapan kali lipat lebih banyak bila dibandingkan dengan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia pada hari yang sama, mencapai 1.614.849 kasus dengan angka kematian mencapai 43.777 jiwa dan 1.468.142 sembuh.

Menurut Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Sonny Harry B. Harmadi, lonjakan kasus di India merupakan "alarm" untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat Indonesia agar melakukan langkah antisipasi.

Alasannya, hingga saat ini masih ditemukan kemiripan karakteristik perilaku masyarakat pada beberapa daerah di Indonesia dalam hal kepatuhan terhadap protokol kesehatan maupun pelaksanaan ritual keagamaan.

"Ini mulai agak kendor dalam dua pekan terakhir dan itu berbahaya, terbukti kasus di DKI Jakarta mulai naik," katanya.

Protokol kesehatan yang kendor di antaranya perilaku masyarakat yang rutin berkerumun, mulai tidak menggunakan masker dan sejumlah langkah antisipasi penularan COVID-19 lainnya.

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dalam dua pekan terakhir, kasus aktif COVID-19 meningkat secara fluktuatif pada 5 April 2021 terdapat 6.075 kasus aktif dan sempat meningkat 6.884 kasus aktif pada 19 April 2021 karena aktivitas masyarakat yang mulai meningkat.

Selain itu, ritual keagamaan di India memiliki karakteristik yang sama dengan masyarakat di Provinsi Bali yang sebagian besarnya menganut kepercayaan agama Hindu.

Namun, Sonny tidak begitu mengkhawatirkan lonjakan kasus di "Pulau Dewata" itu', mengingat mayoritas warga masuk kriteria tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang tinggi.

"Bali protokol kesehatannya tinggi, mereka kasus naik karena orang yang datang ke sana. Mereka relatif tinggi kepatuhannya pada protokol 3M. Bali tidak terlalu mengkhawatirkan, hanya pendatangnya itu dan tempat-tempat wisata perlu lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan," katanya.

Tertinggal
Tingkat kepesertaan harian dalam program vaksinasi COVID-19 di Indonesia sebenarnya masih jauh tertinggal oleh India yang mampu memvaksin tiga juta orang per hari, sedangkan di Indonesia mulai mendekati 500 ribu orang per hari.

Oleh karena itu, wajar bila lonjakan kasus COVID-19 di India menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia, sebab penyuntikan vaksin belum memberikan jaminan bahwa penerima manfaat telah kebal dari penularan.

"Karena India itu sudah pernah berhasil menurunkan kasus terkonfirmasi positif hingga angkanya anjlok. Tapi tiba-tiba naiknya drastis luar biasa dan itu kita tidak perlu belajar saat mengalami, tapi cukup belajar dari orang lain," katanya.

Tidak ada satupun intervensi tunggal yang mampu menyelesaikan pandemi. Untuk itu pemerintah tetap menyelaraskan program 3T (Testing, Tracing, Treatment), 3M (Mencuci Tangan, Menghindari Kerumunan, dan Menggunakan Masker), serta yang terpenting ikut program vaksinasi nasional.

Bahkan, vaksinasi saja tidak cukup, karena tidak ada vaksin yang efikasinya mencapai 100 persen. Dengan tingkat efikasi vaksin di Indonesia saat ini berkisar 65 persen, masih ada 35 persen peluang untuk tertular.

Peserta vaksinasi masih membutuhkan waktu untuk pembentukan imunitas tubuh secara maksimal dalam dua bulan.

"Tapi kan kita juga tidak tahu kekebalan di dalam tubuh kita ini bisa bertahan sampai berapa lama," katanya.

Salah satu faktanya, infeksi COVID-19 yang dialami istri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Atalia Praratya. Lewat akun Instagram pribadinya, Sabtu (17/4), Atalia mengabarkan hal tersebut.

"Hari pertama masih kaget baru dikabari. Bingung ketularan di mana, karena memang saya ketemu banyak sekali orang dan masyarakat. Saya berharap teman-teman dan juga orang-orang dekat dengan saya tidak ada satupun yang tertular," kata Atalia dalam video yang ia unggah.

Ia mengaku selalu menjalankan protokol kesehatan secara ketat dalam tiap kegiatannya, seperti memakai masker dan menggunakan penyanitasi tangan.

Masyarakat diimbau tetap patuh pada protokol kesehatan yang disarankan para pakar hingga target pencapaian kekebalan komunal 70 persen kepesertaan vaksinasi nasional.

Mengendalikan mobilitas

Belajar dari kasus yang dialami India karena acara keagamaan dengan mobilitas yang tinggi tanpa protokol kesehatan, pemerintah Indonesia pun mengendalikan mobilitas penduduk, salah satunya dengan melarang mudik.

Kebijakan itu diterapkan setelah beberapa kali aktivitas libur panjang pada 2020 kerap memicu lonjakan kasus.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan terjadi kenaikan kasus aktif COVID-19 sebesar 30-40 persen setiap kali usai libur panjang. Penambahan jumlah kasus positif, baik secara harian maupun kumulatif mingguan, melonjak 69-93 persen sejak libur Idul Fitri pada 22-25 Mei 2020.  Lonjakan kasus tersebut terlihat dalam rentang waktu 10-14 hari kemudian.

Situasi serupa juga terjadi saat libur panjang pada 20-23 Agustus 2020 dengan jumlah kumulatif mingguan melonjak 58-118 persen. Libur panjang 28 Oktober-1 November 2020 terjadi peningkatan kasus 17-22 persen, sedangkan pada Desember 2020 hingga Januari 2021, terjadi lagi lonjakan tajam lebih dari 100 persen dibandingkan dengan kasus sepanjang Oktober 2020.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa larangan mudik Lebaran 6-17 Mei 2021 upaya pemerintah mengendalikan penularan COVID-19.

"Itu yang menjadi tujuan dari pelarangan ini. Karena hampir bisa dipastikan setiap libur panjang ada pergerakan orang besar-besaran dan dibarengi aktivitas kerumunan. Selalu diikuti dengan naiknya angka kasus COVID-19," katanya dalam kegiatan Ngobrol Santai bersama Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), dalam rangka Hari Konsumen Nasional (Harkonas), Selasa.

Ia menegaskan pemerintah tidak menginginkan Lebaran 2021 menjadi pemicu utama naiknya kasus COVID-19 meskipun dia tidak memungkiri kemungkinan kenaikan kasus tetap terjadi karena tingkat kepatuhan terhadap larangan mudik itu tidak 100 persen.

Berdasarkan laporan Kemenko PMK terdapat 73-80 juta masyarakat yang melakukan mudik setiap tahun. Data tahun lalu menunjukkan masih terdapat 13 persen dari total masyarakat pemudik yang tidak patuh dan tetap melakukan mudik Lebaran.

"Itu seandainya dilepas tidak ada larangan itu akan ada sekitar 73 juta orang bermudik. Dan kalau dilarang itu potensinya masih 13 persen. Jadi sekitar hampir 10 jutaan. Dan 10 juta itu cukup heboh. Cukup semrawut. Dua kali lipat penduduk Singapura," ujarnya.

Larangan mudik Lebaran menjadi perhatian pemerintah karena potensi tak terkendali sangat besar. Apalagi dalam proses 3T apabila mudik tidak dilarang akan sangat sulit dilakukan.

"Bayangkan kalau kita mau mendisiplinkan (dengan tes, red.) 'swab' (usap). Memeriksa kesehatan mereka. 73 juta orang dalam waktu bersamaan, itu tidak mungkin. Yang kita khawatirkan nanti banyak surat keterangan sehat abal-abal dan itu tidak akan bisa terkendali. Dan kita khawatirkan akan ada kerumunan yang tidak terencana," katanya.

Upaya keras pemerintah Indonesia dalam melindungi masyarakat dari penularan COVID-19 sudah sepatutnya didukung seluruh masyarakat dengan patuh terhadap protokol kesehatan.

Jangan sampai "alarm" dari peristiwa yang melanda India, luput dari perhatian masyarakat Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Arab Saudi batasi haji hanya untuk 60.000 penduduknya
Sabtu, 12 Juni 2021 - 23:29 WIB
Arab Saudi mengatakan akan membatasi pendaftaran haji tahun ini untuk warga dan penduduknya, sehubun...
Abu Dhabi batasi area-area publik bagi mereka yang bebas COVID
Jumat, 11 Juni 2021 - 08:13 WIB
Abu Dhabi, emirat terpadat kedua di Uni Emirat Arab (UAE), akan membatasi akses ke pusat perbelanjaa...
Para pekerja Yunani mogok kerja tolak perombakan UU ketenagakerjaan
Kamis, 10 Juni 2021 - 21:18 WIB
Para pekerja di Yunani memulai aksi mogok kerja selama satu hari pada Kamis untuk melakukan protes t...
Perdagangan narkoba di Asia meluas di tengah pandemi COVID-19
Kamis, 10 Juni 2021 - 18:47 WIB
Pengedar narkoba di Asia Timur dan Asia Tenggara menemukan cara untuk menghindari pembatasan COVID-1...
China buka ruang baru dalam hubungan bilateral dengan Indonesia
Selasa, 08 Juni 2021 - 06:00 WIB
Pemerintah China akan terus membuka ruang baru dalam meningkatkan kerja sama bilateralnya dengan Ind...
Infeksi COVID melandai, India longgarkan aturan penguncian
Minggu, 06 Juni 2021 - 21:18 WIB
India mencatat 114.460 infeksi baru COVID-19 pada Minggu, angka terendah dalam dua bulan, dengan 2.6...
DFSK berharap insentif dari pemerintah Indonesia
Jumat, 04 Juni 2021 - 08:15 WIB
Chongqing Sokon Motor Group Co Ltd sebagai induk PT Sokonindo Automobile yang memproduksi mobil mere...
India akan tingkatkan vaksinasi COVID-19 tiga kali lipat per hari
Rabu, 02 Juni 2021 - 08:45 WIB
India akan menyiapkan hingga 10 juta dosis vaksin COVID-19 per hari pada Juli dan Agustus, dibanding...
Guru SD di China dihukum mati setelah perkosa sembilan murid
Rabu, 02 Juni 2021 - 08:30 WIB
Dua guru sekolah dasar di Provinsi Hunan, China, masing-masing dijatuhi hukuman mati dan hukuman pen...
China bantu Palestina Rp14 M dan 200 ribu vaksin
Minggu, 30 Mei 2021 - 11:30 WIB
China akan memberikan bantuan kemanusiaan ke Palestina dalam bentuk uang tunai senilai satu juta dol...
Live Streaming Radio Network