Pokja Genetik UGM: Vaksinasi COVID-19 masih mampu hadapi varian Delta
Elshinta
Rabu, 16 Juni 2021 - 21:07 WIB |
Pokja Genetik UGM: Vaksinasi COVID-19 masih mampu hadapi varian Delta
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat pelaksanaan vaksinasi COVID-19 massal di Denpasar, Bali, Rabu (16/6/2021). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.

Elshinta.com - Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Gunadi menyebutkan vaksinasi COVID-19 masih mampu memproteksi manusia dari paparan virus corona B.1.617.2 atau varian Delta.

"Dibandingkan yang tidak divaksinasi dengan yang sudah divaksinasi dosis pertama maupun dosis kedua, ternyata tetap ada efek protektifnya (terhadap varian Delta) secara umum," kata Gunadi dalam webinar "Varian Virus Corona Delta di Kudus: Kenali dan Tingkatkan Kesiapan Diri, Komunitas dan Sistem Pelayanan Kesehatan" dipantau di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, merujuk penelitian di Inggris terhadap para penerima vaksin Pfizer maupun AstraZeneca, vaksinasi masih efektif menangkal varian Delta. Dosis kedua lebih efektif memberikan proteksi terhadap paparan varian Delta dibandingkan dosis pertama.

"Tetapi dosis pertama jauh lebih baik dibandingkan tanpa divaksinasi," kata dia.

Meski demikian, di sisi lain, ia juga menyebut varian Delta memiliki potensi menurunkan respons imun kendati pasien telah divaksinasi COVID-19 baik pertama maupun kedua.

"Setelah tiga bulan (vaksinasi kedua) beberapa pasien (antibodinya) betul-betul turun di bawah 40 konsentrasinya, sehingga ini dianggap implikasinya apakah perlu diberikan 'booster' di kemudian hari," ujar dia.

Varian Delta, kata Gunadi, memiliki potensi menurunkan respons imun lebih tinggi dibandingkan SARS-CoV-2 varian alpha (B.1.1.7) yang pertama kali terdeteksi di Inggris, meski menyerupai varian beta atau B1351 untuk kemampuannya menurunkan respons imun.

Sementara, berdasarkan faktor usia, ia menyebut semakin tua usia penderita, maka penurunan respon imun semakin besar.

Menurut Gunadi, diperlukan peningkatan kewaspadaan terhadap varian virus corona yang telah ditetapkan WHO menjadi Variant of Concern (VoC) pada 31 Mei 2021. Apalagi, varian ini terbukti memicu peningkatan kasus COVID-19 di Kudus, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

"Berdasarkan kalkulasi matematika para ahli menyimpulkan bahwa transmisi varian Delta 41 sampai 60 persen lebih menular dibandingkan varian Alpha. Padahal varian Alpha dulu disebutkan 70 persen lebih transmisiable dibandingkan yang ada di Wuhan," kata dia.

Pakar Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad mengatakan agar benar-benar aman dari transmisi COVID-19, diperlukan restriksi (pembatasan) mobilitas setidaknya dua kali waktu periode infeksius atau sekitar tiga minggu.

Namun demikian, ketika kasus penularan sudah terjadi di banyak tempat penghentian mobilitas skala mikro tidak akan mampu menurunkan penularan karena penularan sudah terjadi di tempat-tempat lain.

"Kalau penularan sudah meluas kita perlu menghentikan mobilitas di satuan wilayah epidemiologi di mana populasi berada," ujar Riris.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pemerintah dorong penggunaan aplikasi PeduliLindungi tekan COVID-19
Kamis, 29 Juli 2021 - 16:13 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah tengah mendor...
Kota Sorong dapat bantuan alat informasi gempa WRS
Kamis, 29 Juli 2021 - 14:35 WIB
Pemerintah Kota Sorong, Papua Barat, mendapatkan bantuan alat Warning Receiver System (WRS) ...
IRT di Palangka Raya meninggal di rumah diduga terpapar COVID-19
Kamis, 29 Juli 2021 - 14:23 WIB
Orang tua atau pengasuh memiliki peran penting dalam mengenali gejala dan cara menangani dehidrasi p...
BMKG bagikan 1.000 paket pelatihan vokasi daring untuk milenial
Kamis, 29 Juli 2021 - 14:12 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membagikan sebanyak 1.000 paket pelatihan vokas...
Presiden minta BMKG agar peringatan dini lebih cepat dan akurat
Kamis, 29 Juli 2021 - 13:18 WIB
Presiden Joko Widodo meminta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk meningkatkan ...
Indonesia hasilkan teknologi olah dan daur ulang limbah medis COVID-19
Kamis, 29 Juli 2021 - 10:08 WIB
Beberapa teknologi untuk mengolah dan mendaur ulang limbah medis COVID-19 berhasil diciptakan para p...
Awan panas guguran Gunung Merapi meluncur sejauh 2,5 km
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:34 WIB
Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan awan pan...
IHSG Kamis dibuka menguat 18,09 poin
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:23 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis dibuka menguat 18,09 poin ata...
Hujan lebat berpotensi guyur sejumlah daerah
Kamis, 29 Juli 2021 - 08:27 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan lebat mengguyur sejumlah dae...
Berhasil tangani Covid-19 dan keluar dari zona merah, Presiden kirim staf khusus ke Kudus
Kamis, 29 Juli 2021 - 07:44 WIB
Keberhasilan kabupaten Kudus Jawa Tengah menangani lonjakan kasus penyebaran covid-19 beberapa waktu...
Live Streaming Radio Network