Polri tangkap lima pelaku pinjaman `online`jaringan Tiongkok
Elshinta
Kamis, 17 Juni 2021 - 23:58 WIB |
Polri tangkap lima pelaku pinjaman `online`jaringan Tiongkok
Polri memerlihatkan barang bukti kejahatan penipuan pinjaman `online`, di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (17/6/2021). ANTARA/Laily Rahmawaty

Elshinta.com - Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menangkap lima orang pelaku dugaan tindak pidana penipuan pinjaman "online" (pinjol) yang melibatkan jaringan asal Tiongkok.

Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes Pol Whisnu F Kuncoro, di Jakarta, Kamis, mengatakan para pelaku menyediakan layanan pinjaman "online" menggunakan aplikasi "RPCepat" yang tidak tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau aplikasi ilegal.

"Tersangka ada lima orang ditangkap di wilayah Jakarta Barat, dan ada dua tersangka masih DPO yang diduga warga negara asing asal Tiongkok," kata Whisnu.

Whisnu menyebutkan, penangkapan para tersangka berdasarkan laporan dari masyarakat. Total ada empat pelapor yang masuk ke Dirtipideksus Bareskrim Polri. Tetapi penyidik menerima banyak aduan masyarakat terkait pinjaman "online" yang meresahkan.

Beberapa korban pinjaman "online", kata Whisnu, mendapatkan teror dengan foto-foto vulgar, dan melakukan tagihan ke kerabat, teman dan orang terdekat.

Aksi para pelaku penipuan pinjaman "online" tersebut membuat korbannya stres karena terus diteror. Aplikasi RPCepat menipu para korbannya, dengan mempromosikan pinjaman senilai Rp1 juta, tetapi yang disetujui Rp500 ribu dan diberikan Rp250 ribu. Sementara bunga pengembaliannya besar bisa dua kali lipat bahkan lebih.

"Kami informasikan kepada masyarakat bahwa aplikasi RPCepat ini tidak ada izinnya," ucap Whisnu.

Ia menjaskan, secara legalitas aplikasi RPCepat dibawah operasional PT SCA tidak berizin. Setelah dilakukan pengecekan ke OJK, penyidik langsung melakukan penyelidikan di lapangan.

Para pelaku melakukan aksi dengan cara berpindah tempat, untuk mengelabui petugas. Selain menawarkan pinjaman "online", pelaku juga melakukan tindak pidana pencurian data menggunakan aplikasi dari Tiongkok.

"Kita lihat ada ribuan 'SIM card' yang ditemukan di tempat kejadian perkara, alat-alat modempool, ini untuk mengirimkan pesan ke ribuan nomor ponsel," papar Whisnu.

Hingga kini penyidik Dittipideksu Bareskrim Polri masih memburu dua warga negara Tiongkok, Xuan Wei dan Gao Kun yang telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Sementara itu, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan menyebutkan, jaringan penipuan pinjaman "online" tersebut telah beroperasi selama empat tahun, dari tahun 2018 hingga 2021.

"Aplikasi RPCepat ini menawarkan pinjaman 'online' melalui internet. Modusnya menjanjikan kepada pengguna ternyata setelah dilakukan pinjaman tidak sesuai dengan yang dikatakan, sehingga meresahkan masyarakat," ujar Ramadhan.

Pasal yang disangkakan kepada tersangka Pasal 30 Jo Pasal 46 dan atau Pasal 32 jo Pasal 48 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 61 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) huruf F Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan atau Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 3 atau Pasal 4 atau Pasal 5 atau Pasal 6 atau Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Polres Lombok Tengah tangani kasus manipulasi surat keterangan PCR
Senin, 26 Juli 2021 - 18:55 WIB
Petugas Kepolisian Resor Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menangani kasus sejumlah pelaku yang te...
Polresta Banyumas kurangi titik penyekatan selama perpanjangan PPKM
Senin, 26 Juli 2021 - 11:30 WIB
Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banyumas mengurangi titik penyekatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Te...
Pemkot Kupang ancam sanksi pidana untuk pelanggar prokes
Senin, 26 Juli 2021 - 11:19 WIB
Pemerintah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur,  mengancam akan memberikan sanksi pidana pelanggar pro...
Polda Sumsel tangkap 31 pengedar narkoba
Senin, 26 Juli 2021 - 10:57 WIB
Kepolisian Daerah Sumatera Selatan selama bulan Juli 2021 mengungkap 34 kasus narkoba dengan menangk...
26 Juli 1950: Bubarnya angkatan perang Hindia Belanda
Senin, 26 Juli 2021 - 06:00 WIB
Pada 26 Juli 1950, KNIL dinyatakan bubar dengan penyerahan kepemimpinan Dir Cornelis Buuman van Vree...
Polda Riau gagalkan selundupan sabu 3 kg asal Malaysia
Minggu, 25 Juli 2021 - 00:05 WIB
Kapal Cepat Lancang Kuning Polda Riau saat berpatroli di Perairan Desa Kedabu Rapat, Kepulauan Meran...
Polri pastikan video demo rusuh pada Sabtu 24 Juli 2021 adalah hoaks
Sabtu, 24 Juli 2021 - 23:10 WIB
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memastikan video dengan narasi demonstrasi serentak yang berla...
Ganjil-genap di Kota Bogor untuk turunkan mobilitas masyarakat
Sabtu, 24 Juli 2021 - 22:59 WIB
Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menyatakan kebijakan ganjil-genap kendaraan ...
Novel Baswedan: saya khawatir Dewan Pengawas KPK dikelabui
Sabtu, 24 Juli 2021 - 20:47 WIB
Penyidik KPK Novel Baswedan menyampaikan kekhawatiran mengenai Dewan Pengawas (Dewas) KPK yang dikel...
Orang tua wajib buatkan akte kelahiran agar anak miliki hak sipil
Sabtu, 24 Juli 2021 - 20:13 WIB
Orang tua wajib membuatkan akte kelahiran bagi anaknya setelah lahir agar sang buah hati memiliki ja...
Live Streaming Radio Network