MemoRI 23 Juni
23 Juni 1596: Abdulmafakhir jadi Raja Banten keempat
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
23 Juni 1596: Abdulmafakhir jadi Raja Banten keempat
Sumber foto: https://bit.ly/3gSwfQA/elshinta.com.

Elshinta.com - Sultan Abdulmafakhir Mahmud Abdulkadir atau dikenal dengan Pangeran Ratu atau Sultan Agung adalah raja ke-4 Kesultanan Banten yang bertakhta dari tahun 1596 hingga 1651.

Dia merupakan putra Sultan Maulana Muhammad yang menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang menggunakan gelar Sultan.

Sultan Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 di Palembang. Kemudian pada tanggal 23 Juni 1596, putranya yang baru berusia lima bulan diangkat menjadi raja Banten ke-4, sehingga untuk menjalankan roda pemerintahan ditunjuklah Mangkubumi Jayanegara sebagai walinya.

Pada tahun 1602, Mangkubumi Jayanegara meninggal, jabatannya digantikan oleh adiknya. Namun 17 November 1602 ia dipecat karena berkelakuan tidak baik. Khawatir akan terjadi perpecahan dan iri hati, maka pemerintahan diputuskan untuk tidak dipegang oleh Mangkubumi, tetapi langsung oleh Ibunda Sultan, Nyimas Ratu Ayu Wanagiri.

Pada 8 Maret 1608 sampai 26 Maret 1609 terjadi perang saudara di antara keluarga kerajaan. Melalui usaha Pangeran Jayakarta akhirnya perang dapat dihentikan dan perjanjian damai dapat disepakati bersama. Banten kembali aman, kemudian diangkatlah Pangeran Arya Ranamanggala sebagai Mangkubumi baru sekaligus menjadi wali Sultan Muda.

Untuk menertibkan kemananan Negara, Ranamangga menghukum Pangeran atau Penggawa yang melakukan penyelewengan. Januari 1624, Mangkubumi Pangeran Arya Ranamanggala mundur dari jabatannya karena sakit.

Saat itu Abdulmafakhir sudah cukup dewasa, sehingga kekuasaan atas Kesultanan Banten sepenuhnya dipegang oleh Sultan Abdulmafakhir. Dua tahun kemudian tepatnya 13 Mei 1626 Pangeran Arya Ranamanggala meninggal dunia.

Wafatnya Pangeran Arya Ranamanggala rupanya dimanfaatkan oleh VOC. Suksesi kepemimpinan kesultanan dijadikan kesempatan bagi kompeni Belanda untuk memonopoli perdagangan lada di Banten yang kala itu memang menjadi salah satu bandar dagang teramai di Jawa.

Pangeran Ratu tentu saja menolak kehendak VOC itu. Akibatnya, VOC melakukan blokade dengan menghalangi kapal-kapal dagang dari Cina dan Maluku yang ingin berdagang di pelabuhan Banten. Ini tentu saja merugikan Banten, dan pecahlah perang pada November 1633.

Peperangan itu berlangsung selama 6 tahun hingga akhirnya kedua belah pihak sepakat berdamai untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Hingga tahun-tahun berikutnya, situasi Banten di bawah kepemimpinan Pangeran Ratu atau Sultan Abdulmafakhir relatif aman meskipun hubungan panas-dingin dengan VOC masih dirasakan.

Selain pernah mengawali perlawanan terhadap VOC, Sultan Abdulmafakhir juga merintis jalinan diplomatik antara Banten dengan bangsa-bangsa lain di mancanegara, terutama dengan Kerajaan Inggris dan beberapa kerajaan Islam di Timur Tengah. Relasi ini kelak dilanjutkan oleh Sultan Banten penerusnya.

Sultan Abdulmafakhir memutuskan turun tahta pada 1647 dan digantikan oleh putranya, Abu al-Ma'ali Ahmad. Namun, era pemerintahan Sultan Banten ke-5 hanya berlangsung selama 3 tahun. Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad mangkat pada 1650, mendahului ayahnya yang meninggal dunia setahun berikutnya.

Sepeninggal Sultan Abdulmafakhir yang wafat tanggal 10 Maret 1651, tahta Banten diserahkan kepada cucunya, Sultan Ageng Tirtayasa. Inilah sultan yang bertekad menjadikan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar di Nusantara. Ia pun melanjutkan perjuangan kakek dan ayahnya dalam upaya mengusir VOC dari Banten meskipun gagal lantaran siasat adu domba yang diterapkan kaum penjajah.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
27 Agustus 1628: Pasukan Mataram serang VOC di Batavia
Jumat, 27 Agustus 2021 - 06:12 WIB
Penguasa Kerajaan Mataram, Sultan Agung, mencapai masa kejayaannya pada 1620-an.
26 Agustus 1947: Bantuan obat-obatan dari India untuk Indonesia
Kamis, 26 Agustus 2021 - 06:11 WIB
Pada pertengahan tahun 1947, blokade yang dilakukan Belanda pada Indonesia membuat sejumlah daerah m...
24 Agustus 1961: Pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal
Selasa, 24 Agustus 2021 - 06:11 WIB
Ide membuat Masjid Istiqlal yang terletak di ibu kota Indonesia, Jakarta, tercetus oleh Presiden Rep...
19 Agustus 1945: Pembentukan Mahkamah Agung RI
Kamis, 19 Agustus 2021 - 06:12 WIB
Mahkamah Agung Republik Indonesia (disingkat MA RI atau MA) adalah lembaga tinggi negara dalam siste...
24 Juni 1951: Hari Bidan Nasional
Kamis, 24 Juni 2021 - 08:57 WIB
Hari Bidan Nasional diperingati setiap 24 Juni. Tidak hanya untuk mengenang jasa dan perannya, hari ...
23 Juni 1596: Abdulmafakhir jadi Raja Banten keempat
Rabu, 23 Juni 2021 - 06:55 WIB
Sultan Abdulmafakhir Mahmud Abdulkadir atau dikenal dengan Pangeran Ratu atau Sultan Agung adalah ra...
21 Juni 1970: Presiden pertama RI Soekarno meninggal dunia
Senin, 21 Juni 2021 - 06:10 WIB
21 Juni 1970 menjadi hari berkabung nasional rakyat Indonesia. Di hari itu, Presiden pertama RI Soek...
20 Juni 1957: Penyerahan empat unit helikopter di Bandung
Minggu, 20 Juni 2021 - 06:23 WIB
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Suryadi Suryadarma, menghadiri sebuah acara di pangkalan udara Hu...
12 Juni 1819: Perang Menteng dimulai
Sabtu, 12 Juni 2021 - 06:12 WIB
Pada 12 Juni 1819 Perang Menteng pecah antara pihak Belanda dengan Kesultanan Palembang yang dipimpi...
10 Juni 2009: Jembatan Suramadu diresmikan
Kamis, 10 Juni 2021 - 06:11 WIB
Jembatan Nasional Suramadu atau dikenal dengan Jembatan Suramadu adalah jembatan yang melintasi Sela...
Live Streaming Radio Network