MemoRI 12 Juli
12 Juli 1975: Monas dibuka untuk umum
Elshinta
Penulis : Calista Aziza | Editor : Administrator
12 Juli 1975: Monas dibuka untuk umum
Monumen Nasional atau biasa disebut Monas. (https://bit.ly/3jSIEpB/elshinta.com)

Elshinta.com - Monumen Nasional (Monas) dibuka untuk umum pertama kali pada 12 Juli 1975. Tidak mudah untuk mewujudkan Monas dan membentuknya secara utuh dalam satu gagasan besar. Perlu waktu hampir 14 tahun untuk merampungkan pembangunan fisik tugu setinggi 132 meter ini. Gagasan pembangunannya pun dirembug selama hampir enam tahun.

Siapa penggagas pembangunan Monas masih simpang siur. Adolf Heuken, sejarawan Jakarta, dan Solichin Salam, penulis buku Tugu Nasional dan Soedarsono, menyebut penggagasnya adalah Sukarno. Kala itu pusat pemerintahan Indonesia kembali ke Jakarta setelah mengungsi di Yogyakarta selama hampir tiga tahun sejak 1947.

Sukarno berpikir perlu ada sebuah bangunan di Jakarta untuk mengekalkan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaannya.

Dalam bayangan Sukarno, monumen lambang perjuangan bangsa itu juga mesti berdiri di sebuah tempat heroik. Tempat semacam itu telah terhampar di wilayah Gambir: Lapangan Merdeka atau dulunya Lapangan Ikada. Tetapi bagaimana bentuk monumen itu nantinya, belum terang benar. Hanya terlintas gambaran tentang sebuah tugu serupa lingga.

Untuk membantu mewujudkan monumen tersebut, pemerintah Indonesia membentuk Panitia Tugu Nasional pada 17 September 1954. Ketuanya bernama Sarwoko Martokoesoemo, seorang biasa pekerja swasta. Inilah nama lain yang dipandang sebagai penggagas Monas.

 

Kritik Terhadap Monas

Sukarno berkata seperti itu untuk menanggapi para pengkritik Monas. Kritik terhadap pembangunan Monas sangat keras. Para pengkritik mengatakan bahwa Sukarno menghambur-hamburkan uang negara dan melupakan kebutuhan nyata rakyat di tengah situasi ekonomi morat-marit.

Rakyat butuh makan dan pakaian. Bukan sebuah monumen! Begitu kata para pengkritik. Terhadap kritik termaksud, Sukarno berpendapat bahwa monumen sama pentingnya seperti pangan dan pakaian.

Monumen adalah makanan jiwa bagi sebuah bangsa. Monumen adalah juga pakaian untuk sebuah bangsa. “Bangsa tidak hidup dari roti dan nasi tok,” kata Sukarno.

Sukarno percaya pada kekuatan monumen, pada makna yang ada di baliknya. “Sebuah bangsa yang hebat, jiwanya dan hasratnya adalah kebutuhan yang absolut untuk kehebatannya, harus disimbolkan dengan sebuah benda materiil, sebuah benda yang hebat bahkan, yang kadang akan membuka mata dari bangsa-bangsa lain dengan penuh kekaguman,” ujar Sukarno.

Para pengkritik Monas tidak peduli dengan semua penjelasan Sukarno. Tetapi kritik keras mereka tidak berhasil menahan pembangunan Monas. Tugu itu mulai berdiri semeter demi semeter. Peristiwa G30S 1965 dan kejadian-kejadian setelahnya sempat membuat pembangunan Monas berhenti.

Era Sukarno runtuh, tetapi monumennya bertahan. Kekuasaan selanjutnya meneruskan pembangunan Monas hingga rampung dan dibuka untuk publik pada 12 Juli 1975. Berakhirlah penantian itu. Tetapi Sukarno tak sempat melihat pembukaannya. Dia sudah wafat lima tahun sebelumnya.

 

Sumber: historia.id

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Susur Sungai Batanghari meriahkan Festival Candi Muaro Jambi
Minggu, 26 September 2021 - 13:27 WIB
Lomba perahu hias susur Sungai Batanghari memeriahkan Festival Candi Muaro Jambi ke-16 yang masuk da...
PBNU disarankan perkuat ajaran Aswaja di ranah publik
Minggu, 26 September 2021 - 11:27 WIB
Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur M Mas\'ud Said mengusulkan kepada P...
Wapres harap NU berperan membuat politik nasional lebih beretika
Sabtu, 25 September 2021 - 18:44 WIB
Wakil Presiden Ma’ruf Amin berharap Nahdlatul Ulama (NU) dapat memiliki peran untuk membuat kondis...
Sekjen LPOI ingatkan bahaya fanatisme ekstrem agama
Sabtu, 25 September 2021 - 11:15 WIB
Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (Sekjen LPOI) Denny Sanusi mengingatkan bahaya ...
 Sosialisasi cukai tembakau di Boyolali dilaksanakan di tengah ritual budaya
Jumat, 24 September 2021 - 16:15 WIB
Sejumlah warga Lereng Gunung Merapi di Dukuh Munggur, Desa Kembangsari, Kecamatan Musuk, Kabupaten B...
Dekranasda Pekalongan siap fasilitasi pemasaran wayang kulit
Kamis, 23 September 2021 - 11:44 WIB
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, siap memfasilitasi pemasaran kera...
Pemkab Sukoharjo diminta serius garap potensi budaya lokal
Selasa, 21 September 2021 - 19:27 WIB
Pegiat budaya dari seluruh Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah mendesak pemerintah daerah ...
19 penyandang disabilitas fisik Kota Magelang terima bantuan ATENSI Kemensos
Selasa, 21 September 2021 - 18:25 WIB
Sebanyak 19 penyandang disabilitas fisik Kota Magelang menerima bantuan program Asistensi Rehabilita...
Kunjungi Pesantren Alhamdulillah, Mendes PDTT syukuran lahirnya Perpres Pesantren 
Sabtu, 18 September 2021 - 17:24 WIB
Kunjungannya ke Rembang untuk memberikan penghargaan kepada pemerintah kabupaten setempat yang berha...
 Mensos segera tingkatkan kualitas prasarana dasar Suku Dayak Meratus
Jumat, 17 September 2021 - 18:13 WIB
Menteri Sosial Republik Indonesia Tri Rismaharini memastikan negara hadir untuk semua warga negara, ...
Live Streaming Radio Network