Warga sekitar Telaga Buret Tulungagung gelar tradisi ulur-ulur
Elshinta
Sabtu, 10 Juli 2021 - 06:15 WIB |
Warga sekitar Telaga Buret Tulungagung gelar tradisi ulur-ulur
Iring-iringan warga adat berpakaian tradisional Jawa membawa kembang tujuh warna dan aneka sesaji menuju Telaga Buret, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (9/7/2021). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

Elshinta.com - Sekelompok warga yang berasal dari empat desa di sekitar Telaga Buret, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Jumat, menggelar tradisi ulur-ulur sedekah bumi dengan ritual memandikan dua patung Joko Sedono dan Dewi Sri serta melempar kembang tujuh rupa ke tengah telaga.

Namun karena kegiatan digelar di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, rangkaian kegiatan dilakukan sejumlah pembatasan dan tidak banyak melibatkan warga desa.

Demikian halnya dengan pengunjung, panitia segera menutup pagar masuk gerbang area kawasan taman lindung Telaga Buret begitu rangkaian ulur-ulur dimulai dengan mengarak aneka sesaji sedekah bumi yang diiringi belasan warga perwakilan dari empat desa.

Pelaksanaan ritual ulur-ulur pun berlangsung khidmat. Ritual memandikan patung Joko Sedono dan Dewi Sri dilakukan oleh dua perempuan yang telah diberi mandat, dipandu oleh sesepuh desa menggunakan pengeras suara.

Aroma dupa menyebar di sekitar area Telaga Buret sehingga menimbulkan nuansa mistis.

Dan usai prosesi pemandian, ritual dilanjutkan dengan melempar atau melarung kembang tujuh warna atau tujuh rupa ke tengah telaga Buret yang pagi itu terlihat berwarna hijau keruh.

"Upacara adat ini harus dilaksanakan meski dengan pembatasan peserta," kata Ketua Kasepuhan Sendang Tirto Mulyo Sukarman usai pelaksanaan rangkaian ritual adat.

Pembatasan kegiatan diberlakukan sebagai bentuk kepatuhan masyarakat terhadap ketentuan protokol kesehatan. Seluruh panitia maupun peserta ulur-ulur juga diwajibkan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan di tempat yang telah disediakan.

Upacara adat ulur-ulur sendiri biasa dilaksanakan setiap Bulan Selo, berdasar penanggalan Jawa, pada Jumat pasaran Legi.

Upacara ini sebagai bentuk syukur pada Tuhan, karena anugerah air dari Telaga Buret yang tidak pernah kering.

"Ini wujud syukur kami, masyarakat empat desa di Desa Ngentrong, Gedangan, Sawo dan Gamping karena pasokan air untuk pengairan sawah di daerah kami terus terjaga berkat keberadaan Telaga Buret selama ini," terang Sukarman.

Biasanya tradisi ulur-ulur dilanjutkan dengan pentas pertunjukan wayang kulit di tengah taman lindung Telaga Buret.

Namun karena alasan pandemi, selain prosesi inti pemandian Patung Joko Sedono dan Dewi Sri dilanjutkan ritual sedekah bumi, panitia hanya menggelar maapatan pada malam menjelang ritual ulur-ulur.

Sesepuh paguyuban masyarakat adat di sekitar Telaga Buret, Pamuji menjelaskan, Dewi Sri merupakan Dewi Padi yang melambangkan kesuburan atau kelimpahan pangan. Sedangkan Joko Sedono melambangkan wastro atau kemurahan sandang.

Dalam cerita legenda yang menyebar turun-temurun di lingkungan msyarakat desa sekitar Telaga Buret, Joko Sedono dan Dewi Sri pada masa lalu sempat mandi di tepi Telaga Buret. Mereka bersedia datang ke perkampungan setempat setelah beberapa kondisi yang dipersyaratkan terpenuhi.

Upacara adat itu sendiri untuk melestarikan tradisi sekaligus lingkungan sekitar Telaga Buret.

“Jadi upacara adat ini bagian dari upaya melestarikan lingkungan, agar Telaga Buret terus terjaga airnya,” ucapnya. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kunjungi Pesantren Alhamdulillah, Mendes PDTT syukuran lahirnya Perpres Pesantren 
Sabtu, 18 September 2021 - 17:24 WIB
Kunjungannya ke Rembang untuk memberikan penghargaan kepada pemerintah kabupaten setempat yang berha...
 Mensos segera tingkatkan kualitas prasarana dasar Suku Dayak Meratus
Jumat, 17 September 2021 - 18:13 WIB
Menteri Sosial Republik Indonesia Tri Rismaharini memastikan negara hadir untuk semua warga negara, ...
Cerita Iwan Fals soal pandemi, frustasi hingga menyalakan semangat
Jumat, 17 September 2021 - 11:17 WIB
Pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir dua tahun, membuat banyak orang merasa frustasi, putus asa,...
Fakta menarik tentang masyarakat adat di Indonesia
Rabu, 15 September 2021 - 11:48 WIB
Indonesia memiliki ribuan masyarakat adat yang tersebar di nusantara. Mereka tergabung dalam Aliansi...
 Paguyuban warga Ngajogyakarto Provinsi Papua gelar vaksinasi keliling
Selasa, 14 September 2021 - 11:58 WIB
Paguyuban warga Ngajogyakarto Provinsi Papua meggelar vaksinasi Covid-19 massal bagi masyarakat Sent...
Satgas Yonif RK 751/VJS bagikan Alkitab di Kabupaten Yahukimo
Senin, 13 September 2021 - 14:58 WIB
Untuk menumbuhkan dan mendorong semangat warga jemaat agar lebih giat beribadah, Satgas Pamrahwan Y...
Ulama milili peran dan tanggung jawab moral terhadap pembinaan umat
Senin, 13 September 2021 - 10:47 WIB
Ulama memiliki peran penting dan tanggung jawab moral terhadap pembinaan umat. Oleh karenanya, ulama...
 Hibah bidang keagamaan di Salatiga dicairkan
Sabtu, 11 September 2021 - 17:26 WIB
Wali Kota Salatiga, Jawa Tengah Yuliyanto  menyaksikan penandatangan berkas kelengkapan pencairan H...
Bupati OKU Timur resmikan Batik Angkinan sebagai seragam ASN
Sabtu, 11 September 2021 - 11:39 WIB
Bupati Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, Lanosin Hamzah meresmikan Batik Angkinan sebagai b...
Bupati: Basapa dapat dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat
Sabtu, 11 September 2021 - 07:45 WIB
Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat Suhatri Bur mengatakan penyelenggaraan Basapa atau ziarah di...
Live Streaming Radio Network