Amelia sempat alami kelumpuhan usai divaksin Covid-19
Elshinta
Selasa, 03 Agustus 2021 - 15:56 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
Amelia sempat alami kelumpuhan usai divaksin Covid-19
Vaksinasi Covid-19. Foto: Ilustrasi/elshinta.com.

Elshinta.com - Amelia Wulandari (23) mahasiswi salah satu Universitas ternama di Aceh, ini harus terbaring lemah di ruang saraf Rumah Sakit Cut Mutia Aceh Barat Usai menerima vaksin Covid-19 tahap pertama, Selasa 27 Juli 2021 lalu. 

Usai divaksin, sore harinya ia mengalami mual-mual, tubuhnya kejang-kejang, tangan dan kakinya dingin juga kaku tidak bisa digerakkan, ia juga  pingsan sebanyak empat kali. "Sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama," kata paman Amel, Alimuddin saat dikonfirmasi, media termasuk Kontributor Elshinta, Fitri Juliana, Selasa (3/8).

Setelah tiga hari menjalani perawatan oleh dokter saraf kini anggota tubuhnya sudah dapat digerakkan kembali meski belum normal. “Alhamdulilah sudah ada perubahan sedikit-sedikit, sekarang tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan sediki-sedikit. Di hari pertama dan kedua tubuhnya kaku gak bisa bergerak,” jelas Alimuddin.

Alimuddin mengatakan, keponakannya menjalani vaksinasi untuk keperluan administrasi di kampus yang merupakan salah satu syarat untuk bisa ikut sidang sarjana. Sebelum melakukan vaksin, Amel telah menjelaskan ke petugas medis di puskesmas bahwa dia mengalami riwayat penyakit lambung akut.  

Sebelumnya Amel sempat meminta surat tidak bisa vaksin ke pihak puskesmas, namun mereka meminta Amel Wulandari berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter spesialis di rumah sakit.

Menurut Ali, pihak kampus juga membolehkan Amel tidak divaksinasi, tapi harus menyertakan surat keterangan dari dokter. Amel pun kemudian mendatangi dokter spesialis di sebuah rumah sakit swasta di Aceh Barat.

Ia menjelaskan keluhan yang ia rasakan, namun sang dokter tetap meminta Amel menjalani vaksinasi, tidak ada masalah dengan keluhan yang ia derita, karena menurut dokter tersebut penyakit Amel tidak masuk dalam kategori yang tidak bisa vaksin. Dan saat itu amel meminta diperiksa terlebih dahulu sebelum divaksin, namun dokter tersebut tidak bersedia. 

"Dokter itu bilang dia harus divaksin, tidak boleh ditunda, lalu AW minta untuk diperiksa dan dokter itu tidak mau memeriksa," jelasnya.

Sehingga, keponakannya terpaksa menjalani vaksinasi pada saat itu karena batas pengisian KRS administrasi Wisuda tinggal sehari lagi (Rabu 28/8 –red). Setelah disuntik, Amel mulai mengalami gejala KIPI pada sore hari.

"Malamnya mual-mual, lalu kejang-kejang, kulitnya membiru, tangan dan kakinya semua kaku dan pingsan sebanyak empat kali, lalu dibawa ke rumah sakit," ucapnya.

Setelah tiga hari dirawat di RS swasta, Amel Wulandari dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien, Aceh Barat dan dirawat di ruang saraf. "Dan kini mulai membaik meski belum normal seperti sediakala. Saat ini  baru bisa menggerak-gerakkan anggota tubuhnya," jelas Alimudin lagi.

Pihak keluarga mengaku kecewa atas pelayanan vaksinasi di sana. Menurut AM, di kertas vaksin tertera nomor yang dapat dihubungi bila mengalami gejala seusai vaksinasi.

"Kita sudah mencoba menghubungi ke nomor yang diberikan tapi tidak diangkat, Ini akibat dari vaksin, karena dari awal kita sudah menceritakan kalau dia (Amel) sepertinya tidak bisa divaksin. Jangan main-main lah kalau masalah kesehatan, ini fatal akibatnya bisa mengakibatkan kematian" lanjutnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
 Penyisiran anak yatim piatu akibat Covid-19 berlanjut
Jumat, 17 September 2021 - 18:44 WIB
Pendataan anak yatim, piatu dan yatim piatu akibat Covid-19 di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah berl...
Ditlantas Polda Jatim angkat anak asuh 7.000 yatim piatu terdampak pandemi
Jumat, 17 September 2021 - 18:37 WIB
Menyambut Hari Lalu lintas Bhayangkara ke 66. Ditlantas Polda Jatim menggelar acara bakti sosial ber...
Gencarkan vaksinasi, Pemkot Bandung percepat pembentukan `herd immunity`
Jumat, 17 September 2021 - 18:24 WIB
Pemerintah Kota (pemkot) Bandung, Jawa Barat terus mempercepat pembentukan herd immunity. Salah satu...
 Kunker ke Medan, Kapolri dan Panglima terus percepat vaksinasi
Jumat, 17 September 2021 - 17:56 WIB
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto kembali melak...
IDI dukung tatap muka di pesantren
Jumat, 17 September 2021 - 17:48 WIB
Pembukaan pesantren di tengah pandemi Covid-19 dapat dilakukan. Syaratnya, para santri dan pengasuh ...
Kodim 1611/Badung gelar vaksinasi lansia di Denpasar Timur
Jumat, 17 September 2021 - 17:25 WIB
Kegiatan vaksinasi Covid-19 dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werda (PSTW) Wana Seraya, Kesmian Ke...
Yaqut minta ASN Kemenag ubah citra agar lebih responsif
Jumat, 17 September 2021 - 17:18 WIB
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agam...
Legislatif apresiasi kebijakan PPKM efektif tekan penularan Covid-19 Jawa-Bali 
Jumat, 17 September 2021 - 16:37 WIB
Ketua Komisi E DPRD Propinsi Jawa Timur Wara Sundari Reny Pramana memberikan apresiasi terhadap apa ...
Kabupaten Cirebon masuk level 4, karena perbedaan data pusat dan daerah
Jumat, 17 September 2021 - 16:05 WIB
Masuknya Kabupaten Cirebon dalam level 4 Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), diseba...
Monitoring MCP, KPK datang ke Kudus
Jumat, 17 September 2021 - 15:58 WIB
Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali datang ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kedatangan t...
Live Streaming Radio Network