Busana kain tradisional perlu berselera global
Elshinta
Senin, 23 Agustus 2021 - 13:15 WIB |
Busana kain tradisional perlu berselera global
Model memperagakan busana kerja adat Bali saat Lomba Desain dan Peragaan Busana rangkaian Pesta Kesenian Bali ke-43 di Denpasar, Bali, Minggu (20/6/2021). (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Elshinta.com - National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) sekaligus pelaku industri fesyen tanah air, Ali Charisma mengatakan untuk dapat menarik pasar internasional maka para desaier harus membuat busana yang memiliki selera global meski menggunakan kain tradisional.

"Segera menggarap kain tradisional dengan taste yang lebih global. Itu tentunya bentukannya harus lebih sangat sederhana, anggap aja kayak baju yang ada di mall-mall Indonesia, brand-brand luar negeri itu di mana aja bisa survive karena taste-nya global," ujar Ali saat dihubungi ANTARA belum lama.

Ali mengatakan saat ini busana dengan kain tradisional lebih banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia sendiri. Sebab, rata-rata konsep yang ditawarkan pun bukan busana siap pakai untuk sehari-hari, melainkan untuk acara tertentu saja.

Desainer bisa merancang busana dengan menggunakan motif kain tradisional, namun untuk potongan dan warnanya bisa mengikuti tren dunia saat ini.

"Kalau mau seperti itu, berarti kain tradisional Indonesia harus didesain dengan yang target pasar global tadi. Di Indonesia tentunya pasar global gede banget, orang yang hunting produk seperti itu banyak," kata Ali.

Ali berpendapat, sesungguhnya menggunakan motif tradisional yang di-print pada kain untuk dijadikan busana merupakan sebuah upaya dalam rangka mengejar pasar global. Yang terpenting, desainer tersebut tidak mengklaim bahwa busana buatannya merupakan produk asli.

"Anggap saja ada warna yang akan saya ikutin tapi saya menggunakan motif kawung atau motif apa tapi prosesnya bukan batik tapi print. Bukan berarti kita tidak mendukung para UKM," kata Ali.

"Untuk UKM yang menggunakan tenun dan batik tulis, itu yang limited, untuk secara ekonomis ini akan berat untuk dikejar menuju global, harga juga, konsistensi juga. Jadi menurut saya beda jika tujuannya untuk melestarikan budaya dengan meningkatkan ekonomi," lanjutnya.

Kain tradisional asli akan tetap memiliki penggemar dan pangsa pasar sendiri, khususnya kaum menengah atas dan para kolektor yang bersedia menunggu proses pembuatan hingga berbulan-bulan, bahkan membayarnya dengan harga yang tinggi.

Sedangkan untuk mengejar kelompok menengah bawah dan internasional, diperlukan sebuah inovasi khususnya dari sisi desain motif. Apalagi untuk membuat anak muda tertarik pada kain tradisional, desainnya pun harus kekinian.

"Ke depannya harus ada anak muda yang punya passion untuk membuat desain yang nantinya bisa didistribusikan ke pengrajin, pengrajin bener-bener dilatih untuk kreatif," ujar Ali.

Ali melanjutkan, "Harus ada wadah tertentu dari pemerintah atau apa yang meng-hire tekstil desainer atau tradisional desainer yang desainnya itu seirama dengan tren yang terjadi atau yang akan terjadi, jadi produk itu bisa dinikmati dan kekinian jadi tidak ketinggalan jaman."

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Delapan kiat jitu detoks media sosial
Sabtu, 23 Oktober 2021 - 13:59 WIB
Media sosial membuat orang lebih mudah terhubung, namun, di sisi lain bisa juga memberi tekanan pada...
DANA berikan fitur bayar sekolah
Jumat, 22 Oktober 2021 - 11:34 WIB
Dompet digital DANA menambahkan fitur membayar biaya pendidikan, DANA Education ke aplikasi tersebut...
Kemkominfo umumkan aturan baru TKDN perangkat 5G
Kamis, 21 Oktober 2021 - 17:31 WIB
Menteri Komunikasi dan Informasi Johnny G Plate pada Kamis mengumumkan bahwa Tingkat Komponen Dalam ...
Kompetensi utama yang diperlukan dalam membangun startup
Selasa, 19 Oktober 2021 - 13:58 WIB
Penelitian dari Universitas Tennessee di Amerika Serikat tahun 2013 yang menyatakan bahwa lebih dari...
Justice Indonesia perkenalkan komunitas `Heart of Justice`
Senin, 18 Oktober 2021 - 13:47 WIB
Jenama fesyen untuk pra-remaja (tween) putri, Justice Indonesia, memperkenalkan komunitasnya bertaju...
Pangeran William kritik miliader yang berwisata ke luar angkasa
Senin, 18 Oktober 2021 - 11:45 WIB
Pangeran William mengecam para miliarder yang terlibat dalam `perlombaan` pariwisata luar angkasa, d...
`Reseller` peluang bisnis online yang menarik selama pandemi COVID-19
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 18:15 WIB
Profesi agen atau \"reseller\" menjadi peluang bisnis yang menarik seiring dengan tingginya transak...
Tips aman pakai pembayaran digital
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 14:01 WIB
Penelitian terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky menunjukkan penggunaan pembayaran digita...
Survei Markplus: Produk fesyen lokal jadi favorit di `e-commerce`
Kamis, 14 Oktober 2021 - 23:45 WIB
Head of High-Tech, Property & Consumer Goods MarkPlus, Rhesa Dwi Prabowo, menilai produk fesyen menj...
Instagram uji coba stiker berbalas konten di Stories
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 16:15 WIB
Instagram mengumumkan fitur stiker Balasan Anda atau Add Yours yang sedang diuji coba di Indonesia ...