Qatar: Mengisolasi Taliban bisa makin guncang Afghanistan
Elshinta
Rabu, 01 September 2021 - 10:37 WIB |
Qatar: Mengisolasi Taliban bisa makin guncang Afghanistan
Pasukan Taliban berjaga tepat sehari setelah penarikan pasukan AS dari Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan (31/8/2021). REUTERS/Stringer

Elshinta.com - Qatar pada Selasa (31/8) memperingatkan bahwa mengisolasi Taliban dapat menyebabkan ketidakstabilan lebih lanjut dan mendesak negara-negara untuk terlibat dengan gerakan Islam garis keras untuk mengatasi masalah keamanan dan sosial ekonomi di Afghanistan.

“Kalau kita mulai menentukan syarat-syarat dan menghentikan kontak ini, kita berarti membiarkan ada kekosongan, dan pertanyaannya adalah, siapa yang akan mengisi kekosongan ini?,” kata Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani di Doha, bersama mitranya dari Jerman, Menlu Heiko Maas.

Negara Teluk Arab yang bersekutu dengan AS itu telah muncul sebagai teman bicara utama bagi Taliban, setelah menjadi tuan rumah kantor politik bagi kelompok itu sejak 2013. Tidak ada negara yang mengakui Taliban sebagai pemerintah Afghanistan setelah kelompok itu merebut Kabul pada 14 Agustus. Banyak negara Barat telah mendesak kelompok itu untuk membentuk pemerintahan yang inklusif dan menghormati hak asasi manusia. 

"Kami percaya bahwa, tanpa keterlibatan, kita tidak dapat mencapai ... kemajuan nyata di bidang keamanan atau di bidang sosial ekonomi," kata Sheikh Mohammed.

Ia menambahkan bahwa mengakui Taliban sebagai pemerintah bukanlah prioritas. Menteri Luar Negeri Jerman Maas mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahnya bersedia membantu Afghanistan, tetapi ada syarat-syarat tertentu untuk mendapatkan bantuan internasional.

Taliban, yang telah mengadakan pembicaraan dengan anggota pemerintah Afghanistan sebelumnya dan masyarakat sipil lainnya, mengatakan mereka akan segera mengumumkan susunan lengkap kabinet. Sheikh Mohammed mengatakan kelompok itu telah menunjukkan keterbukaan terhadap gagasan soal pemerintah yang inklusif.

Taliban dikenal dengan aturan yang keras dari 1996 hingga 2001. Pada masa itu, mereka memaksakan penerapan pemahaman garis keras soal hukum Islam. Mereka juga menindas perempuan, termasuk melarang perempuan belajar dan bekerja. Taliban telah berusaha untuk meredakan kekhawatiran dengan menyatakan komitmen bahwa pihaknya akan menghormati hak-hak individu. Taliban juga menegaskan bahwa, di bawah pemerintahan kelompoknya, perempuan akan dapat belajar serta bekerja.
 
Sheikh Mohammed mengatakan mengisolasi Taliban selama pemerintahan terakhir mereka 20 tahun lalu menyebabkan situasi seperti saat ini muncul.  Sejak Taliban merebut Kabul, telah terjadi "keterlibatan luar biasa" dalam evakuasi dan kontraterorisme, yang memberikan "hasil positif," katanya.

Sheikh Mohammed menambahkan bahwa pembicaraan tentang bantuan Qatar untuk menjalankan bandara Kabul sedang berlangsung dan tidak ada keputusan soal itu. Sementara itu Maas mengatakan, "Tidak ada jalan untuk menghindar dari pembicaraan dengan Taliban." Ia menambahkan bahwa masyarakat internasional tidak boleh membiarkan ketidakstabilan berlangsung di Afghanistan.

Sumber : Reuters

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Warga India menanti izin WHO bagi vaksin Covaxin
Rabu, 27 Oktober 2021 - 16:05 WIB
Tertahan di sebuah desa di selatan India selama sembilan bulan, Sugathan P.R. berharap Badan Kesehat...
AS, Indonesia serukan forum G20 baru untuk hadapi pandemi berikutnya
Rabu, 27 Oktober 2021 - 10:11 WIB
Ekonomi-ekonomi terbesar dunia harus membuat forum guna memfasilitasi koordinasi global untuk pandem...
Komite Senat Brazil setujui laporan agar Presiden Bolsonaro didakwa
Rabu, 27 Oktober 2021 - 09:48 WIB
Komite investigasi Senat Brazil menyetujui sebuah laporan yang meminta agar Presiden Jair Bolsonaro ...
40 perusahaan Prefektur Hyogo Jepang siap investasi di Indonesia
Selasa, 26 Oktober 2021 - 16:58 WIB
Duta Besar Republik Indonesia (Dubes R) untuk Jepang Heri Akhmadi melakukan pertemuan dengan Gubernu...
Tesla bernilai satu triliun dolar AS, beri keuntungan ganda bagi Musk
Selasa, 26 Oktober 2021 - 08:59 WIB
Lonjakan nilai pasar saham Tesla Inc melampaui satu triliun dolar AS pada perdagangan Senin (25/10/2...
Xi Jinping janji China akan selalu menjunjung perdamaian dunia
Senin, 25 Oktober 2021 - 18:56 WIB
Presiden Xi Jinping berjanji bahwa China akan selalu menjunjung perdamaian dunia dan aturan internas...
Perkuat kerja sama, kapal Angkatan Laut Australia kunjungi Jakarta
Senin, 25 Oktober 2021 - 18:11 WIB
Kapal terbesar Angkatan Laut Australia HMAS Canberra berlabuh di Tanjung Priok , Jakarta Utara, Seni...
Vaksin untuk anak usia 5-11 tahun di AS mungkin tersedia November
Senin, 25 Oktober 2021 - 14:06 WIB
Pakar utama Amerika Serikat tentang penyakit menular, Anthony Fauci, mengatakan vaksin bagi anak-ana...
Kasus baru varian Delta di Tiongkok meluas
Senin, 25 Oktober 2021 - 13:46 WIB
Gelombang baru COVID-19 varian Delta di Tiongkok meluas dan bahkan lebih besar dibandingkan dengan y...
Singapura berencana impor listrik hingga 4 GW pada 2035
Senin, 25 Oktober 2021 - 11:25 WIB
Negara Singapura berencana mengimpor listrik hingga empat gigawatt (GW) pada 2035, kata menteri perd...