Enam sungai di Bekasi tercemar limbah industri
Elshinta
Jumat, 10 September 2021 - 13:42 WIB |
Enam sungai di Bekasi tercemar limbah industri
Warga bantaran Kali Cilemahabang Kabupaten Bekasi, Jawa Barat masih memanfaatkan aliran sungai berwarna hitam dan berbau untuk kebutuhan hidup sehari-hari. (ANTARA/Pradita Kurniawan Syah).

Elshinta.com - Sedikitnya enam sungai di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat tercemar limbah industri berdasarkan hasil penyisiran sungai dari hulu hingga hilir yang bermuara di perairan Kecamatan Muaragembong.

"Dari tujuh sungai yang melintasi Kabupaten Bekasi, hanya satu yang kondisinya terbilang baik dengan indikator tidak berwarna gelap dan berbau serta masih terdapat ikan yang hidup di sungai tersebut," kata penggiat komunitas lingkungan hidup Save Kali Cikarang Dedi Kurniawan di Cikarang, Jumat.

Enam sungai yang tercemar limbah industri hingga berwarna gelap dan berbau busuk itu antara lain Kali Cabang, Kali Jambe, Kali CBL, Kali Cipamingkis, Kali Citarum, dan Kali Cilemahabang.

Beberapa di antaranya bahkan mengeluarkan asap yang menandakan suhu di sungai itu tinggi akibat kadar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sementara satu sungai lainnya yakni Kali Cikarang kondisinya masih terbilang baik meski hanya di bagian hulu hingga ke tengah sedangkan dari tengah hingga hilir mulai tercemar lantaran melintasi kawasan industri.

"Saat ini satu-satunya aliran air yang masih bagus dan punya hewan endemik yakni Kali Cikarang. Itu pun hanya dari hulu sampai tengah, dari gunung karang sampai Cikarang Barat. Sisanya ya limbah lagi," katanya.

Dedi menyatakan berdasarkan hasil penyisiran sungai mulai dari Kecamatan Cikarang Barat sampai Muaragembong melewati Kecamatan Sukatani, Sukawangi, dan Cabangbungin, kondisi airnya sudah tidak layak lagi disebut sungai melainkan pembuangan limbah B3.

"Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya kekeringan di sejumlah wilayah. Akibatnya warga terpaksa menggunakan sungai yang tercemar karena tidak memiliki pilihan lain. Bayangkan seburuk apa dampaknya bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat, ini kejahatan lingkungan luar biasa," katanya.

Dia mencatat pencemaran ini berkaitan erat dengan jalur sungai yang melewati kawasan industri, apalagi belakangan ini kawasan itu menjadi objek vital. Dia menduga banyak perusahaan membuang limbah yang tidak memenuhi kadar mutu kualitas batu langsung ke sungai-sungai tersebut.

Lebih dari itu, kata dia, limbah yang dibuang ke sungai tidak hanya berbentuk cairan namun juga sisa produksi berupa benda padat. "Ada bahan seperti swap, lumpur dari akumulasi pembuangan atau sisa produksi pabrik," ucapnya.

Menurut dia kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun bahkan setiap pergantian kepala daerah, persoalan pencemaran selalu menjadi prioritas namun tidak pernah terselesaikan.

"Kuncinya pada konsistensi dan seberapa tegas pemerintahan ini. Lihat wajah rakyat Kabupaten Bekasi di wilayah utara mandi saja harus menggunakan air lumpur yang bau, sudah sangat tidak layak. Mau sampai kapan seperti ini," katanya.

Penjabat Bupati Bekasi Dani Ramdan mengatakan menindaklanjuti hasil peninjauan di lapangan, pihaknya kini tengah melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air sungai yang tercemar tersebut. Hasil pengujian akan menjadi dasar penindakan pemerintah daerah.

"Jadi selain penelusuran siapa yang membuang limbah, uji sampel juga dilakukan. Nantinya ditelusuri siapa pembuangnya dan sanksi yang diberikan. Kami pun mendapat dukungan dari kepolisian untuk menelusuri secara hukum," kata dia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Walhi: Maraknya tambang Ilegal dampak ketimpangan penguasaan lahan
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 15:30 WIB
Aktivis Walhi Sumatera Selatan menilai, maraknya tambang Ilegal di provinsi ini dan daerah lainnya y...
BTNKT: 60 persen karang di kawasan konservasi Togean alami kerusakan
Rabu, 13 Oktober 2021 - 15:47 WIB
Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) mengungkapkan kurang lebih 60 persen terumbu karang di...
 Polda Jateng tanam satu juta mangrove
Selasa, 12 Oktober 2021 - 21:22 WIB
Kepolisian Daerah Jawa Tengah melaksanakan program penanaman satu juta pohon mangrove di seluruh pes...
 Dukung Program Jakarta Sadar Sampah, Bank DKI rangkul penghuni Rusun Pesakih
Selasa, 12 Oktober 2021 - 19:11 WIB
Mendukung program Gerakan Jakarta Sadar Sampah sebagai sebuah upaya kolaborasi bersama untuk Jakarta...
 Program `Mageri Kuto` Polres Salatiga tanam 5.000 pohon
Selasa, 12 Oktober 2021 - 14:57 WIB
Dalam rangka mendukung Program Polda Jawa Tengah `Mageri Segoro` yang dilaksanakan seluruh Jajaran P...
Dinas LH dan Kebersihan Kabupaten Tangerang tutup perusahaan yang lakukan pencemaran
Senin, 11 Oktober 2021 - 14:25 WIB
Kabupaten Tangerang, Banten merupakan salah satu daerah kawasan industri. Hampir seluruh wilayahnya...
Bobby Nasution mengambil kebijakan menambah anggaran pembebasan lahan
Senin, 11 Oktober 2021 - 07:45 WIB
Wali Kota Medan Bobby Nasution mengambil kebijakan menambah anggaran pembebasan lahan untuk menormal...
Menjaga lingkungan Polres Semarang tanam pohon 
Jumat, 08 Oktober 2021 - 18:47 WIB
Kapolres Semarang, Jawa Tengah  AKBP Yovan Fatika bersama Pju Polres Semarang dan Bhayangkari melak...
Jaga kualitas oksigen, Pemkot Depok larang warga tebang pohon sembarangan 
Rabu, 06 Oktober 2021 - 15:04 WIB
Satuan Tugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan  (DLHK)  melarang masyarakat menebang pohon sem...
Kemensos usulkan cuaca ekstrem masuk dalam RUU PB
Selasa, 05 Oktober 2021 - 23:09 WIB
Kementerian Sosial (Kemensos) mengusulkan bencana alam seperti cuaca ekstrem masuk dalam Rancangan U...
Live Streaming Radio Network