Dokter RS PON anjurkan pemeriksaan berkala cegah pecah pembuluh otak
Elshinta
Kamis, 16 September 2021 - 14:42 WIB |
Dokter RS PON anjurkan pemeriksaan berkala cegah pecah pembuluh otak
Ilustrasi

Elshinta.com - Kepala Neurosurgeon Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Prof. DR. Dr. Mahar Mardjono, Jakarta, Dr. Abrar Arham, Sp.BS mengatakan brain check up atau skrining otak rutin merupakan salah satu cara untuk mencegah aneurisma yakni kondisi dinding pembuluh darah otak melebar atau menonjol (ballooning) umumnya tak bergejala.

Ia mengatakan, kondisi akibat lemahnya dinding pembuluh darah tersebut, diperkirakan dialami setiap 1 orang setiap 18 menit dan sekitar 500.000 orang meninggal setiap tahunnya karena masalah ini.

"(Aneurisma) tidak bergejala. Suatu saat dia pecah, fatal. Kami anjurkan check up, datang ke rumah sakit check-up, MRI. Usia di atas 40 tahun bisa check-up," ujar Head of Neurosurgeon Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Prof. DR. Dr. Mahar Mardjono, Jakarta, Dr. Abrar Arham, Sp.BS dalam diskusi media secara daring bertajuk "Flow Diverter", "Penanganan Pecah Pembuluh Darah Otak Tanpa Pembedahan", Kamis.

Namun, bila Anda tiba-tiba merasa sakit kepala hebat atau bahkan kehilangan kesadaran, segeralah berkonsultasi ke dokter agar segera mendapatkan penanganan.

Hal ini seperti yang dialami aktor Dallas Pratama (37) pada tahun 2015. Suami dari selebritas Kaditha Ayu itu pernah mengalami koma akibat pecahnya pembuluh darah otak bagian kiri, yang diawali sakit kepala seperti ditusuk-tusuk. Kaditha mengatakan, sang suami juga mengalami muntah dan sempat tak sadarkan diri.

Dia lalu membawanya ke fasilitas kesehatan dan suami ditangani dengan tindakan coiling yakni memasukkan coil melalui akses pembuluh darah ke lokasi target, sehingga darah tidak lagi masuk ke dalam kantong aneurisma yang pecah tersebut.

Coiling aneurisma tergolong teknik minimal invasif endovaskular dan menjadi pilihan penanganan aneurisma selain operasi bedah mikro.

Tindakan endovaskular sendiri kini sudah mengalami perkembangan, salah satunya pemasangan cerebral flow diverter dengan angka keberhasilan hingga 95 persen.

Metode yang sudah mulai diterapkan di RSPON beberapa tahun lalu ini dikatakan memiliki sejumlah keunggulan seperti prosedur relatif cepat, pasca-tindakan pasien tidak perlu perawatan ICU, mengurangi lamanya rawat inap pasien dan tidak ada luka sayatan.

Sejumlah faktor dapat menyebabkan kelemahan pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko aneurisma otak atau pecahnya aneurisma yang bisa menyerang orang berusia muda.

Faktor risiko ini, seperti dikutip dari Mayo Clinic antara lain usia yang lebih tua, kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi (hipertensi), penyalahgunaan narkoba dan kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol berat.

Beberapa jenis aneurisma juga dapat terjadi setelah cedera kepala (membedah aneurisma) atau dari infeksi darah tertentu (aneurisma mikotik).

Di sisi lain, pola makan tak sehat yakni tinggi kolesterol, kurang beristirahat dan obesitas juga menjadi faktor risiko masalah pembuluh darah ini.

Kebanyakan aneurisma biasanya tak bergejala kecuali aneurisma pecah. Namun, aneurisma yang tidak pecah masih dapat menghalangi sirkulasi ke jaringan lain, membentuk gumpalan darah yang dapat menghalangi pembuluh darah yang lebih kecil.

Kondisi ini dikenal sebagai tromboemboli yang bisa berujung stroke iskemik atau komplikasi serius lainnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Cuci tangan dengan benar demi cegah penularan penyakit
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 12:01 WIB
Bertepatan dengan peringatan Global Hand Washing Day oleh Global Handwashing Partnership sejak 2008 ...
Respirator bisa bantu kurangi risiko terkena pajanan polusi udara
Jumat, 15 Oktober 2021 - 15:06 WIB
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR, FISR, ...
Tangani dini AMD agar penglihatan tak semakin memburuk
Jumat, 15 Oktober 2021 - 11:34 WIB
Sama seperti penyakit lainnya yang membutuhkan pengobatan dini, begitu juga AMD atau degenerasi maku...
Terapi atasi kecemasan remaja pada masa pandemi
Kamis, 14 Oktober 2021 - 20:17 WIB
Aktivitas fisik dan latihan fisik bisa menjadi strategi terapi yang efektif mengatasi gejala depresi...
Trigeminal neuralgia bisa disembuhkan dengan tindakan PRFR
Rabu, 13 Oktober 2021 - 23:01 WIB
Dokter spesialis bedah saraf dr. Mustaqim Prasetya, Sp.BS FINPS mengatakan trigeminal neuralgia-kon...
Olahraga dua jam sebelum tidur dapat membantu lebih nyenyak
Rabu, 13 Oktober 2021 - 11:58 WIB
 Olahraga dengan intensitas tinggi yang dilakukan dua jam sebelum tidur dapat membantu tidur lebih ...
Mengenal hipoglikemia, penyakit yang diderita Dorce Gamalama
Senin, 11 Oktober 2021 - 11:56 WIB
Lemas, pusing, bahkan susah konsentrasi merupakan ciri-ciri dari seseorang mengalami hipoglikemia, p...
Mengenal `toxic positivity` dari sudut pandang `mindfulness`
Senin, 11 Oktober 2021 - 09:52 WIB
Praktisi Mindfulness dan Emotional Healer Adjie Santosoputro mengingatkan bahwa seseorang perlu ...
Psikolog: Mitos dan stigma kendala tangani masalah kesehatan mental
Senin, 11 Oktober 2021 - 06:01 WIB
Psikolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta, Widya S. Sari, M.Psi mengatakan permasalah...
Jaga kualitas udara dari paparan asap rokok di dalam rumah
Minggu, 10 Oktober 2021 - 16:30 WIB
Menjaga kualitas udara di dalam hunian merupakan hal penting guna meningkatkan kualitas kesehatan, t...
Live Streaming Radio Network