Peneliti BRIN: Varian C.1.2 tidak lebih berbahaya dari varian VoI/VoC
Elshinta
Jumat, 17 September 2021 - 13:41 WIB |
Peneliti BRIN: Varian C.1.2 tidak lebih berbahaya dari varian VoI/VoC
Ilustrasi - Delta sel virus corona(covid-19) makro dan varian minat MU (VOI),B.1.621,B.1.617.1,C.37.COVID 19 Delta plus,varian MU,Coronavirus bermutasi Pandemi penyakit flu SARS-CoV-2. ANTARA/elsinta.com

Elshinta.com - Peneliti mikrobiologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan Varian C.1.2 virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 tidak lebih berbahaya dari variants of interest (VoI) atau variants of concern (VoC) yang sudah diklasifikasikan Badan Kesehatan Dunia.

"Varian C.1.2 statusnya saat ini adalah alerts for further monitoring sejak 1 September 2021 dan sebetulnya boleh dikatakan tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan varian yang sudah diklasifikasikan sebagai VoI/VoC," kata peneliti Sugiyono Saputra saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Hingga sekarang ini, katanya, varian yang masuk daftar VoI adalah varian eta, iota, kappa, lambda dan mu. Sementara varian yang masuk dalam VoC adalah alpha, beta, gamma, dan delta.

Sugiyono yang merupakan Ketua Tim Whole Genom Sequencing (WGS) SARS-CoV-2 di Pusat Riset Biologi BRIN menuturkan varian C.1.2 memang memiliki perubahan material genetik yang diduga dapat mempengaruhi karakteristik virus, seperti mutasi pada protein spike yang berhubungan dengan tingkat penularan atau transmisi dan penurunan efektivitas vaksin atau terapi.

"Tetapi sekali lagi tidak perlu panik berlebihan karena walau varian ini memiliki mutasi-mutasi kunci, bukti dampak fenotipik atau epidemiologisnya sebetulnya belum jelas," ujarnya.

Sugiyono mengatakan masih perlu pemantauan lebih lanjut sambil menunggu bukti ilmiah baru terkait karakteristik varian C.1.2.

"Semoga saja tidak semakin berkembang dan tidak dinaikkan statusnya oleh WHO menjadi VoI/VoC," ujarnya.

Saat ini, varian C.1.2 yang diidentifikasi pertama kali di Afrika Selatan, belum masuk ke Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), WHO bekerja sama dengan mitra, jaringan pakar, otoritas nasional, lembaga, dan peneliti telah memantau dan menilai evolusi SARS-CoV-2 sejak Januari 2020.

Selama akhir 2020, munculnya varian yang meningkatkan risiko kesehatan masyarakat global mendorong karakterisasi VoI dan VoC tertentu, untuk memprioritaskan pemantauan dan penelitian global, dan pada akhirnya untuk menginformasikan respons yang sedang berlangsung terhadap pandemi COVID-19.

WHO mengklasifikasikan suatu varian virus SARS-CoV-2 sebagai VoI dengan kriteria, yakni varian tersebut memiliki perubahan genetik yang diperkirakan atau diketahui mempengaruhi karakteristik virus, seperti penularan, keparahan penyakit, pelepasan kekebalan, pelepasan diagnostik atau terapeutik.

VoI juga diidentifikasi sebagai penyebab penularan komunitas yang signifikan atau beberapa kluster COVID-19 di banyak negara dengan prevalensi relatif yang meningkat bersamaan dengan peningkatan jumlah kasus dari waktu ke waktu atau dampak epidemiologis nyata lainnya yang menunjukkan risiko yang muncul terhadap kesehatan masyarakat global.

Sementara VoC adalah varian yang telah terbukti terkait dengan satu atau lebih perubahan berikut pada tingkat signifikansi kesehatan masyarakat global, yakni peningkatan penularan atau perubahan yang merugikan dalam epidemiologi COVID-19; peningkatan virulensi atau perubahan presentasi penyakit klinis; atau penurunan efektivitas kesehatan masyarakat dan tindakan sosial atau diagnostik yang tersedia, vaksin, dan terapi.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
BMKG: Sumut berpotensi panas menyengat tiga hari ke depan
Minggu, 17 Oktober 2021 - 06:30 WIB
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca panas menyengat masih berpo...
BMKG: Waspada hujan disertai petir di sejumlah wilayah Indonesia
Minggu, 17 Oktober 2021 - 06:01 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai potensi terjadin...
106, 67 juta penduduk Indonesia telah jalani vaksinasi COVID-19
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 23:45 WIB
Satuan Tugas Penanganan COVID-19 melaporkan hingga Sabtu siang 106.669.970 (106,67 juta) penduduk In...
Petani kopi arabika organik di Poso bakal dibina pengusaha asal Jerman
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 22:45 WIB
Pemerintah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, telah menyepakati kerja sama dengan sejumlah pengusaha a...
Kominfo jabarkan enam strategi antisipasi gelombang tiga COVID-19
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 22:30 WIB
Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan bahwa pemerintah memiliki enam strategi utama untu...
Menteri BUMN: Investasi \
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 22:15 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan nilai investasi Proyek Strategis Nas...
Wamen Parekraf harapkan `Exotic NTT` tingkatkan kunjungan wisatawan
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 21:15 WIB
Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamen Parekraf) Angela Tanoesoedibjo mengharapkan pame...
Disbudpar Kudus gelar Festival Kopi Muria untuk promosikan kopi lokal
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 21:01 WIB
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menggelar Festival Kopi Muria sebagai ...
Pimpinan DPRD Surabaya buka layanan cek data dan konsultasi bagi warga
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 20:01 WIB
Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti mengisi masa reses sidang tahun III masa persidangan I tahun ...
Pupuk Sriwidjaja: Program Makmur beri manfaat nyata bagi petani
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 19:15 WIB
PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, anak perusahaan Pupuk Indonesia, mengungkapkan program Makmur...
Live Streaming Radio Network