Periksa sperma tindakan pertama untuk kasus gangguan kesuburan
Elshinta
Kamis, 23 September 2021 - 21:53 WIB |
Periksa sperma tindakan pertama untuk kasus gangguan kesuburan
Ilusrasi sperma (Pixabay)

Elshinta.com - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus spesialis kebidanan & kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi & reproduksi, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MPH, Sp.OG-KFER mengatakan, pemeriksaan sperma merupakan tindakan pertama yang perlu dilakukan sebelum pengecekan pada perempuan untuk kasus gangguan kesuburan.

"Sekitar 35 persen sebab gangguan kesuburan oleh faktor sperma. Oleh karena itu, yang pertama kali diperiksa sperma sebelum dilakukan pemeriksaan pada perempuan," kata dia dalam webinar kesehatan mengenai kesuburan, Kamis.

Menurut Budi, jumlah sperma normalnya sekitar 15 juta per cc, dengan jumlah yang bergerak sebanyak 32 persen. Bila hasil menunjukkan tidak normal maka disarankan pemeriksaan ulang tiga bulan kemudian.

Pada kasus sperma nol, dokter akan memeriksa ketersediaan sperma ada di testis, kemudian sebab kelainan apakah karena faktor produksi atau distribusi.

"Karena itu penting dilakukan pemeriksaan volume testis, hormon untuk memikirkan apakah ada sperma di testis. Kalau ada bisa dilakukan biopsi testis untuk mendapatkan sperma pada bayi tabung," tutur Budi.

Sementara pada perempuan, biasanya akan dilakukan pengecekan kadar Anti-Mullerian Hormone (AMH), yakni untuk mengukur kadar hormon yang dihasilkan oleh organ reproduksi di dalam darah.

Dalam program bayi tabung, tes ini bisa digunakan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas cadangan sel telur yang dimiliki calon ibu.

"Kalau perempuan usianya 29 tahun, AMH-nya harusnya 3,5 nanogram per mililiter (ng/ml), umur biologisnya 29 tahun. Kalau usianya 35 tahun, minimal 1,4 AMH-nya," ujar Budi.

Bila dua orang perempuan yang sama-sama berusia 25 tahun namun AMH berbeda yakni 5,4 ng/mL dan 0,5 ng/mL, maka pasien kedua memiliki umur biologisnya yang jauh lebih tua daripada yang pertama.

"Ini yang menyebabkan tindakan pada pasien kedua akan jauh berbeda daripada pasien pertama," demikian kata Budi.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Terus lawan Covid-19, Pemkot Depok gelar semarak Germas Goes to School
Rabu, 20 Oktober 2021 - 13:10 WIB
Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menggelar Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Goes to School unt...
Tiingkatkan kesehatan tulang dengan senam dan jaga asupan nutrisi
Rabu, 20 Oktober 2021 - 08:59 WIB
Banyak cara untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan tulang; mulai dari edukasi asupan nutrisi h...
Tanaman herba ini bisa bantu terapi pasien COVID-19
Rabu, 20 Oktober 2021 - 08:23 WIB
Tanaman hias Gardenia jasminoides (kacapiring) hingga adas ternyata memiliki kemampuan untuk meng...
Proses osteoporosis bisa terjadi di usia 30 tahun
Rabu, 20 Oktober 2021 - 08:11 WIB
Proses osteoporosis bisa menyerang siapa saja bahkan di usia muda dan produktif seperti 30 tahun-an ...
Mengenal kanker kepala dan leher
Selasa, 19 Oktober 2021 - 07:45 WIB
Kanker kepala dan leher yang bersifat ganas, dampaknya dapat mengubah bentuk wajah secara fisik baik...
Tindakan bedah minimal invasif untuk koreksi kelainan bentuk tulang
Selasa, 19 Oktober 2021 - 07:30 WIB
Tindakan limb lengthening & reconstruction yang tergolong metode pembedahan minimal invasif bisa m...
Kejar vaksinasi untuk terlindung dari COVID-19
Senin, 18 Oktober 2021 - 11:20 WIB
Pandemi COVID-19 belum bisa diprediksi kapan akan berakhir, namun salah satu cara agar terlindung da...
Strategi unik Inggris bantu warganya berhenti merokok
Senin, 18 Oktober 2021 - 08:59 WIB
Pemerintah Inggris menggunakan pendekatan berbeda untuk mengurangi angka perokok antara lain dengan ...
Tiga vaksin COVID-19 ini tak perlu `booster` hingga 8 bulan
Minggu, 17 Oktober 2021 - 16:19 WIB
Tiga vaksin COVID-19 yakni Pfizer, Moderna dan Johnson & Johnson masih menunjukkan tanda respons imu...
Cuci tangan dengan benar demi cegah penularan penyakit
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 12:01 WIB
Bertepatan dengan peringatan Global Hand Washing Day oleh Global Handwashing Partnership sejak 2008 ...
Live Streaming Radio Network