Maksimalkan kemampuan disabilitas, Baznas Lumajang bantu kaki palsu
Sepuluh disabilitas yang mengalami cacat kaki di kabupaten Lumajang mendapatkan bantuan kaki palsu, penerima bantuan tersebut diharapkan tetap bisa produktif dan tidak menjadi beban dari keluarganya.
Sumber foto: Efendi Murdiono/elshinta.com.Elshinta.com - Sepuluh disabilitas yang mengalami cacat kaki di kabupaten Lumajang mendapatkan bantuan kaki palsu, penerima bantuan tersebut diharapkan tetap bisa produktif dan tidak menjadi beban dari keluarganya.
Hal ini disampaikan Ketua Baznas kabupaten Lumajang Atok Hasan Sanusi di sela penyerahan bantuan kaki palsu di kantor Baznas Jalan Kalimas No. 18 Rogotrunan Lumajang.
Dijelaskan Atok Hasan Sanusi cacat yang disandang sepuluh orang penerima itu ada yang mengalami cacat lahir, kecelakaan dan diabetes sehingga salah satu bagian kakinya harus diamputasi. Untuk memaksimalkan kehidupan mereka kedelapannya Baznas akan memberikan bantuan pelatihan modal usaha.
"Kita bergerak membantu masyarakat yang memang membutuhkan, dari kita (Baznas) kedepannya kita akan berdayakan mereka supaya mampu mandiri", kata Atok seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono, Minggu (3/10).
Atok Membeberkan kegiatan yang digelar itu tidak lepas dari peran Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) cabang Lumajang yang di Ketuai Ali Muslimin untuk mengkoordinasikan kepada masyarakat yang memerlukan bantuan.
"Terus terang kita terbantukan dengan adanya PPDI cabang Lumajang melakukan pendataan kepada disabilitas", ucap Atok Hasan.
Sementara itu Ketua PPDI cabang Lumajang Ali Muslimin menyampaikan bantuan yang di berikan Baznas merupakan kesinambungan dari kegiatan sebelumnya dari enam belas kaki palsu yang sudah diberikan. Harga per unitnya kaki palsu kisaran Rp 3 juta sampai Rp 7 juta antara di bawah lutut atau yang paha.
"Bantuan yang diserahkan hari ini menyambung dari kegiatan sebelumnya sebanyak enam belas kaki palsu dari Baznas", tutur Ali Muslimin.
Ali berharap kepada penerima bantuan untuk melatih berjalan sehingga terbiasa dengan kaki palsunya, supaya aktivitas yang sempat terganggu tidak lagi menjadi hambatan.
"Saya sudah sampaikan agar terbiasa dengan kaki palsunya ya tentu harus belajar jalan dan usahakan bisa lepas dari kursi roda ataupun tongkatnya," pungkasnya.




