MemoRI 07 Oktober
7 Oktober 1945: Pertempuran Kotabaru
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
7 Oktober 1945: Pertempuran Kotabaru
Sumber foto: https://bit.ly/3Bg6C3W/elshinta.com.

Elshinta.com - Setelah proklamasi kemerdekaan RI, badan-badan perjuangan terbentuk di berbagai daerah demi melawan tentara Jepang maupun Sekutu.

Salah satu bentrokan dengan tentara Jepang terjadi di Kotabaru, Yogyakarta, pada 7 Oktober 1945.

Dua hari sebelumnya, para pejuang merebut gedung Cokan Kantai dan dijadikan sebagai Kantor Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah.

Gedung Cokan Kantai ini kemudian dikenal dengan Gedung Nasional atau Gedung Agung.

Sehari setelahnya, rapat perebutan senjata dan markas Osha Butai di Kotabaru dilakukan.

Perundingan dengan Butaico (Angkatan Pertahanan Jepang) Mayor Otsuka, Kenpeitai (Polisi Militer) Sasaki, Kapten Ito dan Kiambuco lantas dilakukan Mohammad Saleh (KNI), R.P. Sudarsono dan Bardosono atas nama Badan Keamanan Rakyat (BKR) di markas Osha Butai, tujuannya agar Jepang menyerahkan senjata dan kekuasaannya dengan sukarela.

Satu hari setelah perebutan Gedung Cokan Kantai, para pejuang ingin melakukan perebutan senjata dan markas Osha Butai di Kotabaru. Pada 6 Oktober 1945 diadakan perundingan antara pihak Indonesia dengan Jepang. Perundingan itu diadakan didalam markas Osha Butai di Kotabaru.

Namun perundingan berjalan buntu. Dentuman granat yang terdengar pukul 20.00 WIB pada 6 Oktober, memberi tanda bahwa perundingan akhirnya gagal.

Rakyat dan para pemuda terus mengepung markas Osha Butai di Kotabaru. Bahkan di kampung-kampung, malam itu dilakukan persiapan pengerahan massa pemuda dengan suara siap-siap secara estafet.

Dalam waktu singkat telah berkumpul banyak pemuda dan terus bergerak menuju Kotabaru.

Rakyat dan para pemuda terdiri dari berbagai kesatuan, antara lain TKR, Polisi Istimewa, dan BPU (Barisan Penjagaan Umum) sudah bertekad untuk menyerbu markas Jepang di Kotabaru.

Rakyat dan Pemuda dengan senjata seperti parang dan bambu runcing sudah siap, tinggal menunggu komando.

Sebagai bagian dari strategi penyerbuan para pemuda telah memutuskan sambungan telepon, kemudian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, maka sekitar pukul 03.00 WIB tanggal 7 Oktober 1945, terdengar lagi dentuman granat, menandakan aliran listrik pagar berduri yang mengelilingi markas Jepang sudah dipadamkan.

Para pemuda segera menyerbu markas itu dan dimulailah pertempuran di Kotabaru.

Dengan demikian, terjadilah pertempuran antara rakyat, pemuda dan kesatuan di Yogyakarta melawan tentara Jepang.

Ternyata Butaico Kotabaru menolak untuk menyerah. Akibat serangan para pejuang Indonesia semakin ditingkatkan.

Jepang mulai kewalahan kemudian mengadakan kontak kepada pihak para pejuang Indonesia untuk berdamai. Para pejuang Indonesia boleh memasuki markas.

Setelah pintu itu dibuka, maka para pemuda pejuang memasuki pintu, ternyata di tempat itu telah disambut tembakan gencar senapan mesin yang sudah disiapkan Jepang dengan demikian banyak pejuang gugur.

Melihat pemandangan itu para pejuang Yogyakarta mengamuk.

Beribu-ribu massa menyerbu markas. Akhirnya pihak Jepang benar-benar terdesak dan berkibarlah bendera merah putih.

Pasukan Jepang satu per satu mulai menyerah. Senjata demi senjata beralih ke tangan pejuang Indonesia. Gudang senjata juga disebut oleh para pemuda, sehingga banyak mendapat senjata.

Pada saat itu beberapa pemuda telah berhasil memasuki markas Kotabaru melalui selokan saluran air (riol) dan langsung berhadapan dengan Otsuka. Ternyata Otsuka mau menyerah, asalkan dihadapkan pada Yogya Koo (Kepala Daerah) Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1945 sekitar pukul 10.00 markas Jepeng di Kotabaru secara resmi menyerah. Bendera merah putih berkibar di Kotabaru dan beratus-ratus tentara Jepang ditahan serta senjatanya dilucuti.

Setelah Markas Kotabaru jatuh, usaha perebutan kekuasaan meluas R.P. Sudarsono kemudian memimpin perlucutan senjata Kaigun di Maguwo.

Semua senjata, 15 truk serta beratus-ratus peti granat tangan dapat dirampas dari tangan Jepang. Dengan berakhirnya pertempuran Kotabaru dan dikuasainya Maguwo, maka Yogyakarta berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia.

Demi mengingat peristiwa tersebut sebuah monumen diresmikan di Kotabaru oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 7 Oktober 1988.

Monumen tersebut terletak di kompleks Asrama Korem 040 Pamungkas, Jalan Wardhani Kotabaru Yogyakarta.

"Tetenger ini didirikan untuk memperingati puncak pengambilalihan kekuasaan dari pihak Jepang di Yogyakarta dengan serbuan bersenjata dan pertumpahan darah yang dikenal sebagai Pertempuran Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945," terang yang tercantum dalam prasasti pada Monumen Serbuan Kotabaru itu.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
3 Desember 1945: Perjuangan tujuh pegawai PU pertahankan Gedung Sate
Jumat, 03 Desember 2021 - 06:16 WIB
Gedung Sate yang terletak di Jalan Diponegoro 22, Kota Bandung, Jawa Barat, pascaproklamasi kemerdek...
28 Oktober 1963: Peringatan Sumpah Pemuda dan seperempat abad lagu Indonesia Raya
Kamis, 28 Oktober 2021 - 06:24 WIB
Lagu Indonesia Raya lahir pada Kongres Pemuda ke-2 atau Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
27 Oktober 1945: Pemuda Buleleng turunkan bendera Belanda
Rabu, 27 Oktober 2021 - 06:10 WIB
Pada 27 Oktober 1945, dalam catatan sejarah pernah terjadi peristiwa berdarah mempertahankan tegakny...
25 Oktober 1960: Pameran alutsista digelar di Lapangan Banteng
Senin, 25 Oktober 2021 - 06:15 WIB
Pada 25 Oktober 1960, Pameran Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) dilakukan pemerintah Indonesi...
24 Oktober 1830: Sultan Hamengkubuwana V sahkan perjanjian Klaten
Minggu, 24 Oktober 2021 - 06:31 WIB
Setelah Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro berakhir pada 1830, wilayah Kesultanan Yogyaka...
19 Oktober 1945: Puluhan tentara Jepang dibantai di Kali Bekasi
Selasa, 19 Oktober 2021 - 06:27 WIB
Tepat pada 19 Oktober 1945 atau 76 tahun silam, Stasiun Kota Bekasi hingga Kali Bekasi menjadi saksi...
15 Oktober 1945: Haji Darip pimpin pertempuran Klender
Jumat, 15 Oktober 2021 - 06:18 WIB
Sejumlah pertempuran pecah di beberapa wilayah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan berkumandang...
13 Oktober 1945: Pertempuran Medan Area
Rabu, 13 Oktober 2021 - 06:19 WIB
Pertempuran Medan Area adalah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Pasukan Sekutu yang terjadi di Me...
12 Oktober 1945: Laskar Wanita Indonesia berdiri di Bandung
Selasa, 12 Oktober 2021 - 06:16 WIB
Laskar Wanita Indonesia (Laswi) adalah badan pergerakan dan perjuangan kaum perempuan yang berkontri...
11 Oktober 1862: Pangeran Antasari wafat
Senin, 11 Oktober 2021 - 12:49 WIB
Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Antasari menghembuskan nafas terakhirnya pada 11 Oktober 1862,...
InfodariAnda (IdA)