MemoRI 15 Oktober
15 Oktober 1945: Haji Darip pimpin pertempuran Klender
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
15 Oktober 1945: Haji Darip pimpin pertempuran Klender
Sumber foto: https://bit.ly/3BxWOCg/elshinta.com.

Elshinta.com - Sejumlah pertempuran pecah di beberapa wilayah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan berkumandang pada 17 Agustus 1945.

Para pemuda yang berjuang di medan perang mesti melawan dan mengusir Jepang dan Belanda (NICA) yang membonceng Sekutu Inggris.

Pada 11-13 Oktober 1945 contohnya, pasukan Sekutu bertempur melawan para pemuda pejuang di sekitaran Jl Kramat Raya.

Pertempuran di daerah pusat kota Jakarta itu kemudian merembet di wilayah pinggiran Jakarta beberapa hari kemudian.

"Hal semacam itu terbukti pada waktu tentara Inggris hendak menduduki Klender pada tanggal 15 Oktober 1945 yang mengakibatkan pertempuran yang ramai dengan barisan-barisan rakyat," jelas yang tertulis dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia karya Abdul Haris Nasution.

Pada tanggal tersebut tentara Inggris hendak menduduki Klender, tetapi tiba-tiba dari rumah-rumah penduduk bermunculan barisan-barisan rakyat yang bersenjatakan golok dan bambu runcing menyerang mereka.

Ternyata barisan rakyat itu adalah Barisan Rakyat Indonesia (BARA) yang dipimpin oleh mualim dan jagoan pencak silat tanah Betawi, Haji Darip.

H. Darip bersama pasukan BARA-nya memang sudah bersiap untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan oleh Presiden Sukarno saat rapat akbar di Klender pada 20 Agustus 1945.

BARA sendiri beranggotakan para jago dan jagoan yang menguasai Klender, Pulogadung, hingga Bekasi.

Konon H. Darip memiliki kesaktian yang membuat anak buahnya memiliki keberanian dan kebal terhadap senjata tajam dan peluru.

Berkat karisma dan karomah ilmu yang dimilikinya ia menyandang gelar Panglima Perang dari Klender atau nama lainnya Generalissimo van Klender 1945.

BARA pimpinan H. Darip lalu melakukan penyerangan dengan gagah berani dan mendapat bantuan dari satu kompi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang bersenjatakan karabin.

Maka berkobarlah pertempuran hebat, di mana kelewang dan sangkur ikut digunakan dalam pertempuran jarak dekat satu lawan satu. Banyak korban yang jatuh akibat pertempuran tersebut.

Untuk menghormati jasa-jasa mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut, pemerintah dan rakyat Jakarta mengibarkan bendera setengah tiang.

Tentara Sekutu rupanya tidak menduga akan mendapat serangan semacam itu.

Banyak di antara mereka yang gugur menghadapi serangan massal dari segala jurusan sehingga mereka tidak dapat bertempur sebagaimana mestinya. Akibatnya di pihak Sekutu pun tidak sedikit jatuh korban.

Mereka kemudian melakukan serangan balasan yang menimbulkan tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan akhirnya mereka berhasil juga menduduki Klender.

H. Darip dan pasukan BARA lantas hijrah ke beberapa tempat seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya.

Di tempat persembunyiannya di Purwakarta, H. Darip menyusun strategi melawan Belanda.

Karena kepemimpinannya dalam mengorganisasi para pemuda pejuang dianggap berbahaya, Belanda lalu mengirimkan mata-mata untuk menangkap Darip dan memenjarakannya.

Setelah penyerahan kedaulatan RI pada akhir Desember 1949, H. Darip dibebaskan dari penjara.

H. Darip tidak memedulikan gelar veteran dan pahlawan yang diberikan pemerintah padanya.

Pada masa senjanya ia menghabiskan waktu untuk berdakwah di Klender dan sekitarnya.

H. Darip meninggal di Jakarta pada 13 Juni 1981 dan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Ar-Rahman Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
3 Desember 1945: Perjuangan tujuh pegawai PU pertahankan Gedung Sate
Jumat, 03 Desember 2021 - 06:16 WIB
Gedung Sate yang terletak di Jalan Diponegoro 22, Kota Bandung, Jawa Barat, pascaproklamasi kemerdek...
28 Oktober 1963: Peringatan Sumpah Pemuda dan seperempat abad lagu Indonesia Raya
Kamis, 28 Oktober 2021 - 06:24 WIB
Lagu Indonesia Raya lahir pada Kongres Pemuda ke-2 atau Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
27 Oktober 1945: Pemuda Buleleng turunkan bendera Belanda
Rabu, 27 Oktober 2021 - 06:10 WIB
Pada 27 Oktober 1945, dalam catatan sejarah pernah terjadi peristiwa berdarah mempertahankan tegakny...
25 Oktober 1960: Pameran alutsista digelar di Lapangan Banteng
Senin, 25 Oktober 2021 - 06:15 WIB
Pada 25 Oktober 1960, Pameran Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) dilakukan pemerintah Indonesi...
24 Oktober 1830: Sultan Hamengkubuwana V sahkan perjanjian Klaten
Minggu, 24 Oktober 2021 - 06:31 WIB
Setelah Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro berakhir pada 1830, wilayah Kesultanan Yogyaka...
19 Oktober 1945: Puluhan tentara Jepang dibantai di Kali Bekasi
Selasa, 19 Oktober 2021 - 06:27 WIB
Tepat pada 19 Oktober 1945 atau 76 tahun silam, Stasiun Kota Bekasi hingga Kali Bekasi menjadi saksi...
15 Oktober 1945: Haji Darip pimpin pertempuran Klender
Jumat, 15 Oktober 2021 - 06:18 WIB
Sejumlah pertempuran pecah di beberapa wilayah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan berkumandang...
13 Oktober 1945: Pertempuran Medan Area
Rabu, 13 Oktober 2021 - 06:19 WIB
Pertempuran Medan Area adalah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Pasukan Sekutu yang terjadi di Me...
12 Oktober 1945: Laskar Wanita Indonesia berdiri di Bandung
Selasa, 12 Oktober 2021 - 06:16 WIB
Laskar Wanita Indonesia (Laswi) adalah badan pergerakan dan perjuangan kaum perempuan yang berkontri...
11 Oktober 1862: Pangeran Antasari wafat
Senin, 11 Oktober 2021 - 12:49 WIB
Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Antasari menghembuskan nafas terakhirnya pada 11 Oktober 1862,...
InfodariAnda (IdA)