Trigeminal neuralgia bisa disembuhkan dengan tindakan PRFR
Elshinta
Rabu, 13 Oktober 2021 - 23:01 WIB |
Trigeminal neuralgia bisa disembuhkan dengan tindakan PRFR
Ilustrasi seorang pasien. (Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels)

Elshinta.com - Dokter spesialis bedah saraf dr. Mustaqim Prasetya, Sp.BS FINPS mengatakan trigeminal neuralgia--kondisi nyeri wajah sebelah akibat kelainan pada saraf trigeminal--dapat disembuhkan dengan tindakan non-pembedahan, salah satunya dengan teknik Percutaneous Radio-Frequency Rhizotomy (PRFR).

“PRFR merupakan salah satu alternatif yang terbaik. Teknik ini mengurangi sensitivitas saraf trigeminal dengan cara pemanasan menggunakan radio frekuensi. Ini tindakan pengobatan nyeri tanpa pembedahan,” kata Mustaqim yang berpraktik di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), rumah sakit yang dibangun Kementerian Kesehatan, dalam webinar pada Rabu.

Ia menjelaskan melalui tindakan PRFR, cabang saraf trigeminal akan dirusak secara terkontrol atau hanya sebagian kecil saja dengan suhu tinggi yang bisa menghalangi hantaran nyeri dari kulit ke otak. Tingkat suhu tersebut, kata Mustaqim, menurut penelitian dikatakan aman dan tidak menyebabkan kerusakan saraf berat.

Dengan panduan sinar X, tenaga medis akan mencari lokasi di dasar tengkorak atau tempat keluarnya saraf dengan menggunakan jarum khusus.

Mustaqim mengatakan tindakan PRFR memiliki beberapa keuntungan, mulai dari proses cepat, dapat segera dilakukan, biaya lebih terjangkau, sarana lebih sederhana, risiko minimal, tanpa rawat inap, dan tanpa pembedahan.

Tindakan PRFR dapat dilakukan untuk pasien trigeminal neuralgia dalam beberapa kasus, seperti tidak memungkinkan untuk dilakukan pembedahan karena usia tua, belum siap atau menolak operasi, pembedahan gagal atau nyeri muncul kembali, serta kasus serangan nyeri akut yang berat.

“Untuk beberapa kasus yang kemudian dioperasi tapi muncul lagi, operasi pengulangan secara terus menerus itu akan sangat berbahaya karena ada perlengketan. Tingkat komplikasi risikonya meningkat. Di saat itulah dapat dilakukan radio frekuensi dengan risiko komplikasi yang lebih rendah,” kata dokter yang juga berpraktik di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional itu.

Bahkan, dalam beberapa kasus pasien perempuan hamil yang menderita trigeminal neuralgia juga dapat melakukan tindakan dan pengobatan dengan PRFR.

“Tindakan ini pernah kami lakukan pada pasien perempuan hamil. Kami mengetahui bahwa obat-obat anti-epilepsi itu kalau dikonsumsi lama pada perempuan hamil bisa menyebabkan risiko gangguan pada janin. Waktu itu kami diskusikan, apa yang mungkin dilakukan, akhirnya yang paling mungkin adalah tindakan PRFR dengan melindungi bagian perutnya dengan lapisan anti-radiasi,” terang Mustaqim.

Ia menyebutkan efektivitas keberhasilan tindakan PRFR sekitar 86 persen meski hal tersebut juga bergantung pada standar setiap pusat pengobatan yang memiliki angka bervariasi.

Mustaqim mengatakan pada dasarnya setiap jenis pengobatan tidak menjamin seratus persen permanen dan bisa saja pasien mengalami kekambuhan. Oleh sebab itu, ia menyarankan setiap pasien trigeminal neuralgia perlu kontrol rutin dan berkonsultasi kepada dokter.

“Untuk menjawab permanen atau tidak, kami butuh statement besar dengan penelitian yang besar, data semua pasien PRFR harus dikumpulkan dan dievaluasi,” ujarnya.

Ia menyebutkan penyakit trigeminal neuralgia seperti puncak gunung es atau masih sedikit orang yang menyadari dan melakukan pengobatan hingga kontrol jangka panjang.

Selain itu, ia juga mengatakan faktor regenerasi saraf serta faktor lainnya juga dapat memicu pasien kembali merasakan nyeri trigeminal neuralgia.

“Setiap manusia punya kemampuan untuk menyembuhkan diri termasuk saraf, meski berbeda-beda kecepatannya. Pada beberapa orang ketika sarafnya mengalami regenerasi maka muncullah nyeri ulang, saat itu mungkin kita butuh tindakan berulang. Variasinya ada yang dari 6 bulan sampai 3 tahun hilang nyerinya. Tapi ada juga yang sesudah kembali ternyata nyerinya tidak muncul,” katanya.

Ia menggaris bawahi bahwa faktor seperti stres, keletihan, banyak pikiran, bahkan euforia, juga bisa memicu impuls nyeri dengan lebih kuat meski telah menjalani tindakan dan pengobatan.

“Pada kondisi itu, tekanan darah dan denyut nadinya ikut meningkat, hal ini juga menyebabkan pembuluh darah seperti menggedor saraf lebih kuat. Kalau seperti itu biasanya harus relaksasi untuk lebih tenang supaya nyerinya bisa hilang sendiri,” ujarnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
 Pemkot bertekad turunkan angka stunting di Kota Magelang
Minggu, 28 November 2021 - 13:44 WIB
Pemerintah Kota Magelang, Jawa Tengah bertekad terus menekan jumlah anak penderita stunting di wilay...
Tetap sehat saat liburan, pilih protein yang tepat
Minggu, 28 November 2021 - 12:35 WIB
Liburan akhir tahun sudah di depan mata. Saat liburan, kita cenderung mengkonsumsi makanan tinggi ka...
Alasan PPOK bisa munculkan sesak
Minggu, 28 November 2021 - 12:11 WIB
Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Aditya Wirawan, Ph.D, Sp.P,...
PPOK dan kanker paru bisa dicegah dengan berhenti merokok
Minggu, 28 November 2021 - 11:59 WIB
Rokok adalah salah satu jenis candu yang dapat membahayakan kesehatan dan menimbulkan berbagai masal...
Bupati Sleman ajak masyarakat rutin olahraga cegah penyakit degeratif
Sabtu, 27 November 2021 - 17:41 WIB
Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Kustini Sri Purnomo mengajak masyarakat untuk dapat secara...
Kompetisi kopi COE pertama Asia digelar oleh Indonesia
Sabtu, 27 November 2021 - 13:35 WIB
Indonesia menjadi Negara Asia pertama yang menggelar kompetisi kopi Cup of Excellence (COE). Sebanya...
Mengatasi gejala kelelahan pada penyintas COVID-19
Sabtu, 27 November 2021 - 12:21 WIB
Kelelahan atau fatigue adalah gejala yang paling sering ditemukan pada post-COVID syndrome, bahkan k...
Tiga metode terapi pasien kanker paru
Sabtu, 27 November 2021 - 10:35 WIB
Dr. Ralph Girson Ginarsa, SpPD-KHOM, spesialis penyakit dalam dan konsultan hematologi onkologi medi...
 Turunkan stunting, DP2KBP3A Boyolali lakukan latihan orientasi
Kamis, 25 November 2021 - 19:46 WIB
Upaya percepatan turunkan stunting di Kabupaten Boyolali JawaTengah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) B...
Virolog: Cegah lonjakan kasus COVID-19 dengan prokes
Rabu, 24 November 2021 - 17:35 WIB
Virolog dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr Daniel Joko Wahyono MBiomed mengingatkan bah...
InfodariAnda (IdA)