Prof Aris: Pentingnya sinergi antarnegara atasi perubahan iklim di LCS

Elshinta
Kamis, 14 Oktober 2021 - 12:58 WIB | Editor : Calista Aziza | Sumber : Antara
Prof Aris: Pentingnya sinergi antarnegara atasi perubahan iklim di LCS
Ilustrasi cakupan Laut China Selatan. China secara sepihak mengklaim hampir seluruh perairan Laut China Selatan sebagai perairan kedaulatan mereka berdasarkan pendekatan historis. Batas-batas klaim itu dinamakan \\\"Nine Dashed Lines\\\" yang koordinat persisnya tidak pernah mereka ungkap secara gamblang. ANTARA/elshinta.com

Elshinta.com - Kepala Badan Informasi Geospasial Prof Muh Aris Marfai mengatakan pentingnya sinergi antarnegara di kawasan untuk mengatasi perubahan iklim di Laut China Selatan (LCS).

"Pentingnya kerja sama dan pembahasan mengenai perubahan iklim di Laut China Selatan yang memerlukan sinergi antarnegara di kawasan tersebut," ujar Prof Muh Aris Marfai dalam Lokakarya ke-30 Laut China Selatan secara virtual, Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan isu kenaikan permukaan air karena peningkatan suhu global perlu dihadapi bersama dengan berbagi ilmu dan pengalaman untuk melakukan mitigasi dampak kenaikan muka laut terhadap masyarakat di pesisir.

Hal senada juga diungkapkan, Plt. Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah. Menurut dia, perlu terus dikembangkan kebiasaan dialog dan komunikasi sehingga menciptakan ruang untuk mencari solusi atas tantangan bersama di kawasan Laut China Selatan.

Dalam kesempatan yang sama , Wali kota Bogor, Bima Arya Sugiarto yang turut menyambut baik peserta di Kota Bogor menggarisbawahi potensi ekonomi yang besar di Laut China Selatan.

"Melalui dialog seperti lokakarya ini, dapat terus dijaga agar kawasan tetap damai, stabil, dan sejahtera," kata dia.

Kegiatan diikuti oleh 67 peserta dari 11 participating parties di kawasan Laut China Selatan, yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, Tiongkok, Chinese Taipei, Viet Nam.

Lokakarya tanggal 13-14 Oktober 2021 diselenggarakan secara hybrid oleh Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri, bersama dengan Badan Informasi Geospasial dan Pusat Studi Kawasan Asia Tenggara.

Selama 2 hari para peserta saling berbagi pengalaman dan membahas berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama, antara lain dampak, adaptasi dan kebijakan dalam perubahan iklim termasuk dan dampak kenaikan permukaan laut terhadap masyarakat di pesisir di wilayah Laut China Selatan.

Selain itu, dibahas isu-isu lain, seperti ekonomi biru dan sampah laut di Laut China Selatan dan dorongan kerja sama minyak nabati berkesinambungan di Laut China Selatan.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Indonesia selenggarakan rangkaian pertemuan menlu ASEAN
Kamis, 02 Februari 2023 - 22:25 WIB

Indonesia selenggarakan rangkaian pertemuan menlu ASEAN

Elshinta.com, Indonesia akan menyelenggarakan rangkaian pertemuan para menteri luar negeri Perhimpun...
Malaysia mengutuk keras serangan bom bunuh diri di Peshawar Pakistan
Kamis, 02 Februari 2023 - 11:29 WIB

Malaysia mengutuk keras serangan bom bunuh diri di Peshawar Pakistan

Elshinta.com, Malaysia mengutuk keras serangan bom bunuh diri di sebuah masjid di Peshawar di Provin...
Indonesia bertekad tingkatkan peran ASEAN
Rabu, 01 Februari 2023 - 19:23 WIB

Indonesia bertekad tingkatkan peran ASEAN

Elshinta.com, Indonesia akan menjalankan peran keketuaan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (AS...
Malaysia akan benahi tata kelola pekerja Indonesia dengan digitalisasi
Selasa, 31 Januari 2023 - 23:15 WIB

Malaysia akan benahi tata kelola pekerja Indonesia dengan digitalisasi

Elshinta.com, Pemerintah Malaysia akan mempercepat perbaikan tata kelola pekerja migran Indonesia di...
Junta militer Myanmar cabut pengampunan untuk ekonom Australia
Jumat, 27 Januari 2023 - 04:29 WIB

Junta militer Myanmar cabut pengampunan untuk ekonom Australia

Elshinta.com, Junta militer Myanmar mencabut pengampunan penjara atas ekonom Australia, yang juga pe...
Singapura dukung Indonesia jadikan Asia Tenggara pusat ekonomi dunia
Senin, 16 Januari 2023 - 21:34 WIB

Singapura dukung Indonesia jadikan Asia Tenggara pusat ekonomi dunia

Elshinta.com, Pemerintah Singapura mendukung Keketuaan Indonesia untuk KTT ASEAN Tahun 2023 dan upay...
Dubes Hermono sebut KBRI rumah bagi seluruh umat beragama
Minggu, 15 Januari 2023 - 08:01 WIB

Dubes Hermono sebut KBRI rumah bagi seluruh umat beragama

Elshinta.com, Duta Besar RI untuk Malaysia Hermono mengatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBR...
Indonesia harapkan Anwar Ibrahim segera selesaikan isu PMI di Malaysia
Sabtu, 14 Januari 2023 - 09:45 WIB

Indonesia harapkan Anwar Ibrahim segera selesaikan isu PMI di Malaysia

Elshinta.com, Duta Besar RI untuk Malaysia Hermono berharap penyelesaian secara cepat persoalan peke...
Malaysia kembali laksanakan program rekalibrasi tenaga kerja
Rabu, 11 Januari 2023 - 08:11 WIB

Malaysia kembali laksanakan program rekalibrasi tenaga kerja

Elshinta.com, Pemerintah Malaysia kembali melaksanakan Program Rekalibrasi Tenaga Kerja dan Rencana ...
Berburu rasa Indonesia di Chow Kit
Jumat, 06 Januari 2023 - 20:59 WIB

Berburu rasa Indonesia di Chow Kit

Elshinta.com, Chow Kit merupakan salah satu daerah di pusat Kota Kuala Lumpur yang cukup terkenal ba...

InfodariAnda (IdA)