Geliat upaya pelestarian Ulos lewat para penenunnya
Elshinta
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 17:45 WIB |
Geliat upaya pelestarian Ulos lewat para penenunnya
Ilustrasi para wanita mengenakan Ulos (Dokumentasi Foto Milik Tobatenun)

Elshinta.com - Wastra nusantara termasuk Ulos yang menjadi kain khas masyarakat Batak terus diupayakan pelestariannya termasuk menjadikannya sebagai bagian dari produk fesyen yang penuh dengan warna.

Hal ini tak lepas dari usaha meningkatkan kemampuan para penenun termasuk dalam merancang kain hingga menjadi produk fesyen, menurut Staf Khusus Kementerian Ketenagakerjaan, Dita Indah Sari.

"Selain skill menenun ditingkatkan, juga kemampuan mereka mendesain kain tenun menjadi barang fesyen atau barang fesyen yang dikombinasikan sehingga colorfull," kata dia dalam konferensi pers daring memperingati Hari Ulos Nasional 2021 bertajuk "Bangga Bertenun Bangga Berbudaya," dikutip Sabtu.

Menurut Dita, para penenun yang sudah bergelut menjalani profesinya sejak lama juga perlu mendapatkan pengakuan salah satunya melalui pemberian sertifikasi.

Indonesia saat ini sudah memiliki standar kompetensi kerja nasional khusus bidang tenun tradisional. Dengan standar ini, maka ada bekal dalam pembuatan program pelatihan hingga pengembangan instruktur latih.

Nantinya, mereka yang sudah mendapatkan sertifikasi sebagai instruktur bisa melakukan pelatihan di manapun. Di sisi lain, peluang melatih calon penenun maupun peningkatan kemampuan penenun yang sudah eksis juga menjadi terbuka lebar.

Tak hanya perkara kemampuan menenun, Dita juga menilai pentingnya bantuan dari sisi pembiayaan dan pendampingan agar para penenun bisa lebih mandiri dan memiliki daya tawar terhadap para tengkulak atau kerap disebut tauke. Dia menyadari, para penenun kerap tercekik bunga yang sangat tinggi.

Tantangan yang dihadapi para penenun juga disadari pemerintah daerah, salah satunya Pemerintah Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Bupati Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Eddy Keleng Ate Berutu mengatakan, bergantungnya para penenun pada penyuplai dana dengan tawaran bunga sangat tinggi menyebabkan ekonomi mereka tidak bisa bertumbuh. Dari sisi pemasaran, ketergantungan pada tauke membuat penenun tidak berdaya menunjukkan daya tawar.

Menurut Eddy, pemerintah daerah sebenarnya berupaya mendorong dan meningkatkan keberlangsungan industri kerajinan dan kreatif, termasuk pelestarian dan pengembangan Ulos melalui berbagai strategi antara lain pemberian stimulus kepada UMKM dan Koperasi, pelatihan dan pendampingan bagi UMKM untuk peningkatan kualitas produksi dan pemasaran.

Pelestarian berbasis komunitas
Selaras dengan upaya pelestarian Ulos, Kementerian Ketenagakerjaan bekerja sama Tobatenun sebagai mitra strategis untuk memberdayakan para penenun Ulos, salah satunya di Toba.

“Kerja sama antara Kemnaker dengan Tobatenun ini adalah perwujudan dari program perluasan kesempatan kerja yang dimiliki Kemnaker untuk melatih, membina dan manajemen pemasaran para perajin ulos di sekitar danau Toba,” tutur Dita.

Dia mengatakan, Kemenaker bersama Tobatenun merancang roadmap usaha yang dapat menguntungkan dan memberikan dampak kesejahteraan kepada UMKM Ulos.

Founder & CEO Tobatenun, Kerri Na Basaria mengatakan, pelaku dan perajin yang seringkali terlupakan dalam pelestarian budaya. Padahal, menurut dia, upaya pelestarian budaya harus jalan bersamaan dengan upaya perubahan sosial dan pemahaman keseimbangan antara modernisasi dan budaya diperlukan untuk kebaikan di masa depan.

Hanya saja, dia menyadari, sebenarnya masih ada tantangan yang dihadapi para pelaku dan penenun ini, mulai dari kemiskinan, eksploitasi oleh pengepul, tidak menerima upah layak dan banyaknya isu sosial yang kompleks yang datang dari kemiskinan.

Dia kemudian bersama para mitranya berusaha membuka peluang melalui sebuah wadah pelatihan yang juga menjadi sarana pembelajaran dan pendidikan bagi penenun yang kurang mempunyai kesempatan, sekaligus mendampingi mereka sehingga diharapkan berujung pada suatu community development yang sehat atau tidak bersifat eksploitatif.

Dari sisi produksi Ulos, Kerri berfokus pada revitalisasi budaya wastra ke akarnya, menggunakan material alam, serat, pewarnaan maupun teknik yang menurut dia saat ini sudah banyak hilang dan hampir punah.

“Kami mendorong digunakannya pembuatan tenun yang bertanggung jawab pada lingkungan dan pembuatan ramah lingkungan yang mengutamakan prinsip berkelanjutan,” tutur dia.

Lebih lanjut, menyadari potensi Ulos untuk dapat bersaing di pasar nasional maupun mancanegara, Kerri bersama Tobatenun memperkenalkan Ulos ke pasar internasional melalui partisipasinya dalam TENUN Fashion Week yang diselenggarakan secara virtual pada 15-17 Oktober 2021. Pagelaran ini dijadwalkan menampilkan 45 komunitas tenun yang berpartisipasi dari Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Dalam TENUN Fashion Week, Tobatenun menghadirkan dua lini produknya yaitu Tobatenun dan BORU. Mereka menampilkan koleksi revitalisasi ulos lawas yang juga menjadi koleksi pertama untuk distribusi di platform yang hadir dalam motif Ragi Hotang, Ragi Idup, dan Tumtuman.

Sementara untuk produk Boru, Tobatenun menampilkan koleksi ready to wear “Sindar” yang merupakan hasil kerja sama desainer muda dan berbagai UKM dan pengrajin dari Siantar, Yogyakarta, dan Jepara.

Kerri mengaku optimistis wastra nusatara termasuk Ulos bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bisa dinikmati pasar yang lebih luas seiring semakin banyaknya pihak yang terlibat dalam pelestarian dan pengembangan ekosistemnya.

“Kami pun berharap upaya kami dalam memberdayakan perajin dan berbagai aktivitas sosial lain dapat memberikan dampak yang luas bagi para penenun untuk memberikan harapan bagi mereka mendapatkan masa depan yang lebih baik,” demikian kata dia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rais Aam: Konferensi Besar NU jelang muktamar digelar 7 Desember 2021
Senin, 06 Desember 2021 - 13:55 WIB
Rais Aam PBNU KH Miftachul Ahyar mengatakan Konferensi Besar (Konbes) NU untuk memastikan jadwal pel...
Wali Kota Medan ajak umat kristiani dukung rumah ibadah mandiri
Minggu, 05 Desember 2021 - 23:45 WIB
Wali Kota Medan Bobby Nasution mengajak umat kristiani di daerah ini mendukung program Pemkot Medan...
Ketum PBNU: Muktamar ke-34 terus berjalan
Minggu, 05 Desember 2021 - 19:57 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menyatakan bahwa pelaksanaan Mu...
PWNU NTB: Muktamar NU tidak bisa ditawar
Minggu, 05 Desember 2021 - 14:27 WIB
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) Prof Masnun Tahir mengatakan...
Tanfiziah PWNU Lampung tegaskan kesiapan penyelenggaraan muktamar
Minggu, 05 Desember 2021 - 13:48 WIB
Ketua Tanfiziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung sekaligus Ketua Panitia Daerah Mukta...
Kemenag Sulsel: 3.000 calon jamaah umrah siap diberangkatkan
Jumat, 03 Desember 2021 - 20:25 WIB
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan menyatakan 3.000 calon jamaah umrah suda...
Popart Jakarta siap digelar 4-19 Desember 2021
Jumat, 03 Desember 2021 - 10:42 WIB
Popart Jakarta yakni sebuah gelaran pameran untuk para kreator IP untuk menunjukkan karya terbaik me...
Gus Imron Rosyadi nilai surat Rais Aam telah sesuai anggaran dasar
Rabu, 01 Desember 2021 - 17:57 WIB
Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok KH Imron Rosyadi Hamid menila...
Wartawan senior dan pemerhati musik Bens Leo meninggal dunia
Senin, 29 November 2021 - 11:34 WIB
Wartawan senior dan pemerhati musik Indonesia, Bens Leo meninggal dunia hari ini dalam usia 69 tahun...
Miris! Cagar budaya Multatuli telantar
Minggu, 28 November 2021 - 19:12 WIB
Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam ( STAI) Latansa Mashiro Rangkasbitung Mochamad Husen menyoroti ...
InfodariAnda (IdA)