Penerapan PCR belum berdampak di Bandara Adi Sumarmo
Sejumlah penumpang pesawat udara di Bandara Adi Sumarmo, Boyolali, JawaTengah mengeluhkan mahalnya harga PCR dalam penerbangan yang mencapai lebih dari Rp400.000.

Elshinta.com - Sejumlah penumpang pesawat udara di Bandara Adi Sumarmo, Boyolali, JawaTengah mengeluhkan mahalnya harga PCR dalam penerbangan yang mencapai lebih dari Rp400.000. Meski demikian penumpang tetap mengikuti aturan yang berlaku demi memutus mata rantai Covid19. Hal ini dikatakan salah satu penumpang asal Tangerang Selatan, Suroso di Bandar Udara Adi Sumarmo, Boyolali, JawaTengah, Senin (25/10).
Suroso mengatakan, PCR memang perlu bagi penumpang guna memonitor kesehatan terkait Covid-19. Meski pihaknya setuju dengan pemberlakuan PCR dalam penerbangan, kalau bisa berharap harganya diturunkan menjadi Rp200.000 - Rp300.000.
Sementara itu terkait hal ini, General Manager (GM) Bandar Udara Adi Sumarmo Boyolali, JawaTengah,Yani Ajad Hermawan, Senin (25/10) menjelaskan. Pelayanan PCR di Bandar Udara Adi Sumarmo dibuka mulai pukul 06.00 hingga 11.00 dan PCR diterapkan sesuai dengan S.E no.88 Kemenhub. Sedangkan pelayanan tes antigen dilayani dari pukul 06.00 hingga 15.00.
Yani mengatakan, Penerapan SE 88 ini mulai tanggal 24 Minggu kemarin hingga saat ini belum berpengaruh terhadap penumpang yang melakukan penerbangan dari Solo. Kemarin penumpang datang sekitar 800 dan pergi sekitar 800. Hingga hari ini pengaruh PCR belum terasa. "Karena dilihat di bulan Oktober ini, jumlah penumpang total sebanyak 19.000. Sedangkan pada September perhari jumlah penumpang mencapai 1.100.Sehingga belum ada efek dari penerapan PCR," katanya.
Yani menambahkan, di Adi Sumarmo, hari ini ada sekitar 6 penerbangan. Dari sebelum diterapkan PPKM sebanyak sekitar 10 penerbangan yang aktif adalah maskapai Garuda, Lion Air, Nam Air dan Citilink. "Hingga saat ini Pihak Bandar Udara Adi Sumarmo masih melayani tes PCR dan dan antigen bagi calon penumpang maupun warga lainnya," ucapnya.