Top
Begin typing your search above and press return to search.

Kedutaan Belanda tawarkan restorasi Depok lama jadi destinasi wisata 

Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert C. Grijns berkunjung ke Kota Depok. Kunjungan Grijns ini khusus mengunjungi kawasan Depok lama di Jalan Pemuda, Kota Depok, Jawa Barat yang kenal dengan kawasan komunitas Kaoem Depok.

Kedutaan Belanda tawarkan restorasi Depok lama jadi destinasi wisata 
X
Sumber foto: Hendrik Raseukiy/elshinta.com.

Elshinta.com - Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert C. Grijns berkunjung ke Kota Depok. Kunjungan Grijns ini khusus mengunjungi kawasan Depok lama di Jalan Pemuda, Kota Depok, Jawa Barat yang kenal dengan kawasan komunitas Kaoem Depok atau yang dikenal dengan sebutan slank 'Belanda Depok'.

Duta Besar Lambert C Grijns yang lahir di Bogor tahun 1962 ini memproyeksikan kawasan Depok lama direstorasi menjadi kawasan cagar budaya dengan tetap mempertahankan bangunan arsitektur Belanda lama.

Grijns yang fasih berbahasa Indonesia ini mengatakan, ada peluang dari Kedutaan Belanda untuk membantu restorasi kawasan Depok lama. Namun Belum dibahas secara detil.

Lambert C Grijns berharap kawasan Depok lama yang berpusat di Jalan Pemuda, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat ini dapat menjadi kawasan wisata nostalgia bagi warga negara Belanda yang punya riwayat sejarah keturunannya dengan Depok.

"Depok lama ini istimewa sekali karena ada gedung-gedung lama yang masih baik kondisinya. Dapat diperbaiki, direstorasi. Ini bagus sekali untuk pariwisata. Kami di sini, dari kedutaan untuk melihat bagaimana bisa perkuat hubungannya antara masyarakat, Pemerintahan Kota Depok dengan kedutaan Belanda. Dalam bidang Cultural Heritage," ujar Lambert Grijns ketika ditemui di Art Aviator, Jalan Pemuda seperti dilaporkan Kontributor Elshinta Hendrik Raseukiy, Jumat (12/11).

Diterangkan Lambert C Grijns yang di masa kecilnya dari tahun 1962 - 1970 di Bogor, sudah banyak penelitian di Belanda tentang Depok. Juga, sekarang di Kota Den Haag, Belanda sedang berlangsung tentang Depok. Rencananya, membawa pameran tersebut ke Depok.

"Banyak keluarga yang sudah lama di Belanda ingin tahu bagaimana Depok lama. Senang sekali bertemu dengan Wakil Wali Kota Depok, dari UI, dan juga generasi ke-10 Belanda Depok. Juga ada buku yang ditulis tentang Depok. Foto fotonya orang Belanda Depok yang tinggal di sini," ungkap Lambert.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Kadis Poryata), Dadan Rustandi, menyambut baik gagasan dari Lambert C Grijns ini.

Terkait tawaran Duta Besar Belanda ini, Dadan Rustandi mengatakan, pada awalnya, akan melakukan penelitian dan perencana merestorasi Depok lama. Untuk itu, berkolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI), Depok Culture Heritage (DCH), Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), dan pemilik bangunan di kawasan Depok lama.

"Awal-awal kita akan melakukan penelitian, direncanakan restorasi kawasan dari sekarang akhirnya akan jadi cagar budaya. Sudah ada beberapa cagar budaya di kota depok. Berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemilik. Dibangun jadi bangunan lama gaya Belanda. Harus ada persetujuan dari pemilik rumah rumah di kawasan ini," kata Dadan Rustandi.

Jika nantinya, kawasan wisata nostalgia orang-orang Belanda. Setiap tahun akan ada wisata maka, akan jadi cagar budaya sehingga tidak dapat diubah-ubah.

Disebut orang 'Belanda Depok' adalah orang pribumi Hindia Timur Belanda dari Minahasa, Bali, dan Timor--setelah merdeka dari Belanda menjadi Indonesia--yang dipekerjakan oleh tuan tanah Belanda Cornelis Chastelein di Depok sekira tahun 1700-an.

Ada 150 pekerja yang dibawa Cornelis Chastelein yang dibawa dengan kapal laut dari Timur. Kemudian, Ketika Cornelis Chastelein meninggal dunia pada 28 Juni 1714, Ia telah mempersiapkan wasiat. Dalam testament atau maklumat tertulisnya, Cornelis memerdekakan seluruh budak beliannya yang berjumlah kurang-lebih 150 orang itu, dengan syarat mereka harus menjadi Kristen. Sejumlah 120 menuruti ajakan itu. Mereka kemudian disebut mardijkers yang berarti orang yang dimerdekakan. Budak-budak yang dibebaskan itu antara lain bernama Jan van Badinlias, Batoe Pahan, Samawarin van Bali, Hazin van Bali, Wiera van Makassar dan Florian van Bengalen. Selain itu, terdapat pula Raima dan istrinya Mamma, Lukas dan istrinya Klara, Sangkat Maligat, Malantas, Hagar, dan Soman.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire