PPOK dan kanker paru bisa dicegah dengan berhenti merokok

Elshinta
Minggu, 28 November 2021 - 11:59 WIB |
PPOK dan kanker paru bisa dicegah dengan berhenti merokok
Ilustrasi berhenti merokok (Pixabay)

Elshinta.com - Rokok adalah salah satu jenis candu yang dapat membahayakan kesehatan dan menimbulkan berbagai masalah termasuk pada organ pernapasan dan paru-paru. Dua dari sekian banyak penyakit yang bisa dicegah dengan berhenti merokok yakni penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kanker paru.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2002 menunjukkan, PPOK menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskular dan kanker yang menjadi penyebab kematian di dunia.

Di Indonesia, diperkirakan 4,8 juta orang menderita PPOK dan angka ini bisa bertambah semakin banyaknya jumlah perokok, karena 90 persen penderita PPOK perokok atau mantan perokok.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Aditya Wirawan, Ph.D, Sp.P mengatakan, dari sisi gejala umum dan derajat skala sesak penyakit PPOK, dimulai dari derajat 0 hingga derajat 4.

Derajat 0 yaitu tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat, derajat 1 yaitu sesak timbul bila berjalan cepat atau ketika berjalan menanjak, derajat 2 yaitu berjalan lebih lambat dari orang sebayanya karena sesak.

Selanjutnya derajat 3 muncul setelah berjalan 100 meter atau setelah berjalan beberapa menit, dan derajat 4 yaitu sesak muncul saat mandi atau berpakaian, derajat.

Menurut Aditya, sesak yang dialami penderita PPOK disebabkan terjadinya perubahan struktur anatomi paru.

"Kantung paru menjadi melebar, sehingga udara mudah masuk, namun udara tersebut akan sulit keluar, sehingga produksi dahak akan meningkat. Fenomena ini dikenal dengan fenomena bottle neck," kata dia melalui keterangan tertulis RSUI.

Untuk mendiagnosa PPOK, pasien sebaiknya berkonsultasi ke dokter. Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, pemeriksaan dan melakukan tes spirometri. Jika ditemukan pada fase awal, PPOK dapat lebih mudah ditangani dan tidak berkembang ke tahapan yang lebih parah.

Aditya mengatakan, PPOK termasuk penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati, namun akan berbahaya jika tidak ditangani. Dia mengimbau orang-orang memeriksakan kesehatan paru secara rutin dan menghindari pajanan zat berbahaya salah satunya dengan berhenti merokok bila perokok.

Selain PPOK, kanker paru juga bisa dicegah dengan menghindari dan berhenti merokok khususnya bagi perokok.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Gatut Priyonugroho, Sp.P mengatakan, banyak orang merasa perokok bisa tetap sehat dan tidak terkena kanker paru atau ada pula penderita kanker paru tidak berobat namun masih hidup sampai saat ini.

Padahal, menurut dia, orang-orang sebaiknya melihat dari penelitian-penelitian dengan jumlah sampel yang lebih banyak.

Di tengah angka harapan hidup yang meningkat saat ini, tren penyakit bergeser menjadi penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan kanker, termasuk kanker paru. Hal ini juga dibarengi dengan jumlah dan proporsi perokok yang meningkat.

Berdasarkan data dari UNICEF terkait profil remaja di Indonesia tahun 2021, sebanyak 59,7 persen orang mulai merokok setiap hari pada usia di bawah 19 tahun.

Kasus kanker paru di Indonesia menempati urutan ketiga kanker terbanyak (8,6 persen), setelah kanker payudara (16,7 persen) dan kanker leher rahim (9,3 persen).

Dalam satu tahun, sebanyak setengah dari penderita kanker paru meninggal dunia. Rokok menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian kanker.

Kanker merupakan suatu benjolan yang bersifat ganas, bisa menyebar ke tempat lain dan merusaknya. Tidak semua benjolan adalah kanker, sehingga sebaiknya harus dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu agar dapat didiagnosis dengan tepat.

Kanker disebabkan mutasi gen, dimana sel-sel dapat membesar dan memperbanyak diri secara abnormal. Sel-sel yang abnormal ini tumbuh secara tidak terorganisir dan bersifat ganas. Sel kanker dapat menyebar ke bagian lain, sehingga sebaiknya dideteksi secara dini untuk mencegah perluasan yang lebih parah.

Mutasi gen sendiri dapat terjadi akibat terkena paparan zat berbahaya secara terus menerus, salah satunya paparan zat berbahaya yang terkandung dalam rokok.

Beberapa zat berbahaya yang dapat menyebabkan kanker dan terdapat dalam rokok di antaranya Benzoapiren dan Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH).

Sejak tahun 1970-an zat-zat ini diketahui menyebabkan kanker pada seluruh hewan yang diteliti pada tikus, mencit, monyet, baik dihirup maupun ditelan atau disuntikkan.

Asap rokok bahkan mengandung PAH yang tinggi. Rokok juga mengandung zat arsenik yakni suatu zat yang terkenal digunakan untuk membunuh dan berasal dari gunung berapi, pestisida, baterai dan lainnya.

Terdapat 0,8-2,4 mcg atau setara 20 batang rokok, sementara kadar mematikannya sekitar 1 mg atau lebih. Rokok juga mengandung polonium-210 atau suatu zat radioaktif.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan, merokok menjadi penyebab utama yang dapat dicegah terhadap kejadian kanker dan kematian akibat kanker.

Peluang perokok aktif 4,6 kali lipat lebih besar untuk mengalami kanker paru dibanding orang yang tidak merokok.

Jadi, untuk mencegah kanker paru, langkah utama adalah dengan menghindari penyebabnya, yaitu berhenti merokok.

Rokok yang dapat menimbulkan kanker bukanlah akibat asap yang tertimbun di badan, melainkan zat-zatnya perlahan merusak DNA sehingga mengakibatkan mutasi gen. Selain, upaya yang tidak kalah penting yakni melakukan pemeriksaan kesehatan paru secara rutin setidaknya setahun sekali.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Komunitas kanker jadi jembatan antara pemerintah dan pasien
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 22:31 WIB

Komunitas kanker jadi jembatan antara pemerintah dan pasien

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia Linda Agum Gumelar mengatakan komunitas kanker berperan pent...
Dokter: Penanganan saraf terjepit bisa gunakan teknologi endoskopi
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 22:01 WIB

Dokter: Penanganan saraf terjepit bisa gunakan teknologi endoskopi

Kepala Pusat Ortopedi dan Tulang Belakang terpadu Eka Hospital dr Luthfi Gatam mengatakan penanganan...
IDAI: ASI merupakan imunisasi pertama bagi bayi
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 15:45 WIB

IDAI: ASI merupakan imunisasi pertama bagi bayi

Ketua Satuan Tugas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Naomi Esthernita F. Dewanto mengi...
Gejala subvarian Covid BA.5 yang berbeda dari varian lainnya
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 12:01 WIB

Gejala subvarian Covid BA.5 yang berbeda dari varian lainnya

COVID-19 BA.5 menjadi subvarian yang paling banyak menyebar tidak hanya di Amerika Serikat, namun di...
Dokter: Penanganan saraf terjepit bisa gunakan teknologi endoskopi
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 02:01 WIB

Dokter: Penanganan saraf terjepit bisa gunakan teknologi endoskopi

Kepala Pusat Ortopedi dan Tulang Belakang terpadu Eka Hospital dr Luthfi Gatam mengatakan penanganan...
Studi: Gejala long COVID dialami satu dari delapan orang
Jumat, 05 Agustus 2022 - 15:19 WIB

Studi: Gejala long COVID dialami satu dari delapan orang

Satu dari delapan orang yang terinfeksi virus corona mengalami setidaknya satu gejala long COVID, be...
Jaga kesehatan, siswa MTs di Boyolali uji makanan mengandung boraks
Rabu, 03 Agustus 2022 - 12:25 WIB

Jaga kesehatan, siswa MTs di Boyolali uji makanan mengandung boraks

Para siswa Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Boyolali, JawaTengah melakukan uji coba sejumlah mak...
Kondisi stres pada ibu menyusui bisa pengaruhi kelancaran ASI
Selasa, 02 Agustus 2022 - 00:01 WIB

Kondisi stres pada ibu menyusui bisa pengaruhi kelancaran ASI

Dokter spesialis anak dan konselor laktasi dr. Jeanne-Roos Tikoalu, Sp.A, IBCLC, CIMI mengatakan kon...
Canangkan BIAN, Bupati minta target imunisasi balita di Kudus tercapai
Senin, 01 Agustus 2022 - 15:25 WIB

Canangkan BIAN, Bupati minta target imunisasi balita di Kudus tercapai

Pemerintah secara serentak mencanangkan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) dalam upaya meneliminas...
Akademisi ajak perokok berhenti bertahap dengan tembakau rendah risiko
Sabtu, 30 Juli 2022 - 22:23 WIB

Akademisi ajak perokok berhenti bertahap dengan tembakau rendah risiko

Kepala Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran Neily Zakiah berpe...

InfodariAnda (IdA)