Kurangi risiko penyakit kardiovaskuler dengan berhenti merokok
Elshinta
Selasa, 07 Desember 2021 - 14:56 WIB |
Kurangi risiko penyakit kardiovaskuler dengan berhenti merokok
Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta.com - Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah Harapan Kita, dr Ade Meidian Ambari, Sp.JP, menjelaskan bahwa rokok dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular yakni kardiovaskuler akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah di jantung.

Dalam diskusi "The Impact of Tobacco Smoking and Risk Cardiovaskular Disease” yang diselenggarakan secara daring, ia mengatakan bahwa rokok bertanggung jawab atas 10 persen dari total kasus penyakit kardiovaskuler.

Ia juga mengutip data Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa penyakit kardiovaskuler adalah faktor utama kematian secara global karena menyebabkan 17,9 juta kematian setiap tahunnya.

"Dari perspektif pencegahan kardiologi, ini adalah sebuah masalah," kata dalam keterangannya dikutip Selasa (7/12).

Saat ini, menurut dia, jumlah perokok Indonesia telah mencapai 65 juta jiwa. Dengan angka yang sangat besar tersebut, Ade menyarankan agar para perokok segera berhenti merokok untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler.

"Sekitar satu atau dua tahun setelah berhenti merokok, terjadi penurunan risiko atau dalam jangka panjang mengurangi risiko gagal jantung,” ungkap dia.

Produk Alternatif

Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Badan Kesehatan Dunia, Tikki Pangestu dalam diskusi itu mengatakan, permasalahan rokok harus segera diselesaikan dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan cara alternatif bagi pecandu rokok yang kesulitan berhenti.

Tikki mencontohkan bahwa Inggris berhasil menurunkan jumlah perokok berkat cara alternatif. Ia mengutip laporan The England Journal of Medicine yang menyebutkan bahwa ada 20 ribu orang berhenti merokok di Inggris setiap tahunnya.

Efektivitas cara alternatif juga ditunjukkan melalui survei yang dipublikasikan Badan Statistik Inggris. Berdasarkan hasil survei tersebut, angka perokok mengalami penurunan dari 14,4 persen pada 2018 menjadi 14,1 persen pada 2019. Angka perokok Inggris kini 6,9 juta jiwa dengan 3,8 juta perokok pria dan 3,1 juta perokok wanita.

"Jadi ini bukti yang cukup meyakinkan untuk efektivitas dari produk ini,” ujarnya.

Menurut dia, produk alternatif telah menerapkan konsep pengurangan risiko dan berdasarkan sejumlah kajian, produk tembakau alternatif mampu menurunkan risiko hingga 90 persen-95 persen daripada rokok konvensional yang dibakar.

"Produk itu penting sebagai bantuan potensial untuk membantu orang berhenti merokok,” tegasnya. "Harus ada kemauan dan komitmen politik dengan mempertimbangkan faktor ekonomi serta sosial."

Konsultan Senior Kardiologi Rumah Sakit Manila, Rafael R. Castillo, mengatakan bahwa tembakau alternatif diberdayagunakan sebagai alternatif untuk berhenti merokok, meskipun produk tersebut tidak sepenuhnya bebas risiko.

Menurut dia, mengganti kebiasaan merokok dengan produk tembakau alternatif menciptakan peluang lebih besar untuk sepenuhnya berhenti.

“Produk itu dapat dipertimbangkan sebagai solusi untuk perokok berat. Penggunaan produk ini juga menunjukkan penurunan detak jantung yang signifikan dibandingkan dengan rokok,” jelasnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Survei: Pandemi ciptakan risiko kesehatan yang lebih kompleks
Jumat, 28 Januari 2022 - 13:23 WIB
Survei yang dilakukan oleh Willis Towers Watson pada tahun 2021 menyebutkan bahwa pandemi COVID-19 t...
Bedak yang disarankan dokter untuk pemilik kulit berjerawat
Jumat, 28 Januari 2022 - 13:00 WIB
Dokter spesialis dermatologi dan venerologi di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Dr. dr. Irm...
Dokter paru: Batuk dan gatal tenggorokan gejala umum Omicron
Jumat, 28 Januari 2022 - 07:23 WIB
Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan mengatakan gejala umum yang ditemukan pada pa...
Sindrom pasca-COVID dapat menyerang segala usia
Kamis, 27 Januari 2022 - 10:35 WIB
Berusia muda dengan gejala-gejala yang ringan tidak menjamin bagi para penyintas COVID-19 terbebas d...
Pangan bergizi hingga pemantauan pertumbuhan demi cegah anak stunting
Rabu, 26 Januari 2022 - 12:05 WIB
Konsumsi pangan bergizi sejak anak dalam kandungan dan wanita usia subur hingga pemantauan pertumbuh...
Cegah anak stunting bisa dimulai sebelum ibu masuki kehamilan
Selasa, 25 Januari 2022 - 23:11 WIB
Pencegahan kasus anak stunting atau kekerdilan rupanya bisa dimulai bahkan sebelum ibu memasuki ma...
 Hadapi ancaman Omicron, RSUD Kudus kembali siagakan ruang isolasi
Senin, 24 Januari 2022 - 20:18 WIB
Selama empat bulan terakhir, pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loek...
Epidemiolog: Waspadai peningkatan kasus DBD saat musim hujan
Minggu, 23 Januari 2022 - 15:23 WIB
Ahli epidemiologi lapangan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Yudhi Wibowo mengingatkan p...
Satgas Yonif 126/KC gandeng Puskesmas Model laksanakan pelayanan Posyandu
Minggu, 23 Januari 2022 - 12:46 WIB
Prajurit TNI Satgas Pamtas Yonif 126/KC bersama Puskesmas Model memberikan pelayanan kesehatan posya...
Tanggap malaria, Satgas Yonif 126/KC beri pengobatan warga perbatasan RI-PNG 
Sabtu, 22 Januari 2022 - 19:44 WIB
Atas perhatian Dansatgas kepada seluruh personel Satgas Yonif 126/KC jangan tanggung-tanggung memban...
InfodariAnda (IdA)