Top
Begin typing your search above and press return to search.

Santri dapat menyampaikan pesan kebaikan lewat medsos

Para santri yang belajar di pondok pesantren memiliki potensi yang besar untuk menyuarakan pesan-pesan kebaikan melalui berbagai konten kreatif yang diunggah di media sosial. Apalagi kini sudah banyak pesantren yang  adaptif dengan teknologi dan digitalisasi.

Santri dapat menyampaikan pesan kebaikan lewat medsos
X
Sumber foto: Joko Hendrianto/elshinta.com.

Elshinta.com - Para santri yang belajar di pondok pesantren memiliki potensi yang besar untuk menyuarakan pesan-pesan kebaikan melalui berbagai konten kreatif yang diunggah di media sosial. Apalagi kini sudah banyak pesantren yang adaptif dengan teknologi dan digitalisasi.

Pesan-pesan kebaikan itu mampu mengisi ruang-ruang dakwah, ruang kemaslahatan bahkan juga ruang pengetahuan, melalui berbagai kerativitas untuk ikut menyebarkan pesan-pesan positif itu.

Dalam Workshop Penyebaran Pesan Baik dari Dalam Pesantren, yang digelar Akatara Jurnalis Sahabat Anak dan UNICEF di Hotel Noormans Semarang, Sabtu (18/12), para santri dari Pondok Pesantren Girikusumo, Mranggen, Demak diajak untuk mengasah kemampuan mereka membuat kontren kreatif berisi pesan kebaikan tersebut.

Dosen Strategi Media Online Universitas Semarang (USM), Edi Nurwahyu Julianto mengungkapkan, "Berbicara konten sebenarnya sudah tidak lagi atau harus terkotak- kotak pada segmen, kelompok atau komunitas masyarakat tertentu. Semua tergantung pada pesan utama apa yang akan disampaikan kepada masyarakat dan dikreasikan dengan konten yang menarik."

Pesan- pesan kebaikan dari dalam pesantren dapat menyampaikan bahwa ternyata banyak hal-hal positif dan baik dan bisa dikreasi dalam konten-konten positif.

"Mungkin jika sudah membicarakan tentang konten yang berhubungan dengan pesantren maupun tentang nilai Islami selama ini masih dianggap membosankan, terlalu kaku atau terikat oleh kaidah-kaidah tertentu. Padahal sebenarnya juga bisa membuat konten- konten yang sesuai dengan kaidah, tetapi dikomunikasikan dengan gaya kekinian. Hasilnya menjadi lebih menarik dan mudah diterima oleh masyarakat," kata Nurwahyu seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Minggu (19/12).

Ia menambahkan, yang penting adalah disesuaikan dengan targetnya siapa, kemudian platformnya media yang dipakai.

“Bahwa kreativitas harus ada standar kaidah-kaidah tertentu yang harus dipenuhi, memang iya. Tetapi sebenarnya juga tetap fleksibel jika dikemas dalam konten yang kreatif,” ujarnya.

Tantangannya ada di lembaga pesantren sendiri adalah apakah mau mengikuti perkembangan zaman atau tidak, karena kultur pesantren memang spesifik.

"Bila lembaganya (pesantren) mau, sebenarnya bisa saja konten itu dibuat sedemikian rupa sehingga masyarakat umum akan bisa melihat, ternyata di dalam lingkungan pesantren itu menyenangkan juga," katanya.

Sementara itu Fasilitator Nasional Anti Perundungan dan Sahabat Karakter Puspepeka Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kusfitria Marstyasih menyampaikan, santri juga penting menyuarakan kampanye anti-bullying atau perundungan.

"Masyarakat umum juga perlu tahu kehidupan di pondok pesantren yang ternyata iklimnya juga nyaman dan juga cukup dinamis. Sehingga kepercayaan masyarakat juga tidak gampang ‘tergeser’ oleh stigma-stigma tertentu atau -- yang belakangan ini—muncul dan membuat ‘gerah’ masyarakat maupun warga pondok pesantren," tuturnya.

Ia menambahkan, pemahaman serta pengetahuan tentang perundungan juga penting disampaikan teman- teman di pondok pesantren. “Sebab hanya karena ketidaktahuan, kadang mereka juga tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukan perilaku perundungan,” jelasnya.

Ketika hal itu terus- menerus dilakukan dan tidak ada pengawasan dari orang- orang sekelilingnya di lingkungan pondok pesantren, juga dapat menjadi kebiasaan. Sehingga dapat mempengaruhi mental korban maupun pelakunya juga.

“Kalau tidak diawasi dan diberikan pemahaman bahwa mereka sedang melakukan perilaku bullying dampaknya bisa merugikan warga pesantren,” katanya.

Oleh sebab itu, siapa pun masyarakat atau pemerhati anak dan elemen yang lain, juga penting memberikan pemahaman melalui kampanye maupun sosialisasi anti-perundungan yang menyentuh pondok pesantren.

Menurutnya, forum maupun Kegiatan seperti yang digagas Akatara JSA menjadi penting dengan mengajak para santri ikut menyuarakan pesan- pesan kebaikan untuk masyarakat lain yang lebih luas, termasuk perundungan.

“Alih-alih hanya untuk mengisengi teman, maka akan lebih baik para santri membuat konten-konten kreatif dan positif guna ikut mengampanyekan antibullying atau konten lain yang lebih bermanfaat,” tandas Kiki, sapaan akrab Kusfitiria Marstyasih.

Sementara itu, Communication for Depelopment Officer UNICEF Indonesia, Emeralda Aisha berharap, para santri dapat memanfaatkan dengan baik kesempatan mengikuti workshop ini.

Ia juga menyebut, para santri dan pondok pesantren dapat memanfaatkan pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas, khususnya dalam menyebarkan pesan- pesan kebaikan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Sehingga pesantren akan berperan dan berkontribusi yang besar di era digitalisasi seperti sekarang ini, melalui penyajian konten- konten yang positif dan menarik,” tuturnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire