KSP pantau pembangunan sarana wisata Loh Buaya di Pulau Rinca, NTT
Elshinta
Kamis, 30 Desember 2021 - 10:31 WIB |
KSP pantau pembangunan sarana wisata Loh Buaya di Pulau Rinca, NTT
Dokumentasi - Seekor Komodo (Varanus komodoensis) berjalan di pinggir pantai Pulau Komodo, di Komplek Taman Nasional Komodo, NTT. FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf

Elshinta.com - Tim Kantor Staf Presiden memantau pembangunan sarana wisata Loh Buaya di Pulau Rinca, yang sempat diisukan akan dibangun menjadi taman wisata berkonsep "Jurassic Park", di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Tenaga Ahli Utama KSP Agung Rulianto dalam siaran pers yang diterima, di Jakarta, Kamis, menyampaikan sarana wisata di Loh Buaya tersebut sudah mendekati tahap akhir.

"Melihat penataan sarana di Pulau Rinca ternyata jauh dari kesan mewah. Tim KSP memantau, proses pembangunan sarana wisata Loh Buaya di Pulau Rinca sudah mendekati tahap akhir. Dari luas keseluruhan Pulau Rinca 20.000 hektare, pembangunan penataan sarana hanya berada di area 1,3 hektare. Itu pun berada di pinggir pulau dengan jarak 500 meter dari dermaga Loh Buaya, " jelasnya.

Tim KSP menyampaikan sebelumnya sebuah informasi sempat membuat heboh yakni Indonesia akan membangun Taman Jurassic di Taman Nasional Komodo. Selain menjadi perbincangan di kalangan pegiat lingkungan dalam negeri, informasi tersebut sempat menjadi konsumsi hingga di luar negeri.

Menurut Agung, kekhawatiran tersebut bisa dipahami, karena informasi itu diasosiasikan dengan film Jurassic Park yang sempat menjadi tontonan dalam deretan box office dunia.

Presiden Joko Widodo telah mencetuskan program wisata premium di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK) Nusa Tenggara Timur (NTT), pada akhir tahun lalu.

Pulau Rinca terletak di sebelah barat Flores dengan dipisahkan selat Molo. Memiliki luas 20.000 hektare, Pulau yang menjadi habitat alami Komodo ini merupakan pulau terbesar kedua di Taman Nasional Komodo, NTT.

Lebih dari separuh luas pulau Rinca merupakan sabana dengan sebaran hutan gugur terbuka dan mangrove.

Agung menyampaikan berdasarkan pantauan tim KSP, kondisi alam dari Dermaga Loh Buaya menuju taman wisata, terdapat elevated track setinggi rata-rata tiga meter dari tanah dengan pepohonan liar yang masih tumbuh di sekitarnya.

Tiga bangunan dengan desain tradisional juga ditempatkan layaknya rumah panggung.

"Selama berada di lokasi, belasan komodo berjemur santai di tanah. Satwa purba yang sudah ada sejak 3,5 juta tahun lalu itu tidak terganggu dengan kehadiran manusia. Hanya ada satu bangunan menjejak tanah yang digagas untuk museum, toilet, dan pengamatan langsung komodo dari jarak lebih dekat," jelas dia.

Yang menarik pembangunan sarana ini, kata dia, terlihat sangat memperhatikan kondisi layaknya habitat asli, di mana sebelumnya, pengunjung di Pulau Rinca harus melewati jalan setapak di tanah.

Sejumlah bangunan yang dulu dipakai untuk pos penjagaan dan tempat pengamatan bagi para ilmuwan, juga kini sudah dibongkar.

"Sarana yang dibangun saat ini, memberi ruang gerak lebih bebas pada komodo. Jalan setapak yang diubah menjadi elevated track, bakal mengurangi persimpangan langsung antara komodo dan manusia. Bangunan bagi staf taman nasional dan peneliti, sekarang dibuat melayang," ujarnya.

Menurut Agung, apa yang dikhawatirkan terkait pembangunan taman wisata di sana adalah persoalan disinformasi semata.

"Saya melihat ini masalah disinformasi ke publik. Informasi yang disebar dikaitkan dengan film Jurassic Park yang menggambarkan tragedi captivating animal, langsung membuat kesan horor. Padahal situasi disini, komodo, rusa, dan babi hutan bebas berkeliaran," tutur Agung.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo (TNK) Lukita Awang Nistyantara yang mendampingi selama kunjungan, menyebutkan bahwa sarana yang dibangun sengaja mengambil jalur yang tidak terdapat sarang komodo.

"Disini (Pulau Rinca) terdapat 1.300 Individu. Dari data kami 2002-2021 sejauh ini populasinya stabil," ucap Lukita.

Dia memastikan pembangunan sarana tidak berpengaruh pada menurunnya populasi komodo.

Lukita menambahkan, elevated track yang dibuat saat ini membuat pergerakan komodo lebih bebas dan tidak terganggu manusia. Sementara jika nanti ada wisatawan yang datang, jarak pandangnya akan lebih luas karena posisinya beberapa meter di atas tanah.

"Mereka bisa melihat komodo melintas di bawah kaki," kata Lukita.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Perindah kampung, Satgas Yonif 126/KC ajak masyarakat kerja bakti bersama
Jumat, 27 Mei 2022 - 16:11 WIB
Sebagai upaya menata lingkungan menjadi rapi dan bersih, Satgas Yonif 126/KC Pos Bompay mengajak war...
Penanaman 10 juta pohon aksi nyata revolusi mental pencegahan bencana
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:44 WIB
Beberapa tahun terakhir, kejadian bencana di Indonesia kebanyakan didominasi oleh bencana hidrometeo...
Forkopimda Aceh Tengah akan datakan konsesi getah pinus
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:26 WIB
Forkopimda Kabupaten Aceh Tengah mulai serius membahas penegakan hukum terhadap pemanfaatan dan peng...
Kali Cipanggilingan Subang dipenuhi sampah diduga buangan  TPA dan `home industry`
Senin, 23 Mei 2022 - 12:35 WIB
Warga Gg  Cendrawasih Rw 02 Subang, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat kaget dengan pem...
LKM bantu kurangi tingkat kekumuhan Kota Magelang
Minggu, 22 Mei 2022 - 20:34 WIB
Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang tersebar di kelurahan-kelurahan memiliki peran penting ter...
Bunga bangkai tumbuh di perkarangan rumah warga Pesisir Jambi
Minggu, 22 Mei 2022 - 16:13 WIB
Bunga Raflesia atau dikenal dengan bunga bangkai tumbuh di halaman rumah warga pesisir tepatnya RT 0...
DLHK sebut Sungai Bengkulu tercemar bakteri Escherichia Coli
Jumat, 20 Mei 2022 - 18:38 WIB
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu menyebutkan bahwa Sungai Bengkulu tela...
Tim KLHK tangani pembuangan limbah B3 di kawasan hutan Karawang
Kamis, 19 Mei 2022 - 15:40 WIB
Tim Direktorat Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah menangani pe...
Warga Pebayuran Bekasi minta tutup TPS ilegal
Selasa, 17 Mei 2022 - 15:19 WIB
Warga Kampung Kobak Rante, Desa Karang Reja, Kabupaten Bekasi meminta pemerintah daerah segera menut...
Pohon terbesar di dunia itu tumbuh di Agam
Senin, 16 Mei 2022 - 18:36 WIB
Sebatang pohon kayu medang (Litsea Sp) tumbuh terjaga di kawasan hutan rakyat di Jorong Ambacang, Na...
InfodariAnda (IdA)