Tanda kasih, Gubernur Jateng rehab rumah kader PDIP
Suryono (62), yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua PAC PDIP Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tidak menyangka bila ia dikunjungi orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Elshinta.com - Suryono (62), yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua PAC PDIP Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tidak menyangka bila ia dikunjungi orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Ganjar yang sedang melakukan perjalanan dinas ke Magelang sengaja mampir ke rumah Suryono. Dia mendapat informasi, Suryono tinggal di rumah yang tidak layak huni. Ganjar datang, untuk bersilaturahmi sekaligus ingin memberikan bantuan renovasi rumah kepada salah satu kader PDIP itu.
Rumah Suryono memang sangat sederhana. Rumah itu berukuran kecil, dengan lantai masih plester biasa. Tak ada perabot mewah di rumah itu. Hanya ada kursi dan meja kayu sederhana di ruang tamu.
Atap rumah Suryono juga banyak berlubang. Apalagi, di bagian dapur, kondisinya lebih mengenaskan. Dinding dan kayu penyangga rumah sudah keropos. Genting banyak yang berlubang dan bocor saat hujan.
Namun, dapur itu merupakan bagian favorit bagi Suryono. Di bagian dapur itu, terpajang bendera PDIP dengan ukuran sangat besar. Selain itu foto-foto tokoh PDIP juga dipajang di sana. Ada foto Soekarno, Megawati, Jokowi sampai Ganjar Pranowo.
"Lho ini kok besar sekali ini benderanya, keren ini. Wah ada foto-foto Pak Soekarno juga, ini Bu Megawati, Pak Jokowi. Ini foto tahun berapa ini? Sepertinya lama sekali ya? Ada foto saya sama Gus Yasin juga. Panjenengan kader militan berarti, Lak," kata Ganjar saat memasuki bagian belakang rumah Suryono.
"Saya kader PDIP sejak 1997 pak, sudah lama sekali," kata Suryono seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Sabtu (15/1).
Ganjar pun tersenyum melihat koleksi dan pernak-pernik PDIP milik Suryono. Koleksi itu semakin menegaskan bahwa Suryono kader sejati.
"Purun mboten omahe didandosi (mau nggak rumahnya diperbaiki). Kalau mau nanti saya bantu perbaiki. Tapi syaratnya, bangunnya harus pakai gotong royong. Sambatan," ucap Ganjar.
Dengan senang hati Suryono menerima tawaran bantuan itu. Bahkan saat Ganjar menanyakan kapan siap gotong royong memperbaiki rumah, Suryono mengatakan siap kapan saja.
"Siap Pak, kapan saja. Tinggal nunggu hari baik. Hari baiknya itu ya saat ada uangnya," canda Suryono yang membuat Ganjar terpingkal.
Saat itulah Ganjar melontarkan pertanyaan cukup menggelitik. Sambil bercanda, Ganjar menanyakan pada Suryono apakah ia keberatan jika video kunjungannya itu diupload di media sosial miliknya.
"Kersa mboten nek kula posting? Mengko nesu (nanti marah), terus bantuane dibalekke (kemudian bantuannya dikembalikan)," canda Ganjar.
"Mboten, Pak, kulo remen sanget kok dibantu (tidak dikembalikan pak, saya senang sekali dibantu)," jawab Suryono.
Ganjar menerangkan, sebenarnya tidak hanya kader PDIP yang menjadi sasaran dari program rehab rumah tidak layak huni. Semua masyarakat yang membutuhkan akan dibantu, karena Jateng sedang mengoptimalkan penanganan kemiskinan ekstrem.
"Hanya saja, karena ini lagi ulang tahun partai (PDIP), ternyata ada kok kader kita yang juga perlu dibantu. Saya hanya ingin mengapresiasi kawan-kawan kita yang sudah berjuang sangat luar biasa. Mudah-mudahan manfaat dan barokah. Ini tandha tresna (tanda kasih) dari saya," kata Ganjar.
"Nggak nyangka saya, mendapat berkah sekaligus. Didatangi Pak Ganjar, dibantu, senang sekali rasanya. Tadi cucu saya juga dikasih handphone," kata Suryono.
Rumah Suryono itu memang mendesak diperbaiki, karena selain sering bocor saat hujan turun, ia juga belum punya dana untuk memperbaiki lantaran terbatasnya penghasilannya sebagai buruh tani.