MemoRI 28 Januari
28 Januari 1844: Wafatnya pencetus Sistem Tanam Paksa, Johannes graaf van den Bosch
Elshinta
Penulis : Calista Aziza | Editor : Administrator
28 Januari 1844: Wafatnya pencetus Sistem Tanam Paksa, Johannes graaf van den Bosch
Potret Gubernur Jendral Hindia Belanda Johannes Graaf van den Bosch (1780-1844) dilukis oleh Raden Saleh pada 1811 ?1880. (Rijksmuseum)

Elshinta.com - Johannes van den Bosch adalah pencetus cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa. Ia merancang gagasannya menggunakan landasan yang sangat sederhana. Bosch mengganti bentuk setoran pajak tanah yang semula uang menjadi tanaman bernilai ekspor. Ia ingin mendorong petani agar lebih rajin bekerja dan menciptakan kemakmuran bagi dua pihak: Belanda dan para petani.

Namun, dalam kurun 40 tahun (1830-1870) sejak pertama kali diperkenalkan, Tanam Paksa berubah menjadi sistem paling kompleks yang menyisakan berbagai persoalan sosial. Pola kehidupan petani di perdesaan berubah total. Hasilnya adalah kemiskinan terstruktur. Sebaliknya bagi Belanda, sistem ini dianggap berhasil menjadi tambang emas.

 

Berakhirnya impian Bosch

Selama Perang Jawa (1825-1830), Raja William I berulang kali memerintahkan agar Jawa dijadikan sebagai sumber pemasukan negara. Berbagai macam usulan dibicarakan, tetapi tidak satupun dinilai bakal berhasil menutup kerugian Belanda pasca perang. Ketika Perang Jawa berakhir, Revolusi Belgia meletus dan meninggalkan Kerajaan Belanda yang terkatung-katung kekurangan uang.

Pada 1828, Bosch dipanggil oleh sang raja. Ia ditunjuk menjadi juru selamat dengan tugas mengisi kas kerajaan dari hasil eksploitasi Hindia Timur yang tidak lain adalah Jawa. Maka satu tahun setelahnya, sambil membawa rancangan Sistem Tanam Paksa, Bosch bertolak kembali ke Hindia Belanda sebagai Gubernur Jenderal dan tiba pada Januari 1830.

Eksploitasi sebenarnya bukan satu-satunya tujuan Bosch saat merancang Tanam Paksa. Ia malah menganggapnya ibarat institusi sosial untuk meningkatkan kemakmuran negara koloni. Bosch memimpikan sebuah sistem yang bebas dari liberalisme layaknya sistem buatan Raffles yang berkutat pada sewa dan pajak tanah.

Ia meyakini bahwa petani Jawa yang masih hidup dalam kemiskinan lebih baik dibebani jenis pajak yang tidak menghabiskan uang mereka. Jauh lebih mudah jika setiap desa menyerahkan seperlima tanah pertaniannya untuk ditanami tanaman ekspor. Banyak ahli yang menilai usulan Bosch itu tidak pernah dirumuskan secara tegas. Akibatnya, rancangan di atas kertas sangat berbeda jauh dengan pelaksanaannya.

Sepulangnya Bosch ke negeri Belanda pada 1834, musuh-musuh Bosch dari kelompok liberal berusaha mencampuri urusan Tanam Paksa. Sekitar tahun 1837, usulan berupa pembayaran upah langsung kepada petani sempat dipertimbangkan menjadi peraturan. Bosch spontan menentangnya, tapi segera menyadari bahwa dirinya tidak punya cukup kekuasaan lagi untuk memperbaiki sistem buatannya sendiri.

Pada akhirnya, Tanam Paksa hanya menjadi akhir dari angan-angan Bosch menciptakan koloni tanpa orang miskin.

Sumber: tirto.id

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jelang Demo 21 Mei, Ketua DPD minta DPR perhatikan aspirasi pengunjuk rasa
Sabtu, 21 Mei 2022 - 08:53 WIB
Elemen masyarakat rencananya akan menggelar aksi unjuk rasa memperingati hari reformasi pada Sabtu, ...
Anggota DPR duga ada oknum lawan kebijakan presiden soal minyak goreng
Sabtu, 21 Mei 2022 - 08:31 WIB
Anggota DPR RI Andre Rosiade menduga ada oknum yang sengaja melawan kebijakan presiden terkait ekspo...
21 Mei 1998: Soeharto mundur dari jabatannya
Sabtu, 21 Mei 2022 - 06:00 WIB
23 tahun lalu tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebaga...
DPRD Pasaman Barat panggil perusahaan terkait anjloknya harga sawit
Jumat, 20 Mei 2022 - 22:35 WIB
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, memanggil seluruh per...
La Nyalla ingatkan warga yang hendak demo 21 Mei waspadai provokator
Jumat, 20 Mei 2022 - 20:05 WIB
Bahkan, La Nyalla sudah ingatkan aparat kepolisian untuk tidak represif terhadap aksi-aksi penyampai...
Relawan minta Presiden Jokowi evaluasi kinerja menteri
Jumat, 20 Mei 2022 - 18:27 WIB
Relawan yang tergabung dalam `Trisakti For Jokowi` meminta Presiden Joko Widodo untuk melakukan eval...
Ganjar: Harkitnas jadi momentum kemandirian pascakrisis kesehatan
Jumat, 20 Mei 2022 - 13:59 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Tahu...
Survei: Anies bisa menang Pilpres jika berpasangan RK atau Sandiaga
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:54 WIB
Hasil survei dari Indo Survei menyatakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa memenangi Pemilu ...
Staf Ahli Menkopolhukam: Media harus ambil peran atasi hoaks
Jumat, 20 Mei 2022 - 10:58 WIB
Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolkam) Irjen Pol. Agung Mak...
PDIP Surabaya gelar Senam Sicita di 32 titik peringati Harkitnas
Kamis, 19 Mei 2022 - 18:23 WIB
DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya, Jawa Timur, akan menggelar Senam Ind...
InfodariAnda (IdA)