Tes PCR tak perlu dilakukan berulang kali

Elshinta
Rabu, 16 Februari 2022 - 20:35 WIB | Editor : Widodo | Sumber : Antara
Tes PCR tak perlu dilakukan berulang kali
Petugas Dinas Kesehatan mengambil sampel lendir hidung dan tenggorokan siswa yang kontak erat dengan siswa terkonfirmasi positif COVID-19 untuk dilakukan tes Swab PCR di SD Marsudirini, Solo, Jawa Tengah, Senin (7/2/2022). ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww.

Elshinta.com - DR. Dr. Lia Gardenia Partakusuma, Sp.PK(K), MM, MARS, FAMM, dari Kompartemen Litbang dan Health Technology Assesment (HTA) Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tes PCR berulang kali di laboratorium yang berbeda.

"Satu orang enggak yakin, hasilnya sudah positif tapi besoknya diperiksa lagi, diperiksa lagi. Padahal, kalau kita lihat laboratorium itu banyak sekali syaratnya, yang kita sebut sebagai standar mutu laboratorium," ujar Lia saat konferensi pers virtual, Rabu.

Hal pertama yang menjadi standar mutu laboratorium, kata Lia, adalah legalitas. Kedua, struktur organisasi. Ketiga, memiliki sarana dan prasarana yang mumpuni. Keempat, memiliki sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan apa yang akan dilakukan.

"Kalau dia mau PCR, artinya orangnya punya kompetensi untuk PCR, sudah dilatih. Kalau antigen, ya harus sudah dilatih untuk antigen," ujar Lia.

Kelima, Lia mengatakan laboratorium harus memiliki dokumen, termasuk dokumen mutu untuk memastikan hasil dari sebuah pemeriksaan.

"Gimana caranya dia tahu bahwa benar (hasilnya) positif atau negatif. Dia harus tahu, itu ada dokumennya," imbuh Lia.

Keenam, lanjut dia, persyaratan teknis seperti alat-alat laboratorium yang harus selalu dikalibrasi dengan baik. Ketujuh, harus ada orang yang melakukan verifikasi dari mulai metode hingga hasil pemeriksaan.

"Makanya kalau dilihat di lembar laboratoriumnya kan ada yang memverifikasi, ya. Mungkin diperiksanya sama analis, tapi ada dokter yang akan memvalidasi bahwa itu betul, karena bisa saja ada human error," ujar Lia.

Terakhir, kata Lia, laboratorium harus selalu melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dikerjakan. Ada dua yang harus dilakukan, yaitu quality control internal dan quality control eksternal. Bahkan jika ingin mendapatkan pengakuan, sebuah laboratorium bisa mengikuti akreditasi baik secara nasional maupun internasional.

Selain dari faktor analitik yang harus sesuai dengan standar tersebut, Lia mengatakan hasil dari tes laboratorium juga dapat dipengaruhi oleh faktor pra-analitik, yaitu saat pengambilan sampel, dan faktor pasca analitik, saat membuat laporan.

"Untuk masyarakat, jangan menguji PCR berulang-ulang ke laboratorium yang berganti-ganti. Bila hasil positif, segera isolasi mandiri atau berobat," tegas Lia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Gejala penyakit syaraf tidak boleh diabaikan kaum muda
Kamis, 09 Februari 2023 - 09:07 WIB

Gejala penyakit syaraf tidak boleh diabaikan kaum muda

Elshinta.com, Gejala penyakit saraf seperti sakit kepala, nyeri tengkuk, nyeri pinggang bawah, kesem...
Tips konsumsi obat yang aman untuk balita
Rabu, 08 Februari 2023 - 16:30 WIB

Tips konsumsi obat yang aman untuk balita

Elshinta.com, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengimbau masyarakat untuk lebih teliti dan ber...
Hasil uji dua lab independen nyatakan Praxion tak mengandung cemaran EG/DEG
Rabu, 08 Februari 2023 - 11:46 WIB

Hasil uji dua lab independen nyatakan Praxion tak mengandung cemaran EG/DEG

Elshinta.com, PT Pharos Indonesia pada Selasa (7/2) menyampaikan hasil uji ulang keamanan produk Pra...
 Pastikan mutu dan keamanan Praxion, PT Pharos Indonesia lakukan voluntary recall
Selasa, 07 Februari 2023 - 10:05 WIB

Pastikan mutu dan keamanan Praxion, PT Pharos Indonesia lakukan voluntary recall

Elshinta.com, Terkait pemberitaan mengenai pasien anak yang mengalami Gagal Ginjal Akut Progresif At...
Ahli jelaskan klaim jus jambu dapat obati DBD hanya mitos
Senin, 06 Februari 2023 - 22:47 WIB

Ahli jelaskan klaim jus jambu dapat obati DBD hanya mitos

Elshinta.com, Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) sekaligus spesialis anak dan konsu...
Virus campak dapat menular dengan cepat, perlukah lakukan isolasi?
Senin, 06 Februari 2023 - 20:59 WIB

Virus campak dapat menular dengan cepat, perlukah lakukan isolasi?

Elshinta.com, Penderita campak sebaiknya dirawat di ruang khusus atau melakukan isolasi agar tak men...
Dua pakar bedah plastik Kanada latih 40 dokter Indonesia operasi bibir sumbing
Sabtu, 04 Februari 2023 - 19:24 WIB

Dua pakar bedah plastik Kanada latih 40 dokter Indonesia operasi bibir sumbing

Elshinta.com, Pakar bedah plastik asal Canada, Dale Podolsky seorang Craniofacial and Cleft Surgery...
Danramil 1710-07/Mapurujaya beri bantuan untuk anak stunting di Mimika, Papua
Sabtu, 04 Februari 2023 - 16:07 WIB

Danramil 1710-07/Mapurujaya beri bantuan untuk anak stunting di Mimika, Papua

Elshinta.com, Untuk kesekian kalinya Danramil 1710-07/Mapurujaya Lettu Inf Yakonias Maniagasi melaks...
4 Langkah untuk hindari orang-orang `toxic`
Sabtu, 04 Februari 2023 - 14:11 WIB

4 Langkah untuk hindari orang-orang `toxic`

Elshinta.com, Orang-orang yang berpengaruh buruk atau dikenal sebagai toxic people dapat mempengar...
Manfaat Hyalucomplex-10 dan Panthenol untuk hidrasi kulit
Sabtu, 04 Februari 2023 - 09:15 WIB

Manfaat Hyalucomplex-10 dan Panthenol untuk hidrasi kulit

Elshinta.com, Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis dengan tingkat kelembapan udara ...

InfodariAnda (IdA)