Perajin tahu tempe berskala kecil gulung tikar
Ketua Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) Jawa Tengah Sutrisno Suprianto menyatakan, saat ini para perajin tahu tempe yang berproduksi 5 kilogram kedelai dalam sehari sudah gulung tikar karena naiknya harga kedelai.

Elshinta.com - Ketua Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) Jawa Tengah Sutrisno Suprianto menyatakan, saat ini para perajin tahu tempe yang berproduksi 5 kilogram kedelai dalam sehari sudah gulung tikar karena naiknya harga kedelai.
Para perajin tahu tempe berskala kecil lanjutnya, hanya mampu membeli kedelai dalam jumlah sedikit sehingga fluktuasi kedelai di pasaran membuat para perajin merugi. Menurut Sutrisno tuntutan perajin tahu tempe saat ini hanya ada dua, pertama dalam jangka waktu tiga bulan ke depan pemerintah diharapkan mampu menjaga ketersediaan kedelai di pasaran dan kedua kedelai stabil di kisaran Rp10 ribu rupiah per kilogram.
"Mengingat saat ini harga kedelai fluktuatif ini yang membuat perajin tahu tempe banyak yang merugi," jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Pranoto, Selasa (22/2).
Sedangkan untuk di Kota Salatiga Sutrisno mengharapkan ada subsidi harga kedelai seperti yang pernah dilakukan oleh Pemerintah Kota Salatiga tahun 2021 lalu dengan menggelar operasi pasar kedelai untuk kestabilan harga.
"Memang belum seluruh perajin tahu di Salatiga tergabung dalam Kopti namun kami sudah mengkomunikasinya untuk kebaikan dan kemajuan nasib perajin tahu dan tempe di tengah tingginya harga kedelai saat ini," tandasnya.