Protes hasil panen wortel tak laku dijual, puluhan petani di Boyolali datangi Dinas Ketahanan Pangan
Dengan menggunakan sejumlah mobil bak terbuka dan membawa sekitar 5 ton sayuran wortel hasil panen, sekitar 50 petani di lereng Merapi dan Merbabu, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mendatangi kantor ketahanan pangan setempat. Kedatangan para petani tersebut sebagai aksi protes atas tidak lakunya wortel petani di Selo.

Elshinta.com - Dengan menggunakan sejumlah mobil bak terbuka dan membawa sekitar 5 ton sayuran wortel hasil panen, sekitar 50 petani di lereng Merapi dan Merbabu, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mendatangi kantor ketahanan pangan setempat. Kedatangan para petani tersebut sebagai aksi protes atas tidak lakunya wortel petani di Selo.
Sekitar 5 ton wortel tersebut diobral dengan harga se ikhlasnya kepada para warga maupun para pegawai di kantor-kantor pemerintahan Kabupaten Boyolali. Bahkan siapa saja boleh ambil wortel tanpa harus membayar seikhlasnya.
Dalam orasi di depan kantor ketahanan pangan, orator menyerukan kepada masyarakat bahwa wortel dari para petani di Selo bisa tahan lama, berkualitas baik dan tak kalah dengan wortel impor. Namun pada kenyataannya wortel asal petani Selo tak laku dijual. Bahkan harga seribu rupiah per kilo saja tak ada yang beli. Justru pedagang lebih memilih wortel dari daerah lain yang masuk Jawa Tengah.
Hasil panen wortel petani di Kecamatan Selo, tak kalah kualitas dengan wortel asal daerah lain. Bahkan wortel asal lereng Merapi dan Merbabu ini lebih tahan lama berwarna cerah segar. Tapi kenapa para pedagang enggak mau beli wortel dari petani. Bahkan harganya pun sangat terjangkau.
"Justru yang lebih membuat petani menyesal, harga wortel milik petani hanya dihargai Rp1.000 - Rp1.500 per kilo gramnya. Itupun tak semua pedagang membelinya," kata salah satu petani asal Selo, Joko Purnomo seperti dilaporkan Kontributor Elshinta Sarwoto.
Menanggapi aksi dan keluhan para petani ini, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Boyolali, Joko mengatakan dalam waktu dekat pihaknya segera mengumpulkan sejumlah pihak, seperti camat, petani, tengkulak dan tokoh masyarakat untuk memecahkan permasalahan petani ini. "Hal ini guna membantu mengatasi permasalahan yang tengah di hadapi para petani," kata Joko.
Dari pantauan di lapangan, jalannya aksi para petani ini mendapatkan pengamanan dari pihak polres dengan maksud demi kelancaran kegiatan.