Top
Begin typing your search above and press return to search.

Satu lagi korban ledakan sumur minyak tradisional Aceh Timur meninggal dunia 

Junaidi (37) salah satu pasien korban ledakan sumur minyak tradisional Desa Matai, Kecamatan Ranto Perlak, Kabupaten  Aceh Timur yang menjalani perawatan intensif di ruang ICCU Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama 4 hari di ruang ICCU.

Satu lagi korban ledakan sumur minyak tradisional Aceh Timur meninggal dunia 
X
Sumber foto: Fitri Juliana/elshinta.com.

Elshinta.com - Junaidi (37) salah satu pasien korban ledakan sumur minyak tradisional Desa Matai, Kecamatan Ranto Perlak, Kabupaten Aceh Timur yang menjalani perawatan intensif di ruang ICCU Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama 4 hari di ruang ICCU. Hal tersebut disampaikan dr.Kulsum M.Ked (Ar),Sp.An,KnA. Kepala Bagian KSM Anastesi dan Terapis Intensif RSUD dr. Zainoel Abidin.

Korban meninggal dunia pada pukul 08.30 Wib di ruang ICCU dalam pengawasan dokter. Dan saat ini korban telah dijemput pihak keluarga dan dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Blang Barom, Kecamatan Rantau Perlak, Aceh Timur.

“Ia benar pasien atas nama Junaidi (37) meninggal dunia pukul 8.30 Wib di Ruang ICCU RSUZA. Kondisi pasien kritis dan sudah tidak dapat ditolong lagi. Obat-obatan untuk picu jantung sudah tidak bisa diberi lagi. Dan untuk pernafasannya kita bantu dengan ventilator,” jelas dr.Kulsum di ruang kerjanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fitri Juliana, Selasa (15/3).

Kulsum juga mengatakan saat dirujuk ke RSUZA Sabtu 12 Maret 2022 hingga hari terakhir, kondisi Junaidi dalam keadan diaknosa syok sepsis artinya sudah parah dimana reaksi dari tubuh itu sudah tidak bisa lagi ditolong dengan obat-obatan pacu jantung.

Kondisi yang sama juga dialami Boyhaqi (35) yang saat ini masih menjalani perawatan di ICCU usai dilakukan cuci luka kedua di Ruang Bedah RSUZA pada pukul 10.00.

“Pasien Junaidi dan Boyhaqi saat datang sampai di IGD sudah dilakukan inkubasi untuk menangani pernafasannya dan alat pacu jantungnya juga dilakukan. Dan cuci luka pertama juga sudah dilakukan di ruangan tindakan IGD. Namun saat dirawat di ruang ICCU kedua pasien diberi perawatan yang intensive karena kondisi pasien juga kritis, sehinga alat bantu pernafasan dengan ventilator dan obat-obat pemicu jantung terus diberi dalam pengawasan dokter dan tim medis ICCU,” jelas Kepala Bagian KSM Anastesi dan Terapis Intensif RSUD dr. Zainoel Abidin.

Dokter dan perawat yang menangani Junaidi dan Boyhaqi terus meng-update kondisi pasien saat masuk ke ICCU ke pihak keluarga sekecil apapun perkembangannya.

“Sejak penaganan di IGD Hinggga 4 hari sudah di ICCU kita terus memantau kondisi pasien secara intensif dan di-update (disampaikan) kepada keluarga perkembangannya setiap hari dan tindakan yang diambil dokter untuk pasien dengan persetujuan pihak keluarga,” jelas dr Kulsum.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire